But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

Pi (2): Tuhan?

with one comment

Image

Saya ingat Maradona dengan kasus “Tangan Tuhan”-nya. Piala Dunia 1986, Argentina melawan Inggris. Gol pertama Maradona dianggap curang, karena sundulannya dibantu tangannya. Wasit tak melihat. Gol sah. Semua protes. Maradona seakan membayar kecurangan itu dengan salah satu gol terindah sepanjang masa di babak kedua: sendirian melewati 10 pemain Inggris, termasuk kiper, Maradona memberi gol telak. 

Ditanya apakah ia menggunakan tangannya, jawaban Maradona begitu masyhur: “Itu tangan Tuhan!” Terus terang, gol pertama itu, bagi saya, sebuah gol curang, tapi sebuah kecurangan yang indah.

Seperti juga Yann Martel dengan Life of Pi. Ramai media Amerika dan Brazil menuduh Martel menjiplak novel dari seorang novelis Brazil, yang mengisahkan seorang yang terjebak di sekoci penyelamat bersama jaguar. Pi dalam novel Martel terjebak di sekoci penyelamat dengan seekor harimau Bengali, bertahan selama 227 hari, setelah kapalnya tenggelam di laut Pasifik.

Martel sejak semula, sebelum semua keributan itu terjadi (terpicu oleh kemenangannya di Booker Prize 2002), terbuka mengakui ia memang meminjam ide cerita itu. Betul, pinjam-meminjam soal biasa. Berapa banyak sih yang telah dikisahkan soal kisah jatuh cinta. Tapi jelas bahwa bagaimanapun ide seorang terjebak di sekoci penyelamat bersama seekor jaguar (atau binatang buas sejenis) adalah luarbiasa, sepenuhnya unik. 

Martel mungkin curang. Toh ia telah menuliskan novelnya dengan luar biasa. Sebuah kecurangan yang indah. Life of Pi tetaplah sebuah cerita yang, seperti klaim salah seorang tokohnya, “akan membuat Anda percaya pada Tuhan.” Atau, seperti kata Lisa Jardine (ketua juri Booker Prize 2002), “paling tidak membuat kita bertanya-tanya, kenapa kita tak percaya Tuhan?”

Simak saja petikan ini, sebuah gelitik bagi benak atheis atau agnostik:

Aku sungguh dapat membayangkan kata terakhir seorang atheis: “Putih, putih! C-C-cinta! Tuhanku!”—dan sebuah lompatan iman di ranjang kematiannya. Sedang kaum agnostik, jika ia tetap setia pada jiwa penuh nalarnya, jika ia teguh pada faktualitasnya yang kering, tak bergandum, mungkin akan mencoba menjelaskan cahaya hangat yang menyelimutinya dengan berkata, “Mungkin sebuah oksigenasi yang g-g-gagal dari o-o-otak,” dan, hingga akhir hayatnya, kekurangan imajinasi serta kehilangan sebuah cerita yang lebih baik. (Life of Pi, terjemahan pribadi dari edisi Inggris, 2002)

 Martel mungkin curang. Tapi bolehlah ia mengaku telah menulis dengan “Tangan Tuhan”.

 — Januari, 2003

 

Written by hikmatdarmawan

December 1, 2012 at 3:11 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ini… sebuah kritik yang manis

    Utami

    December 11, 2012 at 10:34 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: