Archive for April 2010
COVER TO POWER! (5): SOIL no. 1, by Kaneko Atsushi
Dengan segala kebesarannya (atau mungkin justru karena kebesarannya), industri komik/manga di Jepang terhitung kurang memerhatikan perkembangan seni sampul bagi komik-komiknya.
Seni sampul manga umumnya mengandalkan seni gambar saja –itu pun biasanya dengan kurang memerhatikan komposisi atau tatawarna. Kebanyakan manga hanya menggambarkan salah satu karakter yang diceritakan, kadang petikan adegan yang bertumpu pada reaksi si karakter itu, plus judul dan keterangan buku lainnya. Seni huruf dan desain halaman kurang diperhatikan.
Sampul komik seri Soil nomor 1 karya Kaneko Atsushi ini menjadi menonjol di mata saya, karena sampul ini dirancang penuh pertimbangan dan perhatian. Tentu saja gambar dalam sampul ini memang unggul, tapi gambar sebuah keluarga Jepang tipikal kelas menengah di perkotaan mereka yang tampaknya ideal dan gayeng ini, yang tampak sedang di foto dalam salah satu momen keseharian mereka, seperti menyimpan sesuatu. Suasana domestik pagi hari mencuat oleh detail ruangan yang kuat tanpa “berteriak”: minuman dan makanan cemilan di meja, dapur di belakang sana, foto-foto di dinding. Tapi, ada apa di balik semua itu? Mengapa saya merasa ada sesuatu di balik semua itu? Barangkali pewarnaan abu-abu yang memupur rata adegan ini?
Setelah membaca keterangan tentang komik ini (antara lain, di sini), dugaan saya dibenarkan: ini adalah sebuah cerita horor/fantasi, tentang misteri hilangnya sebuah keluarga yang tampak ideal dalam kehidupan keseharian mereka. Ah, saya ingin sekali membaca terjemahannya. Tapi, kalau saya ketemu manga-nya dalam bahasa Jepang pun, saya tak keberatan membelinya –seperti yang saya lakukan berkali-kali (walau saya kurang mendalami manga) terhadap beberapa judul manga yang telah membuat saya kepincut.
Satu lagi yang saya anggap sentuhan ciamik pada sampul komik ini adalah aksara judul berbahasa Inggris — “Soil“– yang dibuat putih transparan. Cerdas.
COVER TO POWER! (4): GARUDA MAS, Menghantjurkan Sarang Piring Terbang – King
Di tempat saya mengambil gambar sampul ini, blog “Sang Kolektor“, saya tak menemukan keterangan apa pun tentang komik ini, kecuali nama pengarang sekaligus (rupanya) penggambar (yang bernama “King”). Karena saya menikmati cover ini sebagai cover saja, maka saya tak apa dengan minimnya info tentang komik ini (saya bisa cari kelengkapannya kemudian).
Tentu saja, cover ini –tepatnya, tokoh jagoan bernama Garuda Mas itu– adalah comotan (rip off) dari Superman: jubah merah dan kostum biru, dengan pose terbang yang mirip sekali dengan ratusan atau ribuan pose terbang dalam komik-komik Superman yang digambar Wayne Boring atau Curt Swan. Toh gambar cover ini menyimpan nilai kekriyaannya sendiri: komposisi yang tepat dan kontras warna yang “norak” dan dengan mudah menarik perhatian calon pembaca, serta adegan dramatis –walau, yang aneh, tokoh utamanya kok memunggungi pembaca.
Yang terutama membuat saya jatuh suka adalah gambar naganya. Gambar naga itu mengingatkan saya pada komik-komik Zam Nuldyn yang fantastis, yang sering mengeksplorasi bentuk-bentuk naga secara kuat. Naga adalah makhluk mitis dalam dongeng-dongeng timur (khususnya, Cina) yang secara visual adalah sebuah bentuk stilisasi dari makhluk melata seperti ular, kadal, dan komodo. Sisik-sisik naga membuat penggambar naga mesti hati-hati dan telaten. Apalagi bagian wajah naga yang biasanya sangat “dekoratif”. Zam Nuldyn telah menggambar naga-naga fantasinya dalam tingkatan master yang mumpuni, sehingga bahkan makhluk yang sangat distilisasi itu bisa memiliki kesan tiga dimensi dan menggetarkan karena berhasil menerbitkan kesan keraksasaan yang efektif.
Gambar naga di sampul ini juga cukup efektif. Gambar gedung-gedung di belakang naga itu memberi kesan kekotaan adegan ini, sambil tampak sedikit ngartun karena penyederhanaan gambaran kota/pencakar langit yang hancur itu.
Judul di sampul ini memberi tanda bahwa komik ini terbit sebelum 1972, karena masih menulis “c” dengan “tj” dalam “Menghantjurkan”. Saya tersenyum membaca kalimat “Sarang Piring Terbang” di situ. Piring terbang kok punya “sarang”, memangnya burung?
COVER TO POWER! (3): AMERICAN SPLENDOR no. 1, by Robert Crumb
Salah satu seri terpenting dalam sejarah komik underground Amerika, seri American Splendor karya Harvey Pekar dan kawan-kawan. Kata “dan kawan-kawan” penting dalam seri ini, karena Harvey Pekar sama sekali tak bisa menggambar. Ia “hanya” punya cerita, dan insting yang bagus dalam menggunakan bahasa visual. Maka cerita-ceritanya selalu digambar oleh beragam penggambar.
Rekan penggambar yang pertama dari Pekar adalah Robert Crumb, yang pada saat itu (1976) telah jadi legenda besar di dunia komik underground Amerika, bahkan dunia. Harvey Pekar bilang, Crumb adalah salah seorang penggambar terbaik di dunia –dan itu tak berlebihan. Pekar sendiri dianggap Crumb salah seorang penulis cerita otobiografis terbaik dalam komik. Ini juga tak berlebihan.
Sejak nomor satu ini, terlihat ketajaman Pekar dalam (1) bertutur, (2) memberdayakan unsur-unsur komik. Salah satunya adalah bagaimana Pekar memberdayakan sampul sebagai salah satu halaman cerita satu halaman, yang berfungsi sekaligus menjadi etalase isi komiknya sendiri. Dalam American Splendor no. 1, fungsi “etalase” dan “one pager” itu sudah dilaksanakan. Banyak info berjejal di sampul ini: judul seri, nomor seri, harga komik ($1), jumlah halaman (“52″, ada di pojok kanan bawah), juga nama-nama seniman komik yang terlibat di nomor ini (di etalase jendela sebelah kiri pembaca). Bahkan sempatnya Pekar/Crumb menyisipkan keterangan “adult only” dan semacam monolog Crumb di pojok kiri atas yang menyatakan supaya calon pembeli jangan “tertipu”, karena Crumb hanya menggambar dua halaman saja di dalam nomor ini.
Satu lagi yang saya suka: desain dan pewarnaan, secara keseluruhan, gonjreng banget! Efektif untuk menyatakan diri bahwa “ini adalah komik”, sekaligus merebut perhatian (calon) pembaca.
COVER TO POWER! (2) MOLOTOV, Dari Jaka Tarub ke Parang Tritis
One of the best Indonesian comic’s cover ever!
Komik ini beredar pada 1998, berisi sebuah karya Pidi Baiq, Jaka Tarub (versi plesetan); dan karya Motulz yang gaya gambarnya beda dengan karya terkenal Motulz, Kapten Bandung.
Sampul mengandung gambar Pidi, cuplikan adegan Jaka Tarub. Yang sangat memikat adalah penerapan gaya dekoratif ala tempoe doeloe yang penuh pritilan, lengkap dengan kalimat “jadul” (jaman dulu, retro): “Mudah-mudahan Bermanfaat”.
Cover to Power! (1): PUNCAK COLMO LUNGMA, by Jan Mintaraga
The great Jan Mintaraga with a great psychedelic cover!
Kemungkinan besar karena rancang-sampul ini dibuat pada 1970-an, ketika lanskap psikedelik dan budaya-tanding kaum Hippies/Flower Generation masih hangat-hangatnya di kota-kota besar Indonesia, maka Jan melukisnya dengan gaya sangat psikedelik.
Komiknya sendiri sudah samar-samar saya ingat, saya belum membacanya lagi setelah dulu sekali (waktu SD) saya membacanya. Ini seri silat-fantasi yang ditulis dan digambar oleh Jan Mintaraga, dengan tokoh utama si sakti mandraguna Bayu.
Saya sebut komik ini silat-”fantasi”, karena memang ceritanya lebih condong ke dunia mitologis antah-berantah, di mana para tokohnya punya kesaktian dewa yang sangat fantastis (diungkapkan lewat sinar-sinar yang keluar dari tangan para pendekar-dewa itu). Nah, dengan demikian, gaya sampul ini tak meleset jauh dalam menggambarkan isi cerita komik di balik sampul itu.
Yang juga unik dari rancang-sampul ini adalah bagaimana Jan memberdayakan seni garis. Kelaziman masa itu, termasuk yang dipraktikkan oleh Jan, adalah memberdayakan seni cat/lukis dalam membuat sampul komik lokal. Di sini, Jan bermain-main dengan warna blok, tapi mendasarkan gambar figuratifnya pada garis yang dihasilkan sapuan kuasnya yang ekspresif-akademis.
Oh, dan rancangan aksara yang sedap di sampul ini juga jadi plus.
Sumber gambar: situsnya “Sang Kolektor”
ENEMY ACE: WAR IDYLL (DC Comics, 1990), by George Pratt
Each persons experience war personally, separately.
(George Pratt, melalui tokoh Hans Von Hammer)
Ada yang pernah menulis, setiap film perang hakikatnya adalah film antiperang. Mungkin begitu juga dengan komik. Walau, memang ada komik perang yang ditujukan untuk propaganda. Tapi, kisah-kisah perang mau tak mau bercerita tentang hidup di ambang maut, situasi-situasi ekstrem, keadaan-keadaan tak manusiawi, dan korban-korban. Kisah-kisah perang terbaik, mau tak mau, mengisahkan degilnya perang.
Komik ini, yang terbit di masa fajar industri “novel grafis” di Amerika sekaligus di masa kegandrungan DC dan Marvel menerbitkan komik-komik lukisan di sana, adalah salah satu kisah (anti)perang terbaik yang pernah dibuat oleh seniman komik Amerika. Tapi, Enemy Ace: War Idyll tak lahir dari ruang kosong. Ia dimulai pada 1965, dalam Our Army at War no. 151. Penulis dan editor komik-komik perang DC Comics yang legendaris, Bob Kanigher (juga mencipta Sgt. Rock), bersama Joe Kubert (juga partner Kanigher dalam Sgt. Rock), mencipta karakter tak lazim, Baron Hans von Hammer, pilot gagah berani Jerman pada Perang Dunia II.
Jelas tak lazim: ada komik Amerika, menokohkan dengan kagum dan hormat, seorang pilot “musuh”. Model kekisahan ironis perang yang melibatkan Amerika ini sudah dirintis oleh komik-komik perang terbitan EC Comics, 1950-an, dengan “dalang”-nya adalah Harvey Kurtzman. Misalnya, lewat seri Two Fisted Tales. Kanigher melanjutkan dengan baik tema ini pada masa yang cukup jauh dari Perang Dunia II, tapi semasa dengan kekalutan Perang Vietnam.
Penjajaran Perang Dunia II dan Perang Vietnam itu dengan optimal dijadikan dasar kekisahan komik yang ditulis dan dilukis oleh George Pratt ini. Di sebuah rumah jompo Jerman, 1969, Herr von Hammer yang telah uzur mendapat tamu seorang wartawan Amerika, Edward Mannock. Nyaris 75% komik ini berisi percakapan mereka berdua. Tapi, percakapan-percakapan itu tumbuh menjadi sebuah pertukaran kisah traumatis dari dua veteran perang. Mannock, ternyata, adalah seorang veteran Perang Vietnam, yang dihantui oleh mimpi buruknya sendiri.
Komik ini terbagi dalam enam babak, diselang-selingi oleh kutipan-kutipan evokatif tentang teror perang dari Rilke, Henry James, Kippling, dll. Seluruhnya divisualkan dalam bentuk lukisan bergaya impresif. Pratt memang adalah juga seorang pelukis yang cukup sukses. Beberapa kali ia mengadakan pameran tunggal lukisan-lukisan non-komiknya di galeri New York dan Huston, dan karya-karyanya dikoleksi oleh penggemar lukisan dari berbagai penjuru dunia. Di dalam komik ini, Pratt dengan sengaja melukiskan state of minds atau keadaan-pikiran dua veteran yang mampu bertahan menghadapi perang, dalam permainan warna yang fluid, cair, sekaligus penuh mood gelap.
Bahkan, dilihat dari cara/gaya Pratt menggarap rupa perang itu, terasa bahwa perang itu sendiri adalah state of minds. Perang adalah keadaan-pikiran yang tak dapat dipahami dengan mudah. Manusia dalam perang adalah manusia yang selalu hidup dalam dunia baying-bayang. Demikianlah Pratt melukiskan Von Hammer dan Mannock dalam dunia bayang-bayang itu. Wajah mereka tak pernah jelas, dunia mereka adalah palet warna-warna gelap. Kecuali di bab terakhir, ketika mereka tiba pada semacam resolusi.
Di antara dunia bayang-bayang yang impresif itu, Pratt menuliskan percakapan-percakapan tentang perang yang tajam, bahkan puitis. Dalam satu ketika, Mannock menggambarkan kesunyian yang ia alami sehabis kegaduhan desing peluru di terowongan lubang tikus Vietnam sebagai “it was the loudest silence I ever heard.” Kalimat ini pernah dipakai oleh Lionel McPherson, dalam tulisan berjudul The Loudest Silence Ever Heard: Black Conservatives in Media, di majalah Fair, 1992 (dua tahun setelah komik ini terbit). Dalam tulisan itu, McPherson hanya menuliskan ia mengutip ungkapan seorang kulit hitam yang ia dengar.
Memang, kalimat itu terasa akrab buat saya, entah saya baca/dengar di mana sebelumnya, saat saya membaca komik ini. Bukan berarti saya menganggap Pratt sedang menjiplak atau dijiplak. Tapi, buat saya, terasa benar bahwa percakapan-percakapan filosofis yang dibuat Pratt dalam cerita ini terasa karib, dekat, otentik. Jadi, sangat terkesan pada naskah komik ini. Pratt bukan hanya seorang pelukis. Ia adalah seorang yang sedang menyelami kegelapan perang, mencoba menangkap rupa dari jiwa-jiwa yang terjerat dalam perang dan mengungkapkannya dalam alkemi imaji dan kata (= “komik”).
Dan, begitu otentiknya telusur gagasan perang dan keksatriaan von Hammer dan Mannock ini, sehingga komik ini pernah masuk dalam daftar bacaan wajib para pelajar West Point –sekolah militer paling terkenal di Amerika. Bagi pembaca Amerika, komik ini, yang menjajarkan kegelapan Perang Dunia II (dari sudut pandang “musuh”) dan Perang Vietnam, pasti punya makna khusus.
Dalam Perang Dunia II, Amerika berperan sebagai protagonis. Dalam Perang Vietnam, mereka adalah antagonis. Bahkan, para prajurit Amerika di Vietnam diperlakukan sebagai pariah, pulang disambut caci-maki dan ludah. Pratt menangkap ironi itu, dan mengajak kita menukik lebih dalam lagi. Seorang Jerman yang begitu menghargai hidup –penghargaan yang menyebabkannya menjadi “Ace” (jawara) di udara, momok bagi tentara Sekutu– menghadapi kebimbangan yang sama dengan seorang Amerika yang selamat dari mimpi buruk Vietnam.
Mereka hanya melakukan tugas. Mereka berdua tak digerakkan oleh ideologi, atau patriotisme apa pun. Mereka terjebak dalam perang, dan dengan cara apapun mencoba bertahan hidup. Mereka keluar dari perang, tapi mereka tak pernah meninggalkan perang. Mereka jawara, ksatria, tapi pada akhirnya, bukan nasionalisme atau ideologi yang membuat mereka selamat dari perang.
Pada akhirnya, di lapangan, perang bukanlah pertempuran antarbangsa, tapi pengalaman individual. Setiap orang mengalami perang secara pribadi, kata von Hammer kepada Mannock. Horor perang selalu pribadi, dan mungkin baru berhenti setelah orang yang mengalaminya mati. ***







