But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

DUA “TOP 13” TENTANG WOODY ALLEN

with one comment

Woody Allen bagi budaya Amerika adalah sebuah institusi. Saya kutip saja deh, sebuah episode seri Star Man (DC Comics) karya James Robinson & Tony Harris et. al. Tepatnya, Starman vol. 2 no. 34. Dalam sebuah adegan, Jack Knight, si Star Man, bilang bahwa setiap orang (Amerika) tahu film Woody Allen apa yang paling hebat …setiap orang tahu Annie Hall dan Manhattan, tapi tak selalu yang paling hebat itu yang paling disukai. Setiap orang punya pilihannya masing-masing. Jack sendiri suka Radio Days dan Broadway Danny Rose. Sentinel (the Original Green Lantern) suka Every One Says I Love You dan Hannah and Her Sisters. Jason Wordrue, The Floronic Man, suka Interiors. Ketika Batman bilang, dia bukan penonton film, dan tak punya film Allen favorit, Jack dan Sentinel takjub setengah mati. “Man, I don’t believe you. Every one has a favorite Woody Allen,” kata Jack.

Saya bukan orang Amerika. Tapi, entah kenapa, saya juga sangat menikmati film-film Allen. Mungkin karena saya menemukan persamaan pada neurosis Allen? Bahwa saya sama penggugup, orang canggung, dan pencemas, perennial loser, seperti Allen? Seorang tipe pemikir, yakni selalu mikirin nasib?🙂 Entahlah.

Kemarin malam, saya menonton Love and Death di saluran MGM. Saya mesem-mesem sepanjang film, karena saya takut jika tertawa terbahak saya akan kehilangan momen kelucuan. Ini film Allen dari periode ketika ia merancang agar nyaris di setiap adegan dan percakapan terdapat lelucon. Saat film selesai, ditutup dengan Boris (diperani Allen) menari-nari blo’on mengikuti Sang Maut, baru saya ketawa ngakak, beberapa menit, dan mengulum senyum sampai pagi, ketika saya akhirnya bersiap tidur.

Jadilah sekarang saya iseng, mengumpulkan dua daftar tentang Woody Allen.

TOP 13 BEST QUOTES FROM WOODY ALLEN’S MOVIES

1. “To you, I’m an atheist; to God, I’m the loyal opposition.” (Dalam Stardust Memory)

2. “I don’t want to achieve immortality through my works… I want to achieve it by not dying!” (Anehnya, saya tak ketemu di film apa kutipan ini ada… padahal, ini ungkapan Allen yang terhitung paling banyak dikutip. Kalau saya tak salah, ini ada di Everything You Want To Know About Sex* But Afraid To Ask)

3. “You want to do mankind a real service? Tell funnier jokes.” (Dalam Stardust Memory)

4. “If it turns out that there IS a God, I don’t think that He’s evil. I think that the worst you can say about Him is that basically He’s an underachiever.” (Dalam Love and Death)

5. “Yes, well, freedom is wonderful. On the other hand, if you’re dead, it’s a tremendous drawback to your sex life.” (Dalam Bananas)

6. “Hey, don’t knock masturbation! It’s sex with someone I love.” (Dalam Annie Hall)

7. “After that it got pretty late, and we both had to go, but it was great seeing Annie again. I… I realized what a terrific person she was, and… and how much fun it was just knowing her; and I… I, I thought of that old joke, y’know, the, this… this guy goes to a psychiatrist and says, ‘Doc, uh, my brother’s crazy; he thinks he’s a chicken.’ And, uh, the doctor says, ‘Well, why don’t you turn him in?’ The guy says, ‘I would, but I need the eggs.’ Well, I guess that’s pretty much now how I feel about relationships; y’know, they’re totally irrational, and crazy, and absurd, and… but, uh, I guess we keep goin’ through it because, uh, most of us… need the eggs.” (Dalam Annie Hall)

8. “Science is an intellectual dead end, you know? It’s a lot of little guys in tweed suits cutting up frogs on foundation grants.” (Dalam Sleeper)

9. Ellie: Our marriage wasn’t going anywhere.
Val: Where do you want it to go? Where do marriages go? After a while they just lay there. That’s the thing about marriages. (Dalam Hollywood Ending)

10. “To love is to suffer. To avoid suffering one must not love. But then one suffers from not loving. Therefore, to love is to suffer; not to love is to suffer; to suffer is to suffer. To be happy is to love. To be happy, then, is to suffer, but suffering makes one unhappy. Therefore, to be unhappy, one must love or love to suffer or suffer from too much happiness. I hope you’re getting this down.” (Dalam Love and Death)

11. “It’s just gossip, you know. Gossip is the new pornography.” (Dalam Manhattan)

12. “Tradition is the illusion of permanence.” (Dalam Deconstructing Harry)

13. “Last time I was inside a woman was when I visited the Statue of Liberty.” (Dalam Crime and Misdemeanor)

TOP 13 FILM WOODY ALLEN TERBAIK (ATAU, YANG PALING SAYA SUKAI …SEMUANYA KAN SUBJEKTIF, BUKAN?)*

1. Annie Hall (1977)
Sebuah “postmodern romantic comedy” –jika memang ada kategori itu. Penuh siasat visual yang sangat nyentrik bagi cerita (dan murah), termasuk menampilkan Marshall McLuhan dari balik pot dalam sebuah perdebatan di lobi bioskop. Terasa benar kedewasaan di balik segala lelucon gila film ini, terutama saat Woody dan Diane Keaton hendak memasak lobster dengan kacau, lalu ketika Woody mencoba mengulang “sihir” lobster itu dengan pacar barunya terasa lah betapa garing kejadian itu bila dengan orang lain.

2. Manhattan (1979)
Yang terutama mengesankan buat saya: fotografi hitam putih film ini. Dari gambar (yang kemudian jadi poster) ikonik bangku di tepi sungai, hingga kencan di planetarium, imaji-imaji kuat berseliweran dalam film yang sebetulnya dibuat murah ini.

3. Everything You Want To Know About Sex* But Afraid To Ask (1972)
Diangkat dari sebuah buku non-fiksi, diaduk jadi tujuh film pendek yang dengan sangat kreatif membengkokkan isi buku aslinya menjadi tujuh cerita bencana seks. Hebatnya, Allen juga berhasil memarodikan tujuh gaya visual berbeda-beda: gaya film Italia yang dandy, gaya film B bertema monster (dengan monsternya adalah payudara raksasa), film sci-fi (dengan Allen sebagai sperma yang siap melompat keluar bak penerjun payung, dan masih saja neurotik. Terakhir menontonnya lagi, saya malah takjub pada segmen Gene Wilder, sebagai seorang dokter hewan yang jatuh cinta secara romantis-parah pada seekor domba.

4. Stardust Memory (1980)
Salah satu temuan besar film ini: Sharon Stone, yang muda dan cantik sekali, sebagai seorang figuran, berperan jadi gadis di tepi jendela –dan jadi idealisasi kecantikan bagi Allen. Juga kalimat “tell funnier jokes”. Film ini sangat personal, tentang seorang sutradara komedi yang dianggap jenius tapi sedang kebingungan karena ide-idenya mentok, dan ia merasa tak bermakna. Dalam kebingungannya, ia menjalin cinta dengan tiga perempuan, lalu masuk ke dunia mimpi yang ajaib, termasuk berjumpa makhluk Mars yang memberinya nasihat terbaik bagi krisis kepercayaan dirinya.

5. Husbands and Wives (1992)
Jack dan Sally berpisah, dan pasangan sahabat mereka pun, Gabe dan Judy, mulai bertanya-tanya, apakah pernikahan mereka sendiri baik-baik saja. Ternyata tidak. Gabe (Woody Allen) bermain mata, dan akhirnya berselingkuh, dengan mahasiswinya. Judy (Mia Farrow) pun menemukan orang lain. Pada waktu bersamaan dengan film ini, pernikahan nyata antara Allen dan Farrow pun sedang buyar dengan sangat pahit (Allen terbukti memiliki hubungan dengan anak angkatnya, yang menyebabkan untuk waktu lama, Allen dianggap sebagai orang tua cabul). Apakah perpecahan nyata itu memberi energi lebih pada potret hubungan suami istri di ujung tanduk dalam film ini? Entahlah.

6. Hannah and Her Sisters (1986)
Kritikus film Roger Ebert menyebut film ini sebagai film sempurna, terbaik di antara karya-karya Allen lain. Entah kenapa, saya tak terlalu terbawa oleh film ini. Bukan berarti saya menganggap film ini buruk, jauh dari itu. Mungkin ini sekadar berarti saya belum setua Ebert.🙂 Seperti Interiors, film ini menampilkan karakter seniman tiga kakak-beradik yang penuh ketegangan neurotik. Film ini komedi, sekaligus tragedi. Saling silang percintaan antara ketiga kakak-beradik ini seperti drama Melrose Place, tapi pertempuran yang terjadi bukan hanya soal emosi dan perasaan. Jauh di dalam film ini, ada sebuah pertanyaan serius: kenapa manusia bisa bahagia, dan kenapa manusia bisa tak bahagia?

7. Love and Death (1974)
Parodi novel-novel besar Rusia. Dalam satu adegan, malah muncul percakapan yang sepenuhnya menggunakan judul-judul novel Dotyoyevsky. Cerita di zaman Napoleon ini langsung terasa nyentrik karena Woody Allen tetap menggunakan kaca mata tahun 1970-an yang biasa ia pakai, ketika ia jadi seorang baron Rusia pengecut di sini. Diane Keaton betul-betul edan dengan muka lempangnya (nan cantik) menyampaikan filsafat-filsafat blo’on yang ke-Rusia-Rusia-an.

8. Match Point (2005)
Saat saya menonton ini, saya sedang asyik menulis sebuah esai panjang tentang film horor, dan banyak menonton film horor untuk riset. Wah, malah film ini lebih menegangkan daripada kebanyakan film horor yang waktu itu sedang saya tonton! Ketegangan yang timbul dari persoalan etis sehubungan dengan pembunuhan, betapa setiap tindakan terasa menuju sebuah tragedy yang menjerat. Saya semakin ciut, ketika plot semakin maju. Di ujung film, kita ditampar oleh problematika moral sehubungan dengan penghilangan nyawa manusia, justru dalam keadaan ketika pembunuhan dalam film-film telah jadi komoditi yang tak pernah direnungi lagi.

9. Every One Says I Love You (1996)
Barangkali, film Allen yang paling menyenangkan. Susah buat saya untuk tak tersenyum sepanjang hari, setelah menonton film ini. Sebuah musical, dengan multiplot. Ada Ed Norton, Drew Barrymore, dan Julia Roberts sebagai seorang neurotik yang dikibuli oleh Allen sehingga mereka bisa saling berhubungan. Dua adegan yang paling berkesan: dansa di tepi sungai Seine, apalagi saat Roberts dan Allen tahu-tahu melayang di angkasa; dan adegan para hantu menari. Oh, juga adegan ciuman Drew.

10. Interiors (1978)
Sebuah homage buat film-film Bergman, Allen menceritakan kisah tiga perempuan yang diam-diam menyimpan api dalam sekam. Mereka berbakat dan bekerja di bidang kreatif, sebut saja mereka seniman. Mereka harus menghadapi perceraian kedua orang tua mereka yang telah lama menikah, dan ketika ayah mereka mengenalkan pacarnya, yang mereka anggap “vulgar”, mereka pun terpecah belah. Sebuah pameran seni peran paripurna, terutama oleh Geraldine Page sebagai sang mantan istri, dan Maureen Stepleton sebagai pacar baru.

11. Bullets Over Broadway (1994)
Bagi sebagian pengamat, John Cusack adalah aktor paling tepat untuk menggantikan Woody Allen dalam memerankan karakter yang biasa dimainkan Woody. Di film ini, Allen mencipta ulang sebuah dunia Broadway yang telah ditelan waktu: Broadway di era Jazz, dengan segala kegilaannya, plus gangster yang menitipkan simpanannya, seorang aktris yang luar biasa tak berbakat, untuk jadi bintang utama. Dilema moral sang seniman/penulis perlahan dikupas, dan kita menemukan bahwa punggawa seni yang utama di film ini malah seorang bodyguard, Cheech –seorang penonton yang tulus mencintai dunia tontonannya.

12. Small Time Crook (2000)
Pasangan culun yang diperani Woody Allen dan Tracy Ullman (di sini kocak banget, mampu menandingi Allen) berencana merampok bank. Untuk melaksanakan rencana, mereka menyamar dengan membuka toko kue, untuk menutupi penggalian lorong ke bank di sebelah mereka. Ndilalah, tokonya malah sukses besar! Nah, babak selanjutnya komedi ini pun tiba: sebagai orang kaya baru di New York, mereka perlu belajar bagaimana lebih “berbudaya”. Masuklah David (Hugh Grant) untuk melatih mereka. Selamat tertawa.

13. Vicky Cristina Barcelona (2008)
Eksplorasi cinta yang amoral, tapi sukar untuk tak jatuh cinta pada eksplorasi amoral ini. Apakah cinta, apakah romansa, di negeri yang panas oleh sensualitas seperti Spanyol? Di sini, sebagaimana juga dalam tradisi Amerika Latin, “yang sublim” adalah pula “yang tubuh”. Maka, hubungan seks yang menyimpang dari standar moral Barat, malah lebih terasa tulus dan total. Ah, tapi, siapa yang tahan dengan segala api itu? Bukankah takdir api adalah membakar? Silakan menikmati panas cinta di Barcelona. Apalagi, ini film yang dengan berhasil memunculkan ruh kota Barcelona, setelah Allen dalam beberapa dekade menjelajah ruh New York, plus ruh London dalam Scoop dan Match Point.

*) Plus, ini agak memalukan: sebagai “penggemar berat” Allen, belum semua filmnya sudah saya tonton.

YANG WAJIB KUTONTON, KALAU SUDAH KETEMU….
1. Sleeper
2. Banana
3. Purple Rose of Cairo
4. Zelig
5. Radio Days
6. Crime and Misdemeanor

Written by hikmatdarmawan

March 13, 2010 at 12:27 am

Posted in Film

Tagged with ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Stardust Memories! surat cinta Allen buat film 8 1/2 Fellini

    leonardfresly

    December 2, 2015 at 8:01 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: