But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

Keseriusan dan Kebermainan

leave a comment »

Bisakah yang sakral, atau religiusitas, mengendarai humor dalam menemui manusia modern?

Milan Kundera, dalam Testament Betrayed, malah menegaskan bahwa humor adalah antitesa manusia modern atas agama. Humor, kelakar, olok-olok, memang mampu membuyar segala yang serius, menjungkir segala yang luhung, serta mencairkan yang serba tabu – dan kita tahu, agama kadung amat kental mengandung “segala yang serius”, “…yang luhung” dan “…serba tabu”.

Dengan kapasitas humor untuk menjungkir itu, tak heran jika manusia modern berkali-kali (bahkan hingga di tingkat sehari-hari) membidikkan humor ke jantung agama, ideologi, sistem, apa saja yang dianggap menghambat perkembangan humanisme umat manusia yang menjadi ideal modernisme.

Sungguh, ‘pertempuran’ paling menarik dalam budaya/peradaban modern kini adalah dialektika antara “keseriusan” dan “humor”, antara “tanggung jawab” dan “kenikmatan”, antara “makna” dan “kebahagiaan bermain(-main)”. Dan film adalah salah satu medan tempur yang seru.

*

Dialektika menarik antara keseriusan dan kebermainan tampak pada Men in Black (MIB) yang menjungkir segala keseriusan dunia X-Files.

Dunia X-Files rekaan Chris Carter adalah dunia tegang-obsesif, penuh konspirasi, sekaligus pekat dengan upaya pencarian “kebenaran” yang nyaris tanpa humor. Serba keajaiban yang terjadi dalam dunia itu disikapi tanpa keceriaan dongeng, tapi lebih dengan semacam, katakanlah, kemurungan realisme.

Dalam MIB, keseriusan agen Mulder dan Scully dirobek-robek. MIB membenarkan tanpa malu-malu tesis X-Files : benar, kontak dengan alien telah terjadi, bahkan mereka berkeliaran diam-diam di antara manusia; benar pula sebuah organisasi siluman yang amat kuat menutup-tutupinya dari masyarakat luas. Tokoh agen K (Tommy Lee Jones) dalam MIB mungkin adalah jenis agen yang selalu ‘mengerjai’ agen Mulder dalam X-Files – ia justru jadi protagonis MIB. Agen K sama seriusnya dengan agen Mulder, dan karena itu karakter agen K jadi amat satir.

MIB juga dengan seenaknya meledek realitas. Sumber informasi agen K ialah tabloid-tabloid kuning, sedang koran berwibawa macam Washington Post justru “payah”. Para registered aliens yang berkeliaran mencari nafkah di bumi, diantara mereka adalah Sylvester Stallone, Denis Rodman dan Arsenio Hall (juga Elvis). Dan dengan imajinatif, ukuran-ukuran astronomis (yang kalau dipikir, sebetulnya juga imajiner-teoritis) dibuyarkan: galaksi kita, menurut MIB, hanyalah sebutir kelereng yang sedang dimainkan oleh suatu makhluk entah apa.

Yang serius dipermainkan dan yang main-main diseriusi, itu cuma lapis awal dialektika keseriusan-kebermainan. Kalau mau lebih menukik, kita bisa bilang: dunia permainan adalah “taman mini” realitas; sedang realitas adalah panggung permainan maha besar. Ungkapan itu bisa dikonfirmasi mulai dari fenomena permainan kanak hingga studi-studi klasik dari Huizinga (tentang Homo Ludens), Geertz (tentang sabung ayam dan “negara teater” di Bali) dan karya-karya para posmodernis.

Dalam hal X-Files dan MIB, keduanya menunjukkan bahwa antara keseriusan dan kebermainan bisa bertemu, berseteru, untuk kemudian bersalaman, dan berseteru lagi. Dunia X-Files adalah teks yang kuat tentang kritik atas rasionalisme – ia percaya pada yang bukan ilmiah-alamiah, pada dunia liyan. MIB menggedor kritik itu dengan memparodikannya. Gedoran itu membuka ruang baru: para alien memang “aneh” tapi tak mesti “asing”, apalagi mengancam; dan konspirasi tak harus jahat. Dan seterusnya.

*

Keseriusan dalam dunia X-Files juga punya catatan tersendiri. Dalam dunia itu, sakralitas/religiusitas punya peluang hidup. Pada satu episode, misalnya, terkisah seorang anak titisan kristus yang diburu titisan iblis. Mulder yang biasanya amat terbuka pada kemungkinan paling gila malah bersikap agnostik dalam kasus itu. Sedang Scully yang biasa amat nalar justru jadi seorang believer. Dan di akhir cerita penonton mendapat ‘khutbah’ tentang, katakanlah, “hidayah”: betapa mukjizat hanya tampil pada orang tertentu saja yang siap untuk percaya.

Menarik: di jaman serba sekuler, ‘bocoran’ religiusitas hadir di jantung budaya pop. Anda juga bisa melihat ‘bocoran’ macam itu, misalnya, pada Face/Off . Konflik antara Sean Archer (Travolta/Cage) dan Castor Troy (Cage/Travolta) adalah oposisi antara pengabdian/tanggung jawab dengan kenikmatan melanggar aturan. Setting gereja di akhir adegan jadi latar simbolik yang jitu.

Cukup banyak contoh lain. Film-film Martin Scorcese, yang hampir selalu menutur tema kejatuhan manusia dan pengampunannya, bisa disebut. Atau seri Space: Above and Beyond yang kini diputar RCTI tiap Senin-Kamis tengah malam. Rata-rata film yang mengandung bocoran religiusitas itu terbangun dengan atmosfer keseriusan yang kental.

Apakah keseriusan satu-satunya pintu bagi religiusitas dan yang sakral dalam menerobos jaman sekuler, dalam menembus dinding budaya pop? Dengan kata lain, kita kembali ke pertanyaan awal: apakah religiusitas/yang sakral bisa memanfaatkan kebermainan, kelakar dan humor?

Jika kita melihat karya-karya Danarto, misalnya, tampak kebermainan bisa religius juga. Atau jika kita lihat betapa diskusi teologis menyelip di sela Pulp Fiction yang ialah guyon gila-gilaan Quentin Tarantino. Kebermainan, humor, bisa jadi kendaraan dakwah sang sakral.

Kebermainan dan humor akan menolak dengan mutlak keseriusan atau religiusitas jika kebermainan dan humor itu telah menjadi ideologi. Humor yang telah jadi ideologi akan cenderung narsistik dan merusak: semua hal mesti ditertawakan, tak boleh ada yang diseriusi! Dengan narsisme itu kita akan sukar merasa haru, dan merasa pengabdian, kesungguhan, adalah nonsen.

Mungkin soalnya adalah seni penempatan yang tepat. Keseriusan membuahkan makna, kebermainan membuahkan kenikmatan; agama cenderung memutlakkan, humor cenderung merelatifkan – kita butuh keduanya.

Misal, waktu Rasulullah bercanda, “Jika gunung tak mau mendatangi Muhammad, biar Muhammad yang mendatangi gunung,” ia telah merelatifkan wacana mukjizat, sekaligus menegaskan kemanusiaan risalahnya. Nabi yang sama juga menegakkan kebenaran agama dengan keras di Khaibar (dengan eksekusi kaum Yahudi).

Kuncinya: imbang. Jaman kini kita butuh sekaligus moral dan guyon, agama dan humor, keseriusan dan kebermainan. Modernisme yang hegemonik itu mesti digugat baik secara serius (seperti dicontohkan X-Files), maupun secara merelatifkan (seperti MIB).

Dan itulah kenapa dakwah lewat model film Fatahillah kalah menggugah dibanding X-Files dan MIB. Fatahillah terlalu verbal dan dua dimensi (datar). Ia tak memancing pemikiran serius, dan jelas tak punya humor. ***

(Pernah dimuat di Republika, 1997)

Written by hikmatdarmawan

February 3, 2010 at 11:33 am

Posted in Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: