But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

ENEMY ACE: WAR IDYLL (DC Comics, 1990), by George Pratt

leave a comment »

Each persons experience war personally, separately.

(George Pratt, melalui tokoh Hans Von Hammer)

Ada yang pernah menulis, setiap film perang hakikatnya adalah film antiperang. Mungkin begitu juga dengan komik. Walau, memang ada komik perang yang ditujukan untuk propaganda. Tapi, kisah-kisah perang mau tak mau bercerita tentang hidup di ambang maut, situasi-situasi ekstrem, keadaan-keadaan tak manusiawi, dan korban-korban. Kisah-kisah perang terbaik, mau tak mau, mengisahkan degilnya perang.

Komik ini, yang terbit di masa fajar industri “novel grafis” di Amerika sekaligus di masa kegandrungan DC dan Marvel menerbitkan komik-komik lukisan di sana, adalah salah satu kisah (anti)perang terbaik yang pernah dibuat oleh seniman komik Amerika. Tapi, Enemy Ace: War Idyll tak lahir dari ruang kosong. Ia dimulai pada 1965, dalam Our Army at War no. 151. Penulis dan editor komik-komik perang DC Comics yang legendaris, Bob Kanigher (juga mencipta Sgt. Rock), bersama Joe Kubert (juga partner Kanigher dalam Sgt. Rock), mencipta karakter tak lazim, Baron Hans von Hammer, pilot gagah berani Jerman pada Perang Dunia II.

Jelas tak lazim: ada komik Amerika, menokohkan dengan kagum dan hormat, seorang pilot “musuh”. Model kekisahan ironis perang yang melibatkan Amerika ini sudah dirintis oleh komik-komik perang terbitan EC Comics, 1950-an, dengan “dalang”-nya adalah Harvey Kurtzman. Misalnya, lewat seri Two Fisted Tales. Kanigher melanjutkan dengan baik tema ini pada masa yang cukup jauh dari Perang Dunia II, tapi semasa dengan kekalutan Perang Vietnam.

Penjajaran Perang Dunia II dan Perang Vietnam itu dengan optimal dijadikan dasar kekisahan komik yang ditulis dan dilukis oleh George Pratt ini. Di sebuah rumah jompo Jerman, 1969, Herr von Hammer yang telah uzur mendapat tamu seorang wartawan Amerika, Edward Mannock. Nyaris 75% komik ini berisi percakapan mereka berdua. Tapi, percakapan-percakapan itu tumbuh menjadi sebuah pertukaran kisah traumatis dari dua veteran perang. Mannock, ternyata, adalah seorang veteran Perang Vietnam, yang dihantui oleh mimpi buruknya sendiri.

Komik ini terbagi dalam enam babak, diselang-selingi oleh kutipan-kutipan evokatif tentang teror perang dari Rilke, Henry James, Kippling, dll. Seluruhnya divisualkan dalam bentuk lukisan bergaya impresif. Pratt memang adalah juga seorang pelukis yang cukup sukses. Beberapa kali ia mengadakan pameran tunggal lukisan-lukisan non-komiknya di galeri New York dan Huston, dan karya-karyanya dikoleksi oleh penggemar lukisan dari berbagai penjuru dunia. Di dalam komik ini, Pratt dengan sengaja melukiskan state of minds atau keadaan-pikiran dua veteran yang mampu bertahan menghadapi perang, dalam permainan warna yang fluid, cair, sekaligus penuh mood gelap.

Bahkan, dilihat dari cara/gaya Pratt menggarap rupa perang itu, terasa bahwa perang itu sendiri adalah state of minds. Perang adalah keadaan-pikiran yang tak dapat dipahami dengan mudah. Manusia dalam perang adalah manusia yang selalu hidup dalam dunia baying-bayang. Demikianlah Pratt melukiskan Von Hammer dan Mannock dalam dunia bayang-bayang itu. Wajah mereka tak pernah jelas, dunia mereka adalah palet warna-warna gelap. Kecuali di bab terakhir, ketika mereka tiba pada semacam resolusi.

Di antara dunia bayang-bayang yang impresif itu, Pratt menuliskan percakapan-percakapan tentang perang yang tajam, bahkan puitis. Dalam satu ketika, Mannock menggambarkan kesunyian yang ia alami sehabis kegaduhan desing peluru di terowongan lubang tikus Vietnam sebagai “it was the loudest silence I ever heard.” Kalimat ini pernah dipakai oleh Lionel McPherson, dalam tulisan berjudul The Loudest Silence Ever Heard: Black Conservatives in Media, di majalah Fair, 1992 (dua tahun setelah komik ini terbit). Dalam tulisan itu, McPherson hanya menuliskan ia mengutip ungkapan seorang kulit hitam yang ia dengar.

Memang, kalimat itu terasa akrab buat saya, entah saya baca/dengar di mana sebelumnya, saat saya membaca komik ini. Bukan berarti saya menganggap Pratt sedang menjiplak atau dijiplak. Tapi, buat saya, terasa benar bahwa percakapan-percakapan filosofis yang dibuat Pratt dalam cerita ini terasa karib, dekat, otentik. Jadi, sangat terkesan pada naskah komik ini. Pratt bukan hanya seorang pelukis. Ia adalah seorang yang sedang menyelami kegelapan perang, mencoba menangkap rupa dari jiwa-jiwa yang terjerat dalam perang dan mengungkapkannya dalam alkemi imaji dan kata (= “komik”).

Dan, begitu otentiknya telusur gagasan perang dan keksatriaan von Hammer dan Mannock ini, sehingga komik ini pernah masuk dalam daftar bacaan wajib para pelajar West Point –sekolah militer paling terkenal di Amerika. Bagi pembaca Amerika, komik ini, yang menjajarkan kegelapan Perang Dunia II (dari sudut pandang “musuh”) dan Perang Vietnam, pasti punya makna khusus.

Dalam Perang Dunia II, Amerika berperan sebagai protagonis. Dalam Perang Vietnam, mereka adalah antagonis. Bahkan, para prajurit Amerika di Vietnam diperlakukan sebagai pariah, pulang disambut caci-maki dan ludah. Pratt menangkap ironi itu, dan mengajak kita menukik lebih dalam lagi. Seorang Jerman yang begitu menghargai hidup –penghargaan yang menyebabkannya menjadi “Ace” (jawara) di udara, momok bagi tentara Sekutu– menghadapi kebimbangan yang sama dengan seorang Amerika yang selamat dari mimpi buruk Vietnam.

Mereka hanya melakukan tugas. Mereka berdua tak digerakkan oleh ideologi, atau patriotisme apa pun. Mereka terjebak dalam perang, dan dengan cara apapun mencoba bertahan hidup. Mereka keluar dari perang, tapi mereka tak pernah meninggalkan perang. Mereka jawara, ksatria, tapi pada akhirnya, bukan nasionalisme atau ideologi yang membuat mereka selamat dari perang.

Pada akhirnya, di lapangan, perang bukanlah pertempuran antarbangsa, tapi pengalaman individual. Setiap orang mengalami perang secara pribadi, kata von Hammer kepada Mannock. Horor perang selalu pribadi, dan mungkin baru berhenti setelah orang yang mengalaminya mati. ***

Written by hikmatdarmawan

April 4, 2010 at 4:18 pm

Posted in Komik

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: