But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

SECANGKIR SASTRA: LEBIH HEBAT DARI CINTA

leave a comment »

O, para pencinta, waspadalah selama hari-hari pertama yang penuh bahaya itu! Jika kamu menyiapkan sarapan pasanganmu di ranjang, kamu akan diwajibkan untuk meneruskannya selama-lamanya atau dituduh membenci dan berkhianat! (Milan Kundera)

Marketa tiba-tiba menyadari bahwa dalam percintaan pun ada serangkaian kontrak “…yang tercetak dalam huruf-huruf halus”. Hubungan suami-istri adalah yang terberat. Sesuatu yang tak mungkin harus dilakukan — lebih buruk lagi, ia harus jadi kebiasaan: membagi dua hidup, setiap saat, selamanya. Ya, kebiasaan adalah lebih hebat dari cinta.

Keadaan yang biasa kita kenal sebagai “majenun”, gila karena cinta, selalu sesaat. Atau si pengidap majenun mati karena kegilaannya; atau — ini lebih banyak terjadi — si gila tiba-tiba berpijak ke bumi (ia memang tak mungkin terus berjalan di awan), menjalani hari demi hari sebagai si normal. Itulah yang disadari Marketa sedang terjadi antara dirinya dan Karel, suaminya.

Apakah ia benar-benar secemburu itu?

Dulu memang pernah. Ya, waktu mereka pertama jatuh cinta. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini, apa yang ia rasakan sebagai kecemburuan sebenarnya hanyalah kebiasaan.

Kontrak telah ditulis, “…terburu-buru disetujui oleh para pencinta selama pekan-pekan pertama percintaan mereka.” Dalam hal Marketa dan Karel, tersepakati bahwa Karel akan tidak setia dan Marketa akan pasrah.

Milan Kundera, yang mengisahkan Marketa dan Karel dalam bab dua Kitab Lupa dan Ketawa, seperti tak memberi jalan keluar. Di akhir novelnya yang lain, Unbearable Lightness Of Being, Kundera seakan berkata bahwa dalam waktu, dalam pelampauan kebiasaan-kebiasaan dan segala pemberontakan terhadapnya, ketika seseorang menua, dan telah nyata bahwa nasib tak bisa dilawan, barulah ia dapat tiba pada cinta yang lebih hebat dari kebiasaan: penerimaan.

Tapi ada cerita lain. Seorang sufi selalu menutup malam dengan menggauli istrinya, dan bertanya ‘apakah kamu bahagia?’, dan istrinya menjawab ‘ya’, terus demikian hingga puluhan tahun, hingga akhir hayat mereka. Seorang lain shalat lima waktu semenjak baligh hingga lahat — ia tak jemu, tak mengeluh, tak kecewa, malah bahagia. Palsukah kebahagiaan mereka? Bodohkah?

Jangan-jangan pemberontakan pada kebiasaan adalah sungguh khas manusia modern — ada juga kebiasaan, rutinitas, yang tak menguapkan cinta.

Juli, 2000

(Buku Kitab Lupa Dan Ketawa terbitan Bentang, 2000. Edisi bahasa Inggrisnya, dan buku Unbearable Lightness Of Being, bisa didapat di toko Kinokuniya, Plaza Senayan lt. 3, dan toko Aksara. Semua di Jakarta, saya belum mendapat kabar lagi bagaimana dengan kota lain.)

Written by hikmatdarmawan

December 30, 2010 at 7:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: