But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

POJOK POP: BOSLEY

with one comment

Pada 1968, kritikus film New York Times, Bosley Crowther mengundurkan diri setelah menyaksikan film Bonnie & Clyde (sutradara: Arthur Penn). Ia mundur setelah bekerja selama beberapa dekade. Alasannya, setelah menyaksikan film itu, ia sadar bahwa ia tak lagi memahami sinema kontemporer.

Setidaknya, itu menurut salah satu versi. Tepatnya, menurut Alonso Duralde, dalam ulasannya tentang Gone With The Wind di msnbc.com.Versi lain tampak lebih pahit. Bosley boleh dibilang berkampanye kepada publik bahwa Bonnie & Clyde adalah film yang mengglorifikasi kekerasan dan tak patut dipuji. Ia menulis tiga ulasan negatif untuk film itu, lalu secara teratur mencaci film itu dalam ulasannya tentang film-film lain, plus sebuah jawaban sengit kepada surat pembaca yang menyayangkan penilaian Bosley.

Pada mulanya, Bosley tak sendiri. Para kritikus terkemuka mencela film itu ketika pertama kali akan menayangkannya ke publik. Studio Warner Bros. mulanya menarik kembali film itu. Tapi, angin berbalik arah, banyak kritikus yang kemudian memuji habis-habisan film tersebut. Stefan Kanfer menulis di Time ulasan yang menampik celaan yang sebelumnya dimuat di majalah itu. Pauline Kael dari New Yorker memuja film itu. Joseph Morgenstern menulis dua ulasan di Newsweek, yang pertama mencela dan yang kedua meminta maaf atas ulasan yang pertama.

Ketika dirilis ulang, Bonnie & Clyde mendapat sukses komersial maupun sukses di kalangan kritikus. Sebermula Studio Warner Bros. sangat tak yakin akan sukses film ini, sehingga lebih suka menawarkan bagi hasil 40% kepada produser sekaligus bintang utamanya, Warren Beatty, ketimbang memberi upah minimal dari posisi itu. Film ini terbukti akhirnya meraup penghasilan hingga 70 juta dollar Amerika.

Bosley kemudian terjebak oleh sikapnya yang gigih mencaci film itu. Ia sebetulnya bukan kritikus kacangan. Ia menulis dengan gaya sarjana, walau penanya seringkali tajam menusuk. Ia anti pada gerakan antikomunis Senator Joseph McCarthy yang membidik Hollywood. Ia sangat percaya pada keharusan sebuah film yang baik memiliki konteks sosial, juga sangat terganggu dengan patriotisme dangkal dalam beberapa film perang Amerika. Ia juga banyak mengenalkan sinema berbahasa asing, khususnya film-film Ingmar Bergman dan film-film Eropa lainnnya.

Tapi, Bosley juga dikenal banyak mencaci film-film asing yang ikonik. Misalnya, ia menganggap karya Akira Kurosawa, Throne of Blood (adaptasi dari Macbeth), sebagai buruk. Ia mencerca semua karya akhir David Lean yang oleh orang lain dianggap hebat, seperti Lawrence of Arabia. Ia juga berkomentar tentang karya terkenal Satyajit Ray, Pater Panchali, sebagai begitu buruk sehingga tak bakal lolos dari tahap rough cut (editing awal) di Hollywood. Dan ia juga tak suka Psycho karya Alfred Hitchcock.

Ketika konsensus akhir tentang Bonnie & Clyde adalah bahwa itu film bagus, dan ia (agaknya ditekan untuk) mundur dari posisi pengulas film tetap di The New York Times pada 1968, ia kemudian bilang bahwa ia tak paham lagi sinema kontemporer.

Tapi, apakah “sinema” atau “film”, sesungguhnya? Benarkah kita telah paham sepenuhnya makhluk modern ini?

André Bazin, dalam serangkaian esai yang diterbitkan pertama kali sebagai risalah pada 1959, kembali ke pertanyaan dasar ini pula: What is cinema? Ia memberi jawab yang berdasar filsafat, menapaktilas muasal ontologis film sebagai imaji fotografis. Lalu, sekarang ada Gilles Deleuze, yang lebih filosofis lagi, yang memandang sinema sebagai imaji-gerak dan imaji-waktu, dengan bahasan yang –percayalah– sangat abstrak dan bisa jadi membuat sebagian besar kita malah jadi kehilangan selera untuk menonton.

Tapi, Bazin atau Deleuze hanya indikasi saja, bahwa ada sesuatu yang selalu bergerak, menggeliat, menampik pengotakan-pengotakan, dalam dunia film. Sesuatu yang kadang mengganggu, tapi secara keseluruhan akan tampak menggairahkan, jika kita mau membuka mata kita lebar-lebar. Sesuatu yang bisa jadi akan membuat sebagian terdepak dari medan percakapan, seperti Bosley.

Sesuatu yang akan terasa saat kita tak memahami apa sih bagusnya film-film “aneh” macam Tropical Malady (Apitchatpong Weerasethakul, 2004), Love Conquers All (Tan Chui-mui, 2007), Stories from The North (Uruphong Raksasad, 2005), Opera Jawa (Garin Nugroho, 2006), atau Babi Buta Yang Ingin Terbang (Edwin, 2009). Dalam film-film semacam itu, terasa ada arus bawah yang deras, mendebarkan, yang menghanyutkan batas-batas sinematik yang pernah ada ke entah kemana.

Yang perlu kita lakukan demi kegairahan itu hanyalah menonton, dan melihat kemungkinan-kemungkinan. ***

 

 

Written by hikmatdarmawan

January 22, 2011 at 6:24 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] This post was mentioned on Twitter by rina amalia, Hikmat Darmawan. Hikmat Darmawan said: Apa makna "film aneh"? Kritikus senior pun bisa ketelingsut soal ini. POJOK POP: BOSLEY: http://t.co/qyuUEUq #UpDateBlog […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: