But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

PESAWAT ANGKASA TAK BERMAKNA, Tentang Film Fiksi Ilmiah

with 3 comments

(Pernah dimuat di Media Indonesia, kalau tak salah, 1997 atau 1998)

Pesawat angkasa penjelajah bintang mungkin tak berarti banyak bagi seorang petani Jawa. Atau bagi seorang yuppies di Jakarta yang sedang stress menghadapi krisis moneter. Ia cuma fiksi ilmiah (science fiction) – artinya, cuma khayalan murah dan kekanakan. Ia cuma imajinasi: tak perlu dianggap serius.

Fiksi ilmiah ada di perbatasan budaya pop dan budaya “tinggi”. Ia mencoba menghadirkan yang tak (atau belum) mungkin, karena itu sering terasa fantastis. Maka ia menggelitik naluri kekanakan banyak orang – ia memanjakan daya khayal yang melambung tinggi – lalu menjadi komoditi. Tapi ia juga mesti tunduk pada semacam iman pada ilmu, pada sains dan teknologi. Ia bahkan anak dari semacam iman itu.

Toh di Indonesia, fiksi ilmiah sering lumpuh oleh jarak budaya antara karya dan khalayak. Peluang Lost in Space versi layar lebar laris di sini masih 50-50. Di Amerika, film tersebut sudah jadi gunjingan. Di sini masih belum tercium baunya sedikit pun (mungkin karena kita memang sedang asyik menggunjingkan “lost in prison” pada politik Indonesia yang lebih ajaib). Jika Lost in Space itu dipasarkan sebagai gaya hidup, macam Jurassic Park dan Independence Day, ia berpeluang laku. Jika tidak, ia akan ‘lewat’ begitu saja, macam Aliens Ressurection, Event Horizon, Starship Trooper dan Fifth Element.

Empat film yang disebut terakhir sebetulnya juga pas-pasan saja di pasar AS dan Eropa. Bedanya, keengganan pasar di AS dan Eropa lebih karena kebosanan. Genre film fiksi ilmiah telah sejak lama jadi formula laris Hollywood. Mereka jenuh karena telah terlalu banyak mengakrabi (film) fiksi ilmiah. Sedang pasar di Indonesia enggan karena memang canggung memamah genre tersebut.

Kasus film E.T., misalnya. Ketika dunia dilanda demam E.T. di tahun 1982-1983, para distributor film di Indonesia menolak mengimpor film tersebut. Takut tak laku, kata mereka. Pengalaman menunjukkan genre fiksi ilmiah di sini memiliki risiko rugi yang besar. Keruan saja kelas menengah kita (khususnya yang di Jakarta) yang telah terekspos demam E.T. jadi gemas. Hilang kesempatan mengalami sensasi menyaksikan keajaiban sang E.T. terbang dengan sepeda melintas bulan – keajaiban yang optimal dalam sebuah ruang gelap dengan layar lebar dan suara keras. Apalagi rupanya kine-klub pun tak menganggapnya sebagai karya “seni”, hingga enggan pula memutar.

Jarak budaya itu telah jadi hantu bagi film fiksi ilmiah. Patut dicatat bahwa sebetulnya film E.T. kemudian populer di rental-rental video. Sampai jaman VCD kini pun orang masih mencarinya untuk koleksi. Jika kita perhatikan, genre fiksi ilmiah yang dijauhi penonton di bioskop agaknya laris juga dalam bentuk video, VCD atau LD.

Lebih jelas lagi jika kita perhatikan film-film seri yang pernah diputar di televisi kita. Di tahun-tahun 1970-an dan 1980-an, di jaman TVRI, beberapa seri genre fiksi ilmiah cukup mengisi ruang pengalaman kolektif generasi tahun-tahun itu. Lost in Space yang kini dilayarlebarkan itu, misalnya. Cukup lama juga serinya setia tampil (dan ditonton) di TVRI.

Sementara film seri Planet of The Apes mungkin masih dikenang sebagian orang sebagai gunjingan masa kecil: betapa ajaib melihat kera-kera bicara dan menjajah manusia! Juga betapa asyik melihat Patrick Duffy berselaput jemarinya dalam Man From Atlantis ; betapa seru melihat kekuatan The Six Million Dollar Man atau Bionic Woman. Lalu seri-seri yang diproduseri Irwin Allen: Voyage to The Bottom of The Sea, Time Tunnel dan The Land of The Giant. Saking populernya seri-seri itu sampai sempat ada yang gatal mengeritik, menyebut seri-seri itu sebagai karya asal jadi dan khayalan yang tak logis. Tapi manakah yang lebih menggurat kenangan: keajaiban dari ‘sihir’ asal jadi itu atau kritiknya?

Dan kenapakah kita tampak lebih menerima sajian fiksi ilmiah di layar kaca ketimbang di layar bioskop?

Mungkin karena menonton fiksi ilmiah di televisi tak perlu upacara. Di bioskop kita harus membeli karcis – ‘paksaan’ pertama untuk memperhatikan film secara penuh. Di dalam bioskop, lampu mati, tempat duduk pasti, dan suara keras menelan bunyi-bunyi motor atau tukang jajanan di jalan yang kerap membuyarkan perhatian kita saat menonton di rumah. TV tak bisa terlalu memaku kita di depan layar (walau dibanding radio, TV jelas lebih meminta perhatian karena ia harus ditonton). Maka TV terasa tak terlalu serius. Kita bisa lebih rileks dikibuli – TV silahkan mengibul sepuasnya! Kalau di bioskop, nanti dulu. Buat apa susah payah untuk sebuah kibul?

Artinya, fiksi ilmiah tak lebih dari kibul yang menyenangkan. Ia terlalu ajaib untuk dianggap serius atau mungkin. Jadi dinikmati saja. (Bisa juga dicatat gejala bahwa biasanya yang menonton fiksi ilmiah adalah anak-anak atau remaja – merekalah yang gembira menyaksikan Mr. Spock dengan kuping baplangnya!)

Tentu saja itu generalisasi. Tapi tergambar jarak budaya antara penonton Indonesia dan fiksi ilmiah. Genre itu menjadi sama ajaibnya dengan klenik. Lepaskan segala baju ilmiah, segala istilah teknis yang bagi telinga kebanyakan kita bagai geramang mantra, maka mesin teleport dalam serial Star Trek yang bisa memindahkan suatu benda dengan menghilangkannya dan memunculkannya di tempat lain bisa tampak sama saja dengan santet yang mengirim jarum ke perut orang secara gaib.

Kita adalah bangsa yang belum terbiasa bermimpi teknologi tinggi. Tentu kita punya Pak Habibie. Kita juga punya para komikus muda yang gemar pada penokohan pahlawan super bersenjata canggih atau robot-robot. Atau para X-Philis (penggemar fanatik X-Files) dan Trekkies (penggemar fanatik Star Trek) Melayu. Tapi penggemar Tuyul dan Mbak Yul pun jauh lebih banyak.

Ibaratnya, seperti dengan jitu digambarkan oleh Peter Berger dalam Heretical Imperative , seorang petani yang melihat pesawat Garuda terbang nun jauh di atas langit. Petani itu hidup di alam agraris-tradisional. Para penumpang pesawat hidup di alam modern. Buat si petani, pesawat (teknologi modern) sama mitis, sama jauhnya, dengan burung Garuda dalam dongeng lama (yang jadi asal nama maskapai penerbangan kita). Ada senjang.

Yang jelas, fiksi ilmiah punya akar kuat di Barat. Bukannya belahan bumi lain tak punya tradisi fiksi ilmiah. Terhitung fiksi ilmiah pertama adalah Epik Gilgamesh (2000 SM) dari Babylon. Epik tersebut menceritakan pencarian pengetahuan sejati dan keabadian. Di dunia Islam juga terkenal kisah Hayy ibn Yaqzan karya Ibn Thufayl – uraian filsafat yang, antara lain, menyinggung metode ilmiah dalam bentuk dongeng.

Barat punya Daedulus – antara lain mengisahkan teknologi terbang – dari Yunani. Juga ada Lucian (kelahiran tanah Turki, menetap di Yunani) yang menulis True History dan mendongengkan perjalanan ke bulan. Kisah-kisah ajaib tanah asing, makhluk aneh dan perjalanan khayal mentradisi dalam peradaban Yunani-Romawi seterusnya. Genre cerita itu hidup kembali di abad 14 dalam kisah-kisah perjalanan karya Sir John Mandeville (nama samaran).

Tapi bukan pada kisah-kisah itu fiksi ilmiah modern mengakar. Fiksi ilmiah dapat diartikan sebagai penggunaan fiksi dalam media cetak, film, televisi dan media-media lain untuk menggambarkan akibat dari sains atau kejadian di masa depan pada kehidupan manusia; fiksi-ilmiah memperlakukan subyek tersebut secara rasional, baik dalam penjelasannya maupun dalam akibatnya (lihat Microsoft Encarta 96 Encylopedia ). Subyek cerita umumnya soal masa depan, perjalanan menembus ruang angkasa atau waktu, kehidupan di planet lain, krisis akibat teknologi atau makhluk asing, atau soal lingkungan hidup.

Fiksi ilmiah modern punya ciri khas: satu, ia populer; dua, ia mendasarkan diri pada sains dan teknologi modern. Dan keduanya lahir dari sebuah pergeseran. Berger, dalam Kabar Angin Dari Langit, menyebut pergeseran dari alam yang mengatasi manusia, sakral (dan kemudian lebih sering disebut tradisional) menuju alam (modern) yang bisa dikuasai manusia, alam teknologis. Morris Berman, dalam The Reenchantment of The World (1981), menyebut pergeseran dari alam yang mementingkan Mengapa ke alam yang mementingkan Bagaimana. Sang Mengapa di abad 20 tak lain adalah sang Bagaimana.

Kesadaran ilmiah modern, menurut Berman, lahir dari dua revolusi pemikiran: Discourse on Method (1637) dari Rene Descartes dan The New Organon dari Francis Bacon. Keduanya membidani kelahiran epistemologi yang kini bagai jadi bagian udara yang kita hirup sehari-hari. Bacon mengusulkan bahwa pengetahuan akan alam hanya bisa dipahami dalam kondisi yang artifisial, yaitu melalui eksperimen. Ia mengangkat teknologi ke tingkat filosofis: teknologi adalah kunci pengetahuan sejati.

Descartes sekilas beda dengan Bacon. Descartes menganjurkan rasionalisme, Bacon menganjurkan empirisme. Tapi keduanya saling mengisi. Dengan mengajukan matematika dan metode geometri sebagai kunci pengetahuan sejati, Descartes menegaskan kegiatan berpikir manusia sebagai murni mekanis. Dan itu cocok dengan metode Bacon yang memandang alam secara mekanis. terobosan keduanya jadi lebih menyengat lewat Newton dan Galileo. Newton dan Galileo mengaplikasikan secara fasih gagasan Bacon dan Descartes. Newton mengajukan fisika alam sebagai mesin. Galileo giat bereksperimen. Revolusi bergulir.

Ketika gagasan radikal itu jadi pengetahuan normal, imajinasi pun tak bisa lari. Khayalan ilmiah mulai merasuk dalam kesadaran populer. Teknologi media semakin membesarkan kegandrungan masyarakat Barat akan khayalan ilmiah. Betapa hebat sensasi serangan dari Mars dalam sandiwara radio The War of The Worlds (Orson Welles), sampai para pendengarnya panik karena menganggapnya sebagai kenyataan. Sungguh menakjubkan ketepatan khayalan-khayalan Jules Verne. Amat mengasyikkan melihat kerajaan teknologi hidup tak habis-habis dalam film-film Hollywood.

Fiksi ilmiah lantas mencakup mulai dari petualangan kekanakan ala Jules Verne, diskusi tentang iptek gaya Michael Crichton atau Arthur C. Clarke hingga gagasan-gagasan filosofis macam karya-karya Adlous Huxley (The Brave New World), Orwell (1984) dan Carl Sagan (Contact). Di layar lebar, fiksi ilmiah merentang dari petualangan (Flash Gordon), dongeng ( trilogi Star Wars, Close Encounters of The Third Kind dan E.T.), aksi-tegang (tetralogi Alien), filosofis (Contact, 2001: Space Odissey) hingga surealisme (Metropolis, Brazil). Fiksi ilmiah jadi ekspresi populer yang dengan pembenaran kapitalistik lantas dikomodifikasi. Bagaimanapun, fiksi ilmiah telah jadi keasyikan kolektif di Barat.

Tapi kesadaran ilmiah modern – termasuk anaknya, fiksi ilmiah – hadir terbata di dunia ketiga. Pretensi kemajuan linear telah sering dibongkar dalam konteks dunia ketiga, termasuk Indonesia. Yang modern hadir campur aduk dengan yang tradisional. Campuran yang seringkali aneh. Prasarana bisa amat modern, alam pikir tetap klenik. Mobil boleh mutakhir, hand phone selalu melekat di tangan, tapi takutnya setengah mati pada tuah kekuasaan “Bapak” (atasan).

Pendidikan pun tak terlalu menolong. Jangankan khayalan ilmiah, khayalan biasa pun sering dipenjara – dengan seragam, hafalan atau indoktrinasi. Pendidikan kita bukannya menumbuhkan kreativitas dan imajinasi, malah menumpulkannya.

Tapi apakah jarak kultural, yang dibaliknya ternyata ada jarak struktural juga itu, memang mesti disesali? Kita perlu mengubah “kelemahan” jadi “kekuatan”, “kekurangan” jadi “kelebihan”. Toh alam pikir modern, kesadaran ilmiah modern, sedang gencar digugat. Menggapai bintang-bintang tak mesti dengan pesawat  angkasa bukan? Bisa juga dengan sesuatu yang lain – yang magis, misalnya.

Mungkin tak apa jika kita tak punya tradisi fiksi ilmiah yang kuat. Apalagi jika itu malah membuka lebar peluang untuk membangun tradisi cerita yang lain. Misalnya, realisme magis.  Atau entah apa.

*

Written by hikmatdarmawan

February 3, 2010 at 4:09 pm

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Di-update referensi fiksi ilmiahnya dong, Pak. Sekarang kan sudah jamannya Star Trek reboot, Batman Begins/The Dark Knight Returns, dan tentu saja… Avatar. Trus koq gak ada sama sekali referensi ttg Orson Scott Card’s Ender’s Game sih? It’s one of the most influential science fiction out there.🙂

    Medski

    February 3, 2010 at 6:53 pm

    • Trims, Medski. Seperti saya cantumkan, itu memang tulisan lama. Saya tentu ingin meng-update soal sci-fi ini. Tapi, biasanya, saya mending meng-update dalam tulisan baru. Tulisan di atas adalah arsip, sekaligus catatan semasa.

      Cheers!

      hikmatdarmawan

      February 3, 2010 at 11:01 pm

  2. bagus artikelnya

    upjakarta

    July 27, 2010 at 3:29 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: