But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

Ulasan STIKER KOTA: KOTA YANG MENGENDAP DI ARUS BAWAH

with 3 comments

Seperti seharusnya saya rutinkan, ini dokumentasi tulisan saya, ulasan pendek di majalah Visual Art.

Kita mungkin akan mesem-mesem sendiri, jika melihat stiker-stiker yang terkumpul dalam buku ini. Stiker-stiker ini mengandung permainan makna yang tak terduga, seringkali nakal, dan sangat beragam. Aneka kaligrafi Islam yang kalau diteliti barang sejenak, kadang ngaco teksnya. Aneka ikon yang kadang mengherankan kok bisa menyelusup ke pojok-pojok miskin kota, seperti: Che Guevara, Bob Marley, Spiderman, Donald Bebek dan Winnie The Pooh, dan grup metal. Atau, ikon yang diplesetkan, seperti Benyamin S. yang digrafiskan jadi mirip Che.

Juga: aneka ucapan, kalimat, kata mutiara, petuah, peringatan, yang jika dilihat keseluruhan, bisa membuat para ahli sekali pun kewalahan menangkap pola di situ dan mengategorikannya. Misalkan stiker bertulis ”Bebas Tapi Sopan” atau ”Sopan Santun Harap Dipakai” bisa bersanding di jalan dengan stiker bertulis saru macam ”ABG: Atas Bawah Ginux-ginux” atau ”Wanted: tanabe, Tante Nakal Berduit”. Stiker ”Ardath: Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil” dijual bareng stiker ”Maksiat Ingat Adzab…”

Kadang ada pernyataan lempang macam headline koran Lampu Merah seperti: ”Pergi Pagi. Pulang Petang. Penghasilan Pas-pasan. Malah Nombok. Dasar Apes.” Tak kurang-kurangnya stiker penuh sentilan atau humoristik. Seperti: ”Yang Cakep Duduk Dimuka (Dekat mas sopir)”, ”D 160 DA JANDA”, ”Sahabatmu Adalah Selingkuhanmu”, atau ”Cintamu Tak Semurni Bensinku”.

Bahkan ada yang tak bisa ditangkap apa maknanya: ”Yang Gila Tidak Mendapatkan Rasa Protes.” (Halaman 155) Cobalah Anda mengartikannya, dan selamat bingung!

Tim litbang ruangrupa yang telah bekerja keras mengumpulkan 5000-an stiker kota dan menyelidiki sumber produksi stiker-stiker ini, mengakui juga kebingungan itu. Dalam diskusi peluncuran buku ini, tim mengakui pada akhirnya memilih kategorisasi yang sangat cair –walau kemudian disayangkan sebagian pengamat seperti Lisa Bona (Kineforum) dan Ugoran Prasad (aktivis teater) kenapa kategori cair itu pun tak disertai pertanggungjawaban.

Buku ini memuat hanya sekitar 1700-an stiker dari koleksi mereka, dibagi menjadi 40 kategori, dari ”Keindonesiaan”, ”Aparat”, hingga ”Flora”, ”Fauna”, ”Wanita & Erotisme”, ”Playboy”, bahkan yang sangat spesifik seperti ”Hitler” atau ”Bob Marley”. Untuk jenis stiker teks saja, ada beberapa kategori lagi, yakni: ”Teks klasik”, ”Teks warning”, ”Teks caution”, dan ”Teks Amanat”.

Memang, kalau melihat sekilas saja, kategori-kategori ini tampak terlalu ”eklektik”, bahkan nyaris ”suka-suka”. Agaknya, ada keengganan tersendiri dari tim ruangrupa untuk memilah kategori yang ketat bagi stiker-stiker ini. Semacam kecemasan akan menghilangkan kekayaan teks budaya jika semua stiker itu dikungkung dalam sebuah taksonomi.

Kecemasan itu ada benarnya, tapi pilihan kategorisasi yang terlalu cair juga berisiko mengurangi ketajaman pemaknaan kita atas stiker-stiker itu. Untungnya, stiker-stiker itu bisa bicara sendiri, tentang impian-impian orang kota yang terpendam di arus bawah masyarakat kita. Buku ini seperti pintu untuk memasuki ranah studi budaya lebih lanjut atas stiker-stiker kota yang ”kampungan” itu. Semiotika, Etnografi, mungkin juga sejarah atau perbandingan senirupa, akan menemukan banyak sekali peluang studi lanjutan dari buku ini.

Pengantar dari tim juga dengan bagus menangkap pesan-pesan penting stiker kota, seperti: ”Hidupku di Tangan-Mu Tuhan”, ”Bebas Tapi Sopan”, ”Tampak Jelek Tapi Bonafide”, dan ”Biar Jadul n Ngebul Tapi Gaul”. Ini adalah sederet pesan yang menyiratkan sebuah hasrat dan impian orang kota. Ada hasrat untuk bertahan hidup, dengan mengaitkan dengan kepasrahan pada Tuhan di situ. Ada hasrat pergaulan dan tatakrama. Ada hasrat akan posisi sosial (”penampilan”), juga hasrat yang tak terlalu jelas tentang orang kota yang kosmopolit dan ”gaul”.

Uniknya, hasrat kekotaan itu ternyata diproduksi di desa. Tim ruangrupa, khususnya Ugeng dan Ardi, berhasil menemukan produsen paling awal stiker-stiker kota (nama yang disematkan oleh tim ini), yakni AMP, milik Bapak Kusnadi dan istrinya, Ibu Pujowati. Mereka ada di Desa Pakisaji, Malang, dan telah memulai usaha rumahan mereka sejak 1977. Bagaimana impian dan hasrat kota diproduksi di desa, sungguh ironi yang menarik!

Tentu saja, stiker-stiker murah AMP, mengilhami produsen-produsen stiker lain yang ”lebih kota”. Tapi, stiker-stiker yang dibuat belakangan, tampak merupakan pelesetan lebih berani dari pakem stiker AMP. Lebih saru, kadang porno dan kasar, dengan selera humor yang telah berubah: mengetawai stiker-stiker pendahulu mereka.

Semua itu menghias jalanan kota, dinding-dinding bangunan murah di gang-gang metropolitan, atau di berbagai atribut identitas orang-orang kebanyakan di kota. Membuat kota, khususnya Jakarta, terasa meriah oleh guyon-guyon senirupa dalam stiker-stiker itu. Jakarta boleh penuh sikut-sikutan, tapi, kata sebuah stiker, ”Dilarang Sakit Hati”.

Daripada sakit hati, mending menempel stiker (atau membeli buku ini) dan mesem-mesem sendiri. ***

Stiker Kota
Oleh: Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan, Mirwan Andan
Penerbit: ruangrupa, Divisi Penelitian & Pengembangan, 2008

Written by hikmatdarmawan

November 11, 2010 at 8:28 am

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. “pertanggung-jawaban”… hmmm keyword sastra 70-80an nih… kalo saya sih mikir apa yang sesungguhnya “argumen” tim ruru dalam membuat riset ini? Kalo bicara argumen maka kemudian kita harus menentukan siapa yang akan diajak berdialog? How do we situate this book into a particular conversation? Misalnya saja percapakan mengenai media dan urbanity, bahwa tipikal statement yang sering diajukan adalah media as a form of escapism. Lantas, apa argumen yang bisa ajukan dalam percakapan mengenai itu? Temuan apa dr praktek explorasi ini yang bisa memberikan kontribusi to extend the conversation on media and urbanity?

    Aryo Danusiri

    July 12, 2011 at 2:25 am

  2. salah satu buku penting dalam khasanah urban studies di indonesia.

    Ragam Lab

    July 12, 2011 at 2:27 am

  3. […] saat ini kita belum berhasil menemukan sosok sebenernya dibalik stiker-stiker ini. Tapi, menurut Hikmat Darmawan yang sempat mengulas buku “Stiker Kota”, terbitan tim litbang ruangrupa tahun 2008 (oleh: Ugeng T. Moetidjo, Ardi Yunanto, Ade Darmawan, […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: