But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

Pi (1): Takut

leave a comment »

pi 3

Pi Patel terapung di sekoci penyelamat, di keluasan laut Pasifik, dua setengah hari sudah, bersama seekor hyena yang telah memakan seekor zebra dan seekor orang utan dengan kejam. Dalam teror, Pi merasa gilirannya akan tiba, ketika tiba-tiba ia menemukan bahwa di bawah bangkunya berbaring seekor harimau Bengali seberat 450 pon.

Bacalah sendiri buku ini, Life of Pi, untuk percaya bahwa cerita di atas punya alur dan penjelasan masuk akal. Novel ini pemenang Booker Prize 2002. Yann Martel menulis novel ini dengan kerenyahan seperti pop corn, bergizi sepadat menu empat sehat lima sempurna.

Anda bisa mencomot sembarang bagian dari novel ini dan menyeruput secangkir sastra yang menyegarkan untuk seharian. Saya pilihkan seseruput tentang rasa takut.

Bayangkan. Hyena membunuh bagai lunatik. Ia memakan apa saja, termasuk sesama hyena. Tapi itu tak ada artinya di hadapan predator agung, sang harimau Bengali, yang dengusnya saja telah melumpuhkan Pi.

Ada yang lebih mengerikan dari sang harimau: keputusasaan. Tersesat dalam keagungan alam. Kedalaman tak terduga, horison tak bertepi. Lebih-lebih lagi: ketakpastian—apakah ia akan selamat? Maka Pi bermeditasi tentang rasa takut.

    Aku mesti bicara tentang rasa takut. Ia adalah satu-satunya musuh sejati hidup. Hanya ia yang mampu mengalahkan hidup. Ia adalah lawan yang pintar dan khianat, sungguh kutahu itu dengan baik. Ia tak kenal kesantunan, tak menghormati hukum atau kesepakatan apapun, tak menampakkan belas kasihan. Ia menyerang titik terlemahmu, yang ia temukan begitu mudahnya. Ia akan mulai dari pikiranmu, selalu. Sesaat kau merasa tenang, penuh kendali diri, bahagia. Lalu rasa takut, menyamar sebagai dalam selubung keraguan sayup, menyusup ke pikiranmu seperti mata-mata. Keraguan bertemu ketakpercayaan, dan ketakpercayaan mencoba mengusirnya. Tapi keraguan adalah prajurit pejalan kaki yang miskin senjata. Keraguan mengalahkannya tanpa kesulitan berarti. Kau menjadi cemas. Nalar datang untuk bertempur membelamu. Kau dibuat percaya diri lagi. Nalar berbekal lengkap dengan teknologi senjata mutakhir. Tapi, dan ini akan membuatmu takjub, lepas dari taktik-taktik unggulan dan sejumlah kemenangan pasti, nalar pun kalah. Kau merasa melemah, gemetar. Kecemasanmu menjadi kengerian.

   Kemudian rasa takut beralih sepenuhnya pada tubuhmu…. Setiap bagian tubuhmu…akan runtuh berantakan. Hanya matamu yang berfungsi baik. Mata selalu memberi perhatian yang layak pada rasa takut.

(Life of Pi, terjemahan pribadi dari edisi Inggris, 2002)  

 

Saya selalu terkenang kata Nietszche ini: segala yang tak membunuhmu, hanya akan membuatmu lebih kuat lagi. Akhirnya Pi tak terbunuh oleh ketakutannya. Ia bahkan, akhirnya, bertemu Tuhan.

— Januari, 2003

 

Written by hikmatdarmawan

November 30, 2012 at 12:26 pm

Posted in sastra

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: