But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

MENCARI CERITA, MENCARI BANGSA, MENCARI CINTA (1)

leave a comment »

(Disampaikan pertama kali dalam acara Orasi Budaya Plus dan Pentas Teater EKI dalam rangka setahun milis budaya musyawarah-burung@yahoogroups.com. Saya posting lagi di sini secara bersambung tiga bagian, sebagai hadiah kecil untuk teman-teman PLOTPOINT yang kini mencanang motto: “Kita Bercerita, Apa Ceritamu?”.)

bung karno 1

 

1

Saudara-saudara,

pada hari ketiga sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengingatkan lagi semua peserta sidang akan arti “merdeka” menurutnya, sebagaimana yang telah ia tulis 12 tahun sebelumnya. Bahwa “merdeka” – “Indonesia Merdeka”, “political independence”, “polietike onafhankelijkheid” – menurut Soekarno adalah “satu jembatan,  satu j e m b a t a n  e m a s”. Dengan itu Soekarno mengkritik para ahli anggota sidang yang menurutnya terlalu “zwaarwichtig”, “jelimet”, terlalu meributkan “ini dan itu” dan “gentar hati” dalam mempersiapkan Indonesia Merdeka. Ibn Saud, kata Soekarno, mengadakan negara di dalam satu malam – in one night only !  Ibn Saud  mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang jembatan itu barulah Ibn Saud memperbaiki masyarakat Saudi Arabia: orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang Badui yang nomad dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani – semuanya, menurut Soekarno, dilakukan di seberang jembatan. Adakah Lenin, tanya Soekarno kepada anggota sidang, adakah Lenin ketika mendirikan negara Sovyet Rusia Merdeka, telah mempunyai dam maha besar di sungai Djnepp? Apa ia telah mempunyai radio-station, yang menyundul ke angkasa? Apa tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Di seberang jembatan emas yang diadakan Lenin itulah, kata Soekarno, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolah baru, dan dam raksasa di sungai Djnepp!

Dengan perumpamaan “jembatan emas” itu, Soekarno bukan hanya berhasil membakar sidang hari ketiga BPUPKI untuk bertekad “Indonesia Merdeka sekarang”, tapi juga selama 12 tahun sebelumnya berhasil meyakinkan semakin banyak rakyat Indonesia untuk bertahan menghadapi jaman sulit, jaman edan, jaman penuh kematian dan krisis ekonomi-sosial-budaya yang semakin memburuk dari hari ke hari. Dengan metafor “jembatan emas” itulah Soekarno berhasil meyakinkan semakin banyak orang untuk rela kehilangan “jaman normal”, jaman ketika tata tertib hukum dan kemasyarakatan stabil, tentram dan adem di bawah naungan pemerintah kolonial Belanda.

Saudara-saudara,

kita di ruangan ini kebanyakan adalah generasi yang lahir di seberang jembatan itu. Dan apakah yang kita temukan, sebagai bangsa, saat ini, di seberang jembatan emas itu? Kita, sebagai bangsa, hanya menemukan sebuah jalan buntu! Ya, jalan buntu! Di hadapan kita hanyalah sebuah tembok besar dan tebal yang entah bagaimana meruntuhkannya.

Saudara-saudara,

tentu saja tembok besar yang saya maksudkan itu adalah krisis multi-dimensi yang sedang kita hadapi saat ini. Tapi saya juga membicarakan sesuatu yang lebih dari itu. Saya membicarakan tentang keadaan tiadanya pilihan yang dihadapi bangsa ini saat ini. Pada waktu Bung Karno menyampaikan pidatonya di hari ketiga sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 itu, Bung Karno, para anggota sidang, serta bangsa Indonesia pada umumnya, punya banyak pilihan dalam menentukan masa depan mereka. Mereka punya pilihan apakah akan “merdeka sekarang” atau “merdeka nanti, menunggu pemberian sang bapak, pemerintah kolonial Belanda”. Mereka punya pilihan apakah menggunakan sistem ekonomi kapitalisme-liberal, atau sosialistis-sentralistik, atau percobaan sistem ekonomi campuran. Mereka punya pilihan untuk memperhatikan masalah politik dulu dan membelakangkan masalah keuangan. Mereka punya pilihan negara mana saja yang mereka perkenankan menjadi sahabat. Mereka punya pilihan, dan punya kesempatan untuk mencoba-coba.

Kita, generasi yang lahir di seberang jembatan emas itu, saat ini tak punya pilihan. Kita juga semakin sedikit memiliki kesempatan.

Kita saat ini tak punya pilihan kecuali menjadikan masalah-masalah ekonomi sebagai kenyataan utama dan satu-satunya. Lebih sempit dari itu, kita bahkan harus menyelesaikan masalah-masalah ekonomi kita dalam paket yang telah ditentukan oleh orang lain, oleh suatu perikatan dunia yang disebut globalisasi, dengan segala aparatus mereka seperti WTO, Bank Dunia dan IMF. Segala kemelut politik yang melanda negeri ini pada akhirnya bermuara pada satu hal: apakah dapat menjamin terlaksananya paket-paket kebijakan ekonomi dari para aparatus globalisasi itu atau tidak. Entah Gus Dur atau Mega atau siapapun hanya punya satu parameter untuk memimpin negeri ini: apakah ia mampu menerapkan paket-paket Letter of Intent IMF atau tidak, apakah pasar atau para investor percaya padanya atau tidak.

Saudara-saudara, sedemikian tak punya pilihannya kita sehingga bahkan mengangkat soal tersebut dengan nada agak menghujat seperti di atas akan masuk kotak “reaksioner”. Saya tak ingin menjadi reaksioner. Jika satu-satunya pilihan dan kesempatan kita untuk dapat bertahan sebagai bangsa hanyalah dengan ikut serta dalam perikatan ekonomi global, mari kita bermain dalam perikatan ekonomi global tersebut. Kenyataannya adalah, celakanya, bangsa kita amat tak siap untuk ikut serta dalam perikatan ekonomi global tersebut. Bangsa kita harus ikut dalam permainan globalisasi, tapi satu-satunya tempat bagi kita dalam permainan itu hanyalah di bagian terbawah liga ekonomi papan bawah.

Maka sempurnalah nasib kita sebagai generasi yang lahir di seberang jembatan emas tapi sedang terjebak di sebuah jalan buntu.

Jalan buntu bagi Indonesia, bagi generasi kita. Banyak orang seperti kehilangan akal. Banyak jawaban bagus, masuk akal dan hebat diberikan. Tapi mungkin masalahnya Indonesia sudah habis. Seperti Iwan Fals beberapa tahun sebelum krisis pernah menyanyikan puisi panjang “Jakarta Sudah Habis”, mungkin sesuatu yang sama sedang terjadi dalam skala yang jauh lebih besar, lebih menasional, dari gambaran Iwan Fals tersebut. Bahwa “Indonesia Sudah Habis”.

Indonesia sudah habis. Habis jiwanya. Habis raganya.

Barangkali di jaman sulit ini, sesekali kita perlu berpikir demikian, berpikir bahwa Indonesia sudah habis, sedang habis. Bukan untuk bersikap fatalistis, menyerah pada keadaan. Tapi agar kita lebih rendah hati menghadapi keadaan. Karena tanpa kerendahan hati, kita akan tertipu oleh ilusi bahwa ada satu jawaban yang benar, hebat, canggih dan sapujagat yang harus dilaksanakan oleh bangsa ini, oleh semua orang di negeri ini. Maka apa yang tadinya merupakan niat baik, pemikiran baik, dalam praktek kemudian hanya menjadi pemaksaan kehendak belaka.

Karena tak ada satu jawaban yang benar dan sapujagat bagi Indonesia saat ini. Indonesia sudah habis. Indonesia sedang habis, setelah puluhan tahun dijarah, dicuri, dijual dengan harga yang murah. Maka kini tak ada lagi satu jawaban yang benar, apalagi jika ia satu jawaban yang dipaksakan, yang hanya mengandalkan pengerahan massa atau politik uang. Jika kita, jika masing-masing kelompok bersikeras memaksakan satu buah jawaban bagi Indonesia, maka Indonesia akan semakin habis dan semakin habis. Kita harus bersyukur bahwa saat ini kita hanya bangkrut. Tapi jika masing-masing orang atau kelompok yang merasa punya niat baik terhadap Indonesia dan merasa punya satu jawaban yang benar dan sapujagat bagi Indonesia kemudian memaksakan jawabannya, maka Indonesia akan lebih dari sekedar bangkrut. Ia akan menjadi lahan subur bagi para despot, para tiran, tiran besar dan tiran kecil, tiran lokal atau tiran nasional, yang secara alamiah hanya dapat hidup di atas tumpukan mayat. Tumpukan mayat yang menggunung, Mayat Indonesia.

Saudara-saudara,

kita hanya bangkrut, dan belum jadi mayat. Kita hanya terjebak di sebuah jalan buntu, tapi belum mati.

Tapi, saudara-saudara, justru di saat-saat genting ini, di saat-saat penuh ketakpastian kini, para tiran dapat menenung Anda dengan sebuah jawaban yang pasti mengenai Indonesia, mengenai masa depan Anda. Di saat-saat genting dan penuh ketidakpastian ini, para tiran dapat mempermainkan kelelahan kita karena begitu seringnya kita terbentur dan tak menemukan jalan keluar. Para tiran akan memberi harapan-harapan, kepastian-kepastian, dengan meminta bayaran sedikit saja. Para tiran hanya meminta kemauan Anda untuk melakukan yang terburuk demi sebuah kepentingan bersama. Atau meminta dari Anda kepercayaan absolut pada para tiran agar mereka dapat melakukan tugas-tugas mereka, melakukan apapun yang dianggap perlu bagi sebuah kebaikan bersama. Jenis kepercayaan absolut yang mengharuskan Anda untuk membayangkan yang terbaik tentang para tiran itu, walaupun udara telah dipenuhi bau busuk mayat-mayat dan anyir darah dimana-mana. Para tiran hanya akan memberi Anda dua pilihan: percaya absolut kepada mereka, atau takut secara absolut. Para tiran, dalam membangun sebuah dunia yang penuh kepastian, akan menunjuk kambing hitam, dan tahu-tahu Anda ikut menunjuk kambing hitam itu. Anda, atas petunjuk para tiran, menghapus wajah manusia pada mereka yang telah ditunjuk sebagai kambing hitam, agar lebih mudah menyembelih mereka.

Di Sampit, setelah kerusuhan kemarin, tampak seorang pemuda Dayak terduduk di jalan dan menangis. Konon “isian” yang diberikan oleh para dukun sukunya telah habis dan ia menyadari bahwa ia baru saja melakukan pembantaian terhadap manusia dengan kebrutalan yang mungkin tak pernah ia bayangkan dapat terjadi sepanjang hidupnya. demikianlah sebuah koran menceritakan. Apakah pemuda itu akan tetap menangis sepanjang hidupnya? Ataukah tangisnya, rasa bersalahnya, lenyap setelah seorang tiran lokal memberi alasan yang masuk akal bagi kebrutalan yang baru saja ia lakukan? Koran itu tak mampu memberitakan kelanjutan tangis tersebut.

Kata-kata para tiran bagaikan “isian” dari dukun Dayak di atas. Saya kira tak ada dalam ruangan ini yang ingin menangis seperti menangisnya pemuda Dayak itu. Sadarkah kita bahwa kebiadaban itu bisa jadi bermula dari sebuah niat yang mulia, dari sebuah jawaban yang memberi kepastian, jawaban sapu jagat yang harus diterapkan dengan menghalalkan segala cara – termasuk, atau terutama, dengan kekerasan.

Ya, saudara-saudara, tak ada satu jawaban sapujagat yang pasti benar bagi Indonesia saat ini. Tidak ada satu jawaban yang benar dalam kebuntuan ini, dan justru karena itu setiap jawaban yang baik mengandung kebenarannya sendiri. Tak ada satu jawaban yang benar, tapi ada banyak jawaban yang mengandung kebenaran. Karena, saudara-saudara, pada akhirnya jawaban yang benar bagi bangsa ini terletak pada diri kita masing-masing, pada kemampuan kita untuk menjawab satu pertanyaan penting ini: apa yang bisa saya lakukan dalam kebuntuan ini?

 

…BERSAMBUNG

 

Written by hikmatdarmawan

December 5, 2012 at 11:20 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: