On Everything Pop

komik, musik, film, TV, apa saja tentang budaya popular

Archive for January 2011

KOMIKKU (8): DUNIA RARA – 03

with one comment

Written by hikmatdarmawan

January 27, 2011 at 12:17 pm

KOMIKKU (7): DUNIA RARA – 02

with one comment

Written by hikmatdarmawan

January 27, 2011 at 12:15 pm

Posted in Komik

Tagged with , , ,

KOMIKKU (6): DUNIA RARA – 01

with one comment

Intro:

Pada 2005 atau 2006, saya lupa, Koran Tempo sempat mengontak Akademi Samali untuk menjadi mitra mengisi halaman komik yang sedang mereka rencanakan. Saya waktu itu masih aktif di Akademi Samali. Beng Rahardian kemudian membuat seri komik strip Si Lotif. Sementara Zaki, merasa kurang pe-de untuk membuat cerita komik, apalagi serial strip yang harus keluar setiap pekan. Saya pun waktu itu merasa perlu untuk membuat komik juga, jadi kami berembug dan menyimpulkan bahwa saya yang akan membuat cerita untuk digambar oleh Zarki. Nah, jadilah seri Dunia Rara. Saya kepingin mengajukan sebuah hubungan kekeluargaan modern yang tidak tipikal: pasangan cerai, dan punya anak. Rara adalah anak dari dua orang yang telah saling pisah. Saya mengambil model cerita ini dari sosok di dunia nyata yang sempat saya jumpai. Sayang sekali, seri ini hanya sanggup bertahan tak lama, sepenuhnya karena saya tak bisa setia menyumbang cerita. Pada dua nomor terakhir, Zarki membuat cerita sendiri, tapi dengan baik hati mencantumkan nama saya sebagai pengarang.

Oke. Posting berikut ini akan memuat tiga nomor awal Dunia Rara. Ini yang pertama:

Written by hikmatdarmawan

January 27, 2011 at 12:12 pm

Posted in Komik

Tagged with , , ,

REVIEW: A GOD SOMEWHERE

with 2 comments

This is a superhero story, and it’s not. But, what is obvious is this: the story of Sam, Eric, and Hugh (and Alma) will crawl inside you for days after you read the book.

It establishes the tone effectively in the first two pages: the dark fury night, an innocent child cries with blood in her forehead, and on the last panel, a mutilated body of her mom. The caption said, among other things: “…no matter who you are, no matter what you do, no matter what happens to you… you’re just another character in somebody else’s story…” And then, page two: the bright sunny day, a suburb real estate, an Afro-American guy, a blond dude, and a beautiful dark skinned woman. “Damn! Look at that ass,” said the black man. “Dude, come on.  That’s my brother’s wife.”

Only highly capable artist(s) can deliver this tone most effectively. The writing of John Arcudi (co-creator of The Mask) is very smart and real, the art of Peter Snejbjerg (The Light Brigade) is seamless, and the color by Bjarne Hansen is adding the nuanced narrative a proper mood. With not so many words or panels, we are introduced immediately the four main characters of this story (and of them not even in the page yet!). Meet Sam (the black man), Eric (the blond dude), Alma (the woman, obviously) and Hugh (Eric’s blond brother and Alma’s beloved husband).

The story than moves in a rather relax pace. The successful Hugh is persuaded to buy a boat with Sam and Eric. The little brotherly tension and buddy bonding later on, a hint of typical mid-life crisis, the usual life of the usual American. Until, that is, the explosion late that night.

Eric’s apartment blown by something unexplained. But Eric is safe. In fact, he is changed. His eyes hint something, as if he is mesmerized by something wonderful. And then we know: Eric has superpower. He can fly. He has super strength. He seems invulnerable. He is super. But is he a hero?

At first, yes. But those eyes grow something else. Eric believes that he was touched by miracle, and so his religiosity grows. He compares himself with Jesus. He obsessed with the betterment of the world. In particular, he wants to fix Hugh and Alma lives.

But religiosity always deals with darkness, and not many people who experienced religiosity so intense could survive this darkness intact. I think, that is one premise of this story. Eric’s “miracle” leads him to a certain kind of religiosity, an intense one, but soon it wasn’t satisfying for him anymore. What if he is not only God’s message? What if he is actually a God somewhere in the universe?

And what if God –Eric’s type of God– walk among human? For one thing, this story suggest, human loose their values in his eyes. He could do anything. Anything. Which means that no (human) morality could be applied to him. And so, the carnage begins.

Eric’s story and the devastating effect of his changes to his loved one are seen through the eyes of Sam. With Sam, we ask “Why? Why? Why?”

While this device of “seeing superhero from the ordinary human point of view” was often used before, particularly since the success of Marvels (Kurt Busiek and Alex Ross), this “angle” is used very effectively by Arcudi-Snejbejrg-Hansen for their purpose. The very graphic depiction of violence is effective also for their purpose, not just for the shock value (but please note: it is often shocking!).

And the purpose is this: to tell a very humane story, about a very humane question. And the question is this: what is our value? What is life’s value? It only wants to ask. It isn’t intended to give answer. But this comic does remind us that sometimes we need to ask that. ***

Written by hikmatdarmawan

January 24, 2011 at 12:11 pm

POJOK POP: BOSLEY

with one comment

Pada 1968, kritikus film New York Times, Bosley Crowther mengundurkan diri setelah menyaksikan film Bonnie & Clyde (sutradara: Arthur Penn). Ia mundur setelah bekerja selama beberapa dekade. Alasannya, setelah menyaksikan film itu, ia sadar bahwa ia tak lagi memahami sinema kontemporer.

Setidaknya, itu menurut salah satu versi. Tepatnya, menurut Alonso Duralde, dalam ulasannya tentang Gone With The Wind di msnbc.com.Versi lain tampak lebih pahit. Bosley boleh dibilang berkampanye kepada publik bahwa Bonnie & Clyde adalah film yang mengglorifikasi kekerasan dan tak patut dipuji. Ia menulis tiga ulasan negatif untuk film itu, lalu secara teratur mencaci film itu dalam ulasannya tentang film-film lain, plus sebuah jawaban sengit kepada surat pembaca yang menyayangkan penilaian Bosley.

Pada mulanya, Bosley tak sendiri. Para kritikus terkemuka mencela film itu ketika pertama kali akan menayangkannya ke publik. Studio Warner Bros. mulanya menarik kembali film itu. Tapi, angin berbalik arah, banyak kritikus yang kemudian memuji habis-habisan film tersebut. Stefan Kanfer menulis di Time ulasan yang menampik celaan yang sebelumnya dimuat di majalah itu. Pauline Kael dari New Yorker memuja film itu. Joseph Morgenstern menulis dua ulasan di Newsweek, yang pertama mencela dan yang kedua meminta maaf atas ulasan yang pertama.

Ketika dirilis ulang, Bonnie & Clyde mendapat sukses komersial maupun sukses di kalangan kritikus. Sebermula Studio Warner Bros. sangat tak yakin akan sukses film ini, sehingga lebih suka menawarkan bagi hasil 40% kepada produser sekaligus bintang utamanya, Warren Beatty, ketimbang memberi upah minimal dari posisi itu. Film ini terbukti akhirnya meraup penghasilan hingga 70 juta dollar Amerika.

Bosley kemudian terjebak oleh sikapnya yang gigih mencaci film itu. Ia sebetulnya bukan kritikus kacangan. Ia menulis dengan gaya sarjana, walau penanya seringkali tajam menusuk. Ia anti pada gerakan antikomunis Senator Joseph McCarthy yang membidik Hollywood. Ia sangat percaya pada keharusan sebuah film yang baik memiliki konteks sosial, juga sangat terganggu dengan patriotisme dangkal dalam beberapa film perang Amerika. Ia juga banyak mengenalkan sinema berbahasa asing, khususnya film-film Ingmar Bergman dan film-film Eropa lainnnya.

Tapi, Bosley juga dikenal banyak mencaci film-film asing yang ikonik. Misalnya, ia menganggap karya Akira Kurosawa, Throne of Blood (adaptasi dari Macbeth), sebagai buruk. Ia mencerca semua karya akhir David Lean yang oleh orang lain dianggap hebat, seperti Lawrence of Arabia. Ia juga berkomentar tentang karya terkenal Satyajit Ray, Pater Panchali, sebagai begitu buruk sehingga tak bakal lolos dari tahap rough cut (editing awal) di Hollywood. Dan ia juga tak suka Psycho karya Alfred Hitchcock.

Ketika konsensus akhir tentang Bonnie & Clyde adalah bahwa itu film bagus, dan ia (agaknya ditekan untuk) mundur dari posisi pengulas film tetap di The New York Times pada 1968, ia kemudian bilang bahwa ia tak paham lagi sinema kontemporer.

Tapi, apakah “sinema” atau “film”, sesungguhnya? Benarkah kita telah paham sepenuhnya makhluk modern ini?

André Bazin, dalam serangkaian esai yang diterbitkan pertama kali sebagai risalah pada 1959, kembali ke pertanyaan dasar ini pula: What is cinema? Ia memberi jawab yang berdasar filsafat, menapaktilas muasal ontologis film sebagai imaji fotografis. Lalu, sekarang ada Gilles Deleuze, yang lebih filosofis lagi, yang memandang sinema sebagai imaji-gerak dan imaji-waktu, dengan bahasan yang –percayalah– sangat abstrak dan bisa jadi membuat sebagian besar kita malah jadi kehilangan selera untuk menonton.

Tapi, Bazin atau Deleuze hanya indikasi saja, bahwa ada sesuatu yang selalu bergerak, menggeliat, menampik pengotakan-pengotakan, dalam dunia film. Sesuatu yang kadang mengganggu, tapi secara keseluruhan akan tampak menggairahkan, jika kita mau membuka mata kita lebar-lebar. Sesuatu yang bisa jadi akan membuat sebagian terdepak dari medan percakapan, seperti Bosley.

Sesuatu yang akan terasa saat kita tak memahami apa sih bagusnya film-film “aneh” macam Tropical Malady (Apitchatpong Weerasethakul, 2004), Love Conquers All (Tan Chui-mui, 2007), Stories from The North (Uruphong Raksasad, 2005), Opera Jawa (Garin Nugroho, 2006), atau Babi Buta Yang Ingin Terbang (Edwin, 2009). Dalam film-film semacam itu, terasa ada arus bawah yang deras, mendebarkan, yang menghanyutkan batas-batas sinematik yang pernah ada ke entah kemana.

Yang perlu kita lakukan demi kegairahan itu hanyalah menonton, dan melihat kemungkinan-kemungkinan. ***

 

 

Written by hikmatdarmawan

January 22, 2011 at 6:24 am

PANEL WISDOM: MIX IN, BUT DON’T TALK …YET!

with 3 comments

(Dari Out of This World no. 2, halaman 54)

 

Dalam sebuah situasi baru, asing, yang sama sekali tak kau tahu apa-apa, ada baiknya tak segera menarik perhatian sebelum paham benar situasi itu. Masuk saja, tak usah takut. Bercampur. Pakai baju yang tak terlalu menonjol, kalau bisa. Amati sekitar, walau sejenak. Orang macam apa yang ada di situ. Apa yang mereka bicarakan. Apa yang kau mau, dan bisakah kau mendapatkannya di situ? Bagaimana? Ada saatnya, dengan diam, kita mendapat banyak.

Tak usah menutupi ketaknyamananmu menghadapi suasana baru dengan banyak bicara. Simak dulu, baru bicara jika dibutuhkan. Kau orang baru, mereka (mungkin) wajah-wajah lama di situ. Ingat, di mana bumi kaupijak, di situ langit kaujunjung.

Mana bisa menjunjung langit, kalau kau tak mau tahu di mana kau berpijak?

Written by hikmatdarmawan

January 21, 2011 at 2:26 am

Posted in Komik, Rupa-rupa

Tagged with , , , ,

PANEL WISDOM: YES, WHAT IS IT…?

leave a comment »

(Dari komik strip Peanuts, 6/4/1960)

Dalam bahasa Inggris, ungkapan “Happy” bisa berarti “selamat”, atau “senang”. Lalu, orang pun lupa, apa kaitan antara “happy” dalam ucapan macam “happy week-end” dengan kata “happiness” atau “kebahagiaan”. Apakah “kebahagiaan” sama dengan “senang”, “asyik”, “gembira”, atau “selamat”? Mungkin, ya. Mungkin lebih dari itu. Tapi, mungkin juga yang penting adalah memetik jeda sejenak, dan bertanya, “Omong-omong, memang apa sih ‘bahagia’ itu?”

Betulkah kita tahu?

Written by hikmatdarmawan

January 21, 2011 at 1:43 am

Posted in Komik, Rupa-rupa

Tagged with , , , ,

KOMIKKU (5)

with one comment

Catatan kesebalan saya pada gejala sastra Indonesia kiwari, pada saat itu. Apakah keadaan sekarang sudah berubah? Tak tahulah. Tapi, saya pikir-pikir, apa saya perlu bikin satu “komik ngomel” tentang novel-novel “cinta religius” atau pantun-pantun politik? :D

Written by hikmatdarmawan

January 19, 2011 at 4:32 am

Posted in Komik

Tagged with ,

KOMIKKU (4)

with 4 comments

Catatan iseng saya lagi, sekadar dokumentasi…

Written by hikmatdarmawan

January 19, 2011 at 4:27 am

Posted in Komik

Tagged with ,

KOMIKKU (3)

leave a comment »

Ada saatnya, iseng-iseng saya jadi coretan macam begini…

Written by hikmatdarmawan

January 19, 2011 at 4:24 am

Posted in Komik

Tagged with ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,528 other followers