But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

leave a comment »

Cerita: Apostolos Doxiadis & Christos H. Papadimitrou, Gambar: Alecos Papadatos & Annie Di Donna. Penerbit: Bloomsbury, 2009.

Ulasan ini saya hadiahkan untuk Ifan Ismail

Oke. Kenapa saya sangat suka, dan bergairah, saat membaca komik ini? Apakah saya seorang matematikawan, atau penggemar matematika? Tidak. Sepanjang hidup saya, seperti kebanyakan orang, saya lebih sering tak mengerti matematika, tak mampu memahami banyak persoalannya, dan lemah dalam berhitung-hitung soal-soal rumit.

Apakah saya penggemar logika? Ah, oke. Sebentar. Ada sedikit cerita.

Jelas, saya bukan seorang ahli logika –seorang yang secara profesional mendalami logika. Jauh dari itu. Tapi, saya adalah seorang yang sejak usia dini (sekitar usia 10-12 tahunan) memutuskan akan jadi penulis. Dan, sebagai seorang musafir dalam perjalanan menuju/menjadi Penulis, saya harus menggeluti bahasa. Ah, di sinilah saya bercumbu dengan keping-keping logika.

Anda tahu bahwa salah satu pelajaran dasar yang wajib dalam jurusan penulisan kreatif (creative writing) adalah logika? Setidaknya, logika kalimat. Tapi, untuk bisa memahami secara lebih utuh apa maksud (atau pentingnya) logika kalimat dalam tulisan, mau tak mau, logika dasar perlu dipelajari.

Dan, kemudian saya menemukan, hidup sebagai penulis adalah hidup dalam tuntunan logika. Ah, sebentar, jangan protes dulu. Jangan lupakan salah satu kata penting itu: “hidup”. Di situ juga, dalam kata itu, salah satu sumber dilema seorang penulis. Bahwa, ternyata juga, Hidup, seringkali (terlalu sering?), membangkang dari logika.

Hidup seringkali adalah sebuah benturan antara Yang Logis vs. Yang Tak Logis. Hidup seringkali memberi kita batas-batas bagi Logika. Dan komik ini adalah cerita tentang orang-orang yang bertempur di perbatasan itu. Komik ini (ah, maaf, “novel grafis” ini) adalah cerita tentang orang-orang yang bergulat dengan batas-batas Logika. Dan banyak dari mereka jatuh jadi korban pergulatan ini.

Bertrand Russel, yang jadi tokoh utama komik ini, mengalami keruntuhan rumah tangga berkali-kali, seringkali di ambang depresi, anak sulungnya menderita skizophrenia (dan cucu perempuannya juga, malah hingga bunuh diri). Frege, matematikawan yang jadi sumber ilham terbesar Russel, didera paranoia pada masa tuanya, dan menulis buku tentang pemberantasan Yahudi. Cantor, juga matematikawan terhebat di zamannya, mati di rumah sakit jiwa (RSJ). Gödel berkali-kali dirawat di RSJ karena melankoia, dan pada waktu tuanya, ia menderita Paranoid. Ia wafat di rumah sakit biasa, karena menolak semua nutrisi dari rumah sakit, karena takut ada yang akan meracuninya. Hilbert, matematikawan yang juga mengilhami proyek foundational mathematics-nya Russel & Whitehead, kelihatan normal. Tapi banyak yang bertanya-tanya soal perlakuannya pada anak tunggalnya, yang pada usia 15 didiagnosa skizophrenia lalu dikirim ke RSJ hingga akhir hayatnya: Hillbert tak pernah mengakui punya anak sejak itu.

Banyak cerita “kegilaan” semacam itu. Pengarang komik ini, Apostolis Doxiadis (matematikawan yang juga seniman film, teater, dan kini, komik) dan Christos Papadimitrou (profesor ilmu komputer dan novelis), memang berangkat dari sebuah diskusi tentang hubungan antara Logika dan Kegilaan. Sungguh menarik bahwa diskusi mereka, bersama para penggambar dan periset mereka untuk komik ini, jadi bagian penting dalam komik ini. Dengan demikian, secara naratif, bolehlah disebut komik ini bersifat “posmodernis”: mengandung meta-narasi dan meta-fiksi.

Tapi, jangan gentar, wahai pembaca “awam” (dan saya jelas termasuk pembaca “awam” dalam soal-soal matematika dan logika)! Komik ini sungguh enak dibaca (jika Anda cukup lancar berbahasa Inggris, maksud saya, apa boleh buat –komik ini belum diterjemah ke bahasa Indonesia).

Ada dua cerita utama dalam komik ini. Pertama,

cerita perjalanan pemikiran Bertrand Russel, salah seorang filsuf terbesar Barat di awal abad ke-20. Kedua, cerita perjalanan para pengarang komik ini membentuk cerita komik tentang Russel dan pemikirannya tersebut. Di sepanjang komik, kedua cerita ini saling sapa dan berdialog.

Komik ini dibuka dengan adegan percakapan kedua pengarang komik ini saat pertama mereka berjumpa. Apostolos dan timnya, Alecos Papadatos dan Annie Di Donna plus Anne, sudah di tengah pembuatan komik ini saat berjumpa Christos. Apostolos sejak dini mengangkat isu kesalahpahaman umum orang terhadap novel grafis ini saat diutarakan pertama kali idenya: bahwa ini semacam buku pengantar untuk filsafat seperti seri For Beginner, yang dibuat dalam bentuk novel grafis.

Apostolos dkk. meniatkan novel grafis ini sebagai sebuah cerita, kisah tragedi, novel grafis sepenuh-penuhnya, dengan keunikannya “hanyalah” ini: tokoh-tokohnya adalah para matematikawan, ahli logika, filsuf, dalam kisah pencarian kebenaran yang dramatis. Dengan kata lain, ini bukan sejarah pemikiran, tapi cerita yang disarikan dari sejarah pemikiran. Malah, terang-terangan diakui Apostolos, pilihannya untuk mengabaikan beberapa fakta sejarah (seperti, fakta bahwa Russel punya kakak) demi kepaduan cerita.

(Silakan ingat pepatah bijak itu: seni adalah dusta untuk mengungkapkan kebenaran.)

Apostolos dkk. memilih awal cerita Russel dalam komik ini adalah ceramah Russel di sebuah universitas di AS, tiga hari setelah pendudukan Jerman/Hitler atas Polandia, pada 1 September 1939. Detik-detik menuju Perang Dunia ke-2 sudah dimulai. Russel tiba di kampus itu, disambut demonstrasi antiperang. Intinya, para demonstran ingin agar AS tak terlibat perang di Eropa itu. Mereka berharap, Russel mendukung mereka, karena pada Perang Dunia ke-1, Russel berkampanye antiperang, sampai ditahan segala akibat sikapnya itu.

Sesuai jadual, ceramah Russel tersebut bertajuk “Role of Logic in Human Affairs“. Setelah dihadang para pendemo, Russel membujuk mereka untuk menyimak ceramahnya, untuk bersama mencari jawab –dengan Logika– apakah mereka akan mendukung AS ikut perang atau tidak.

Dan, ceramah itulah yang jadi kerangka utama jalannya kisah hidup Russel, sejak ia muda dan bagaimana ia pertama kali tertarik pada ilmu logika, hingga saat Russel harus berhadapan dengan kegagalannya mencipta sistem logika sempurna bagi matematika, hingga pilihan perang yang sedang mereka hadapi saat itu. Bagi Russel, usulannya jelas: untuk mengerahkan penalaran rasional demi menjawab pertanyaan penting saat itu (mendukung perang atau tidak?), mereka harus kembali ke pertanyaan dasar, apakah logika?

Russel memilih cara unik untuk menjawab pertanyaan dasar itu: menceritakan kisah hidup seorang pemuja teguh logika, yakni dirinya sendiri. Dengan pendekatan itu, Russel (atau, komik tentang Russel ini) menempatkan langsung Logika dalam persoalan Hidup Manusia. Persoalan-persoalan abstrak yang terbit dari ketakpuasan Russel muda atas doktrin Euclidian dalam Geometri yang telah berusia ribuan tahun, jadi terasa penuh emosi dan pertarungan batin.

Komik ini memberi kita pengalaman mencicipi topan badai pikiran yang berkecamuk di benak para pemikir besar itu. Kita pun diajak melihat jatuh-bangun banyak raksasa matematika abad ke-20 itu: patah hati Ferge ketika bangun pemikirannya runtuh oleh paradoks Russel; patah hati Hillbert saat proyek besarnya pada 1900 diruntuhkan Gödel pada 1931; ketakberdayaan Gödel melihat kekerasan irasional di depan matanya (kebangkitan Nazi dan perburuan Yahudi di Eropa); kematian Schlick, pimpinan informal Lingkaran Vienna yang sangat percaya “Pandangan Dunia Sains”, oleh mantan mahasiswa simpatisan Nazi. Patah hatinya Russel sendiri, menghadapi kegagalan risalahnya, rumahtangganya, dan keruntuhan argumennya oleh muridnya yang cemerlang, Ludwig Wittgenstein.

Kita pun sedikit paham bahwa segala persoalan abstrak itu bisa punya akibat fatal: kegilaan, kematian, depresi berkepanjangan, rusaknya hubungan pribadi, dsb. Risiko-risiko itu diambil para matematikawan dan filsuf dalam komik ini karena yang dipertaruhkan adalah kemampuan manusia mencapai Kebenaran.

Dengan segala kekurangan mereka, para matematikawan dan filsuf itu adalah para mujahid Kebenaran. Jihad mereka tak selamanya berhasil. Jihad menegakkan rasionalitas dalam mencari kebenaran seringkali makan korban: para mujahidnya bisa terjungkal ke dalam kegilaan, atau irasionalitas lainnya.

Bagi yang membaca ini dengan penuh prasangka terhadap Rasionalitas, yang beranggapan bahwa “kebenaran tak mungkin dicapai akal manusia”, bisa jadi akan merasa menemukan pembenaran atas prasangka mereka itu. “Tuh, kan, begitulah kalau manusia dengan sombong menganggap bisa mencapai kebenaran sendiri dengan akal!”

Dengan kata lain, segala duka yang mengiringi pencarian Kebenaran oleh para matematikawan dan filsuf itu bisa saja dibaca dengan sinis sebagai “bukti” sebuah kesia-siaan.

Tapi, jika benar bahwa pencarian kebenaran dengan pemberdayaan akal adalah sebuah kesia-siaan, lalu untuk apa manusia memiliki akal? Jika dijawab, akal ada sebagai “godaan setan”, maka yang menjawab itu memandang akal bukan sebagai karunia, tapi sebagai sebuah cacat yang harus disingkirkan. Tidakkah ini sebentuk kesia-siaan juga –upaya menihilkan sesuatu yang senyatanya ada dalam diri manusia sendiri?

Saya menganggap bahwa risiko kegilaan para mujahid rasionalitas itu adalah harga yang harus dibayar dalam sebuah upaya pencarian Kebenaran. Mereka, para matematikawan dan filsuf itu, berjalan jauh ke tapal batas Akal.

Mereka menatap horor di tapal batas Akal itu. Sementara kebanyakan kita, seringkali, hanya tinggal menikmati hasil perjalanan para mujahid rasionalitas itu.

Contohnya sangat nyata. Salah satunya adalah ini: Penalaran Russel + Whitehead memungkinkan penalaran Gödel; penalaran Gödel, memungkinkan penalaran Alan Turing; penalaran Turing melahirkan prinsip dasar bagi komputer. Dan lihat, apa pengaruh komputer dalam keseharian kita sekarang?

Komik ini bisa membantu kita menghargai proses pencarian Kebenaran melalui pengerahan penalaran dan Akal manusia. ***

(Hikmat D.)

Written by hikmatdarmawan

March 2, 2012 at 4:12 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: