But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

MENCARI CERITA, MENCARI BANGSA, MENCARI CINTA (2)

leave a comment »

(Bagian kedua repost orasi budaya saya pada 2001 di panggung EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia), sebagai hadiah kecil untuk teman-teman PLOTPOINT yang sedang mencanang motto: “Kita Bercerita, Apa Ceritamu?”.)

Image

Ben Okri berpidato dalam acara peringatan Steve Biko di Afrika Selatan (dari: afritorial.com)

2

Saudara-saudara,

Ranggawarsita III, pada pertengahan abad ke-19, menyusun sebuah kitab yang terhitung sebagai salah satu buku terpanjang di dunia hingga saat ini. Kitab itu adalah Pustaka Raja Purwa (Kitab Raja-raja Kuna), terdiri dari sekitar enam juta kata, ditulis oleh Ranggawarsita III yang sedang prihatin melihat identitas “pribumi” di sekelilingnya sedang tergerus oleh pengaruh kolonialisme Belanda. Ia menulis proyek raksasa Pustaka Raja Purwa dengan niatan untuk menciptakan kembali bagi zamannya sebuah “sejarah nasional”. Ia menciptakannya dalam bentuk prosa – sebuah pembaharuan, karena kitab-kitab sejarah Jawa sebelumnya selalu dituliskan dalam bentuk puisi. Ia menyusun kitabnya berdasarkan empat sumber utama: pertama, dari sejumlah besar folklor, drama rakyat serta tradisi oral di Jawa dan Sumatera pada waktu itu; kedua, informasi yang kemungkinan didapat oleh Ranggawarsita dari para intelektual Barat, kemungkinan dari Belanda, yang ia kenal; ketiga, dugaan-dugaan dan imajinasi Ranggawarsita sendiri – yang lebih merupakan educated guess; dan keempat, dari sejumlah besar manuskrip Jawa kuno di daun-daun lontar yang ia atau kontak-kontaknya temukan, atau telah diwariskan turun-temurun pada keluarga Ranggawarsita selama beberapa abad.

Ranggawarsita III melawan kolonialisme dalam keadaannya yang sedang tak terlawankan. Ranggawarsita III melawan dengan karya, dan mungkin karena itu jarang yang menempatkannya sebagai seorang pahlawan. Padahal kemungkinan besar ia mewarisi kepahlawanan ayahnya, Ranggawarsita II, juga seorang pujangga istana, yang mengakhiri hidupnya sebagai “orang hilang”, diculik dan kemungkinan dibunuh oleh aparat keamanan Belanda. Ranggawarsita III harus hidup dan mengabdi pada raja yang kooperatif terhadap kolonial Belanda. Ia “hanya” bisa melakukan sebuah perlawanan kultural. Dan ia melakukannya dengan optimal.

Dengan menuliskan Pustaka Raja Purwa, Ranggawarsita III sesungguhnya melakukan dua hal: pertama, ia memberdayakan cerita sebagai elemen pembangun identitas nasional. Ia menciptakan sebuah laut cerita, yang darinya setiap orang Jawa dapat menjala cerita-cerita warna-warni untuk dibawa pulang, diwariskan secara lisan maupun tulisan, untuk jadi cermin pematut diri, cermin yang memandu seorang Jawa untuk menjadi seorang Jawa yang “benar”. Yang kedua, dengan menulis salah satu kitab terpanjang di dunia itu secara prosaik, Ranggawarsita III melakukan kontemporerisasi cerita-cerita lama yang beredar di masyarakat, melakukan tafsir baru, dan karenanya memberikan kesegaran baru bagi cerita-cerita itu, sehingga kembali menjadi inspiratif dan menggugah.

Saudara-saudara,

para juru cerita di jaman kita jarang sekali yang memiliki ambisi sebesar Ranggawarsita III. Baik ambisi dalam visi bercerita – seperti Ranggawarsita III yang ingin “mencipta-ulang sejarah bangsanya”. Maupun ambisi dalam berkarya – seperti Ranggawarsita III yang mengolah sumber cerita yang massif menjadi sebuah kitab yang juga massif dengan enam juta kata di dalamnya.

Kita adalah generasi yang lahir di seberang jembatan emas kemerdekaan. Kita lahir, hidup dan bercinta di wilayah yang dulu hanya bisa diimpi-impikan. Kita belajar, mencari uang, berkelahi dan saling bunuh di wilayah yang dulu dijanji-janjikan. Jaman telah menciptakan banyak sekali alat bercerita yang baru. Buku telah menjadi hal yang biasa, walau entah kenapa tak juga jadi kebutuhan sehari-hari. Novel modern, film, komik, animasi, sinetron, bahkan iklan dan klip video musik telah menjadi alat-alat tutur cerita yang baru. Tapi kenapa masih sulit bagi kita untuk menemukan cerita tentang Indonesia? Kenapakah begitu banyak alat cerita yang baru, tapi yang melimpah adalah cerita-cerita tentang Indonesia yang terasa dibuat-buat dan tak meyakinkan?

Saat ini terus terang saya lebih mudah mencintai Amerika ketimbang Indonesia. Ini bukan masalah “rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput kita sendiri”. Ini hanyalah konsekuensi logis dari begitu sehari-harinya eksposur saya terhadap cerita-cerita Amerika. Lewat film, musik, novel, komik, majalah, koran, internet. Saya lebih akrab dengan seluk beluk kota New York, walau tak pernah ke sana, daripada seluk beluk kampung Jakarta tempat saya tinggal. Saya lebih mengerti duka perang Vietnam ketimbang duka perang revolusi Indonesia tahun 1945-49. Saya lebih mampu membayangkan situasi sehari-hari para pionir Amerika di abad ke-19 hingga awal abad ke-20, lewat film seri Little House on The Praire, The Waltons atau film Legend of The Falls, ketimbang membayangkan masa kecil kakek saya di jaman yang sama dengan gambaran film-film itu. Saya lebih mudah mendapatkan dan membaca teks-teks klasik Amerika dari abad-abad yang telah lewat seperti Civil Disobidience dari Henry David Thoreau, Paradise Lost dari Milton, atau puisi-puisi Ralph Waldo Emerson dan Emmily Dickinson, ketimbang karya-karya Ranggawarsita atau Hamzah Fansuri. Ini bukan keluhan atau penyesalan, tapi semata-mata kenyataan.

Kadang memang saya merasa bersalah. Saya jarang pergi keluar Jakarta, tapi biasanya ketika saya pergi keluar Jakarta akan berbekas dalam. Saya hanya pernah ke Bandung, ke Lampung, ke kota Kuningan, ke Yogyakarta, ke Garut, ke Malingping menginap di sebuah hotel tua peninggalan Belanda dan mengunjungi desa nelayan yang miskin dan kering, dengan rumah-rumah mereka yang berjendela tapi tanpa kaca. Di tengah hamparan sawah menguning dan langit lazuardi, di tengah terpaan angin laut dan panas pasir putih, saya sering tercenung: kenapakah cerita-cerita dari benua jauh di seberang samudera sana terasa lebih nyata ketimbang kenyataan alam negeri sendiri?

Kita ini adalah warga dari sebuah negara yang miskin juru cerita. Tukang cerita barangkali banyak, tapi juru cerita, apalagi yang punya ambisi seperti Ranggawarsita III, sungguh sedikit. Dan cerita jelas banyak, tapi tanpa juru cerita yang mempu mengontemporerisasi cerita-cerita itu, bangsa ini tetap akan kehilangan khasanah ceritanya. Maka herankah kita jika semakin lama, kata bangsa di negeri ini semakin hampa?

Sebab, saudara-saudara, ada hubungan yang erat antara bangsa dan cerita. Bahkan sampai pengertian tertentu, bangsa adalah cerita. Bukankah bangsa, menurut Ben Anderson adalah “imagined community”, komunitas atau ikatan kebersamaan yang dibayangkan, yang diimajinasikan? Seperti kata Ignas Kleden suatu ketika, bangsa sesungguhnya adalah fiksi, yang demi fiksi itu banyak orang rela kehilangan harta bahkan nyawa. Hal ini sekarang sudah nyaris jadi truism, kebenaran klasik yang hampir menjadi klise.

Apa artinya “bangsa adalah cerita, adalah fiksi”? Apakah itu artinya bangsa adalah sebuah kebohongan? Tidak. Pernyataan bahwa bangsa adalah cerita hanyalah menyatakan kapasitas non-faktual dari bangsa. Di dalam cerita, terdapat kebenaran yang mengatasi kebenaran faktual atau kebenaran sehari-hari. Sejenis kebenaran yang jika ditiadakan akan membuat berbagai kebenaran faktual dan kebenaran sehari-hari menjadi kehilangan arti.

Saudara-saudara,

Ben Okri, seorang sastrawan Afrika yang menulis dalam bahasa Inggris, pernah menyatakan, “untuk meracuni suatu bangsa, racunilah cerita-cerita mereka.”

Kita saat ini hidup dalam udara yang penuh cerita beracun. Rumor, fanatisme, fitnah, kekaburan makna adalah racun bagi cerita. Kita sesungguhnya telah menghirup racun itu sejak lama. Sensor, kebohongan, tekanan penguasa, ambiguitas makna yang disengaja untuk menutup-nutupi kebenaran, adalah racun yang dipraktekkan sehari-hari rezim Orba. Dan ternyata, saat ini pun kita belum bebas dari racun-racun itu. Praktek-praktek buruk zaman Orba masih terus dilakukan. Jangan salah. “Orba” bukan hanya mereka yang berkuasa di zaman Orba dan kini bersembunyi dalam gelap mengatur ini dan itu, mengorkestrasi kekacauan dari balik gelap, seperti yang digambarkan oleh kelompok tertentu saat ini. Tapi Orba adalah cara berpikir, sebuah jaringan modus produksi yang telah menghasilkan makhluk-makhluk yang disebut Jalaluddin Rahmat sebagai “Homo Orbaicus”. Gus Dur, misalnya, di masa Orba adalah seorang yang selalu ditekan dan menjadi salah satu lawan politik terkuat Soeharto. Tapi justru karena itu kita lihat seluruh mekanisme survival politiknya sudah terbentuk oleh Orba, sehingga ketika meja berbalik, dan ia menduduki kursi kekuasaan, ia melakukan praktek yang sama saja dengan Orba.

Saudara-saudara,

saat ini kita berdiri di seberang jembatan emas kemerdekaan. Dan kita tak mampu berkata dengan bangga seperti George Bush Jr. berkata dalam pidato inauguralnya:

We have a place, all of us, in a long story. A story we continue, but whose end we will not see. It is the story of a new world that became a friend and liberator of the old, a story of a slave-holding society that became a servant of freedom, …

(Kita punya tempat, semua kita, dalam sebuah cerita panjang. Sebuah cerita yang kita lanjutkan, tapi akhirnya tak akan kita lihat. Sebuah cerita tentang suatu dunia baru yang menjadi sahabat dan pembebas dunia lama, sebuah cerita tentang suatu masyarakat yang mendukung perbudakan dan kemudian berubah menjadi hamba kebebasan….)

Bush dengan penuh percaya diri menutup kalimatnya, “It is the American story”, Itulah cerita Amerika. Cerita yang dengan segala variasi rumit selalu diceritakan lagi oleh VOA dan CNN ke seluruh penjuru dunia; oleh Tom Wolfe, Don DeLilo, Norman Mailer, atau Gore Vidal lewat novel-novel akbar mereka; oleh Bob Dylan, lewat kritisisme lagu-lagu baladanya yang lahir dari perut idealisme demokrasi ala Amerika; oleh Daniel J. Boorstin, lewat buku-buku sejarah populernya yang ketebalan mereka (rata-rata di atas 600 halaman) sungguh mengherankan kita, kok bisa masuk daftar best sellers ?; oleh Steven Spielberg, Francis Ford Coppola, Woody Allen, Martin Scorcesse, Spike Lee, hingga deretan sutradara muda populer seperti Michael Bay yang sukses besar menjual patriotisme Amerika gaya baru seperti lewat Con Air, Armageddon, dan Pearl Harbor; dan oleh sederet nama lagi, nama-nama Amerika, yang mungkin lebih dikenal generasi kita ketimbang Ranggawarsita III atau Hamzah Fansuri atau Nurrudin Ar-Raniry. Cerita yang selalu diceritakan kembali dalam berbagai variasi, dan selalu ada yang mendengarnya. Cerita Amerika. Cerita “mereka”, yang melalui media massa seringkali menjadi cerita kita.

Kita sendiri, bangsa Indonesia yang telah berdiri di seberang jembatan emas itu, apakah cerita kita? Sebuah cerita kesalahan demi kesalahan, kebodohan demi kebodohan, kejahiliyahan demi kejahiliyahan, itukah cerita kita? Sebuah cerita tentang angka pengungsian tertinggi di dunia, tentang orang-orang yang harus mengungsi di negeri sendiri? Sebuah cerita tentang horor yang jauh lebih seram dari semua film Wes Craven yang paling seram? Seperti cerita tentang kepala yang direbus, yang disaksikan teman saya; atau cerita seorang anak perempuan, yang bersama ratusan orang di desanya, dibantai di sebuah lapangan bola tempatnya bermain sehari-hari, di suatu malam jahanam di Kalimantan, seperti yang diberitakan oleh sebuah edisi majalah Times? Apakah nantinya cerita Indonesia adalah cerita-cerita hantu, arwah penasaran dari orang-orang yang mati dalam ketakadilan dan kebengisan yang tak terbayangkan?

Lebih dari itu, siapakah yang akan menceritakan cerita kita? Para ekonom? Bisa. Tapi haruskah cerita mereka jadi satu-satunya cerita, menyingkirkan cerita-cerita lain? Kemanakah kita mencari cerita Indonesia? Pada para politisi? Saya tidak anti para politisi. Kita memerlukan para politisi yang profesional, agar mekanisme demokrasi ini berjalan dan kita tahu bagaimana kita memperjuangkan kepentingan-kepentingan kita. Tapi bukankah udara di dunia politik sekarang penuh racun yang akan merusak cerita tentang Indonesia? Lalu kemana lagikah kita harus mencari cerita Indonesia, cerita bangsa kita? Kepada para cendikiawan? Para wartawan? Mungkin. Tapi kebanyakan cendikiawan dan wartawan yang saya temui sedang mabuk peran sebagai pahlawan reformasi. Cerita-cerita kebanyakan mereka tentang Indonesia hanyalah ceracau dan kecerewetan yang memekakkan telinga. Kemana kita harus mencari cerita tentang Indonesia, cerita tentang diri kita sendiri? Atau, apakah orang Indonesia jika ingin mencari cerita, yang ia dapati hanya derita?

Kita sedang dalam keadaan genting. Kita telah berjalan jauh dari jembatan emas itu, dan kita sedang tersesat di sebuah jalan buntu. Kita terjebak dalam sebuah dunia labirin yang dipenuhi oleh cermin-cermin tipu daya, dan kita kehilangan cermin yang dapat menampilkan diri kita apa adanya. Kita harus mencari cermin sejati itu, cerita sejati tentang Indonesia.

Keadaan sedang genting. Kebuntuan ini sungguh keterlaluan. Maka kita semua harus bekerja. Maka penulis harus menulis. Pelukis harus melukis. Komposer harus mencipta komposisi. Pencipta lagu harus mencipta lagu. Penari harus menari. Komikus harus membuat komik. Kartunis harus membuat kartun. Novelis harus melahirkan novel, melahirkan semesta baru, barangkali saja dengan demikian Indonesia bisa kita bayangkan kembali. Penyair harus mengorek kata hingga bertemu Indonesia, jauh di jantung bahasa.

Seperti kata Tardjie, dalam puisi Cari :

dari balik puing-puing ini

dari balik gosong nyeri

dari balik abu dan tulang-tulang ini

cepat temukan kata!

sebelum cuaca semakin memburuk

sebelum datang lagi El Nino

sebelum datang pula La Nina

agar tak kembali muncul El Dictador

Para juru cerita, bangkitlah, menyeruaklah mengatasi para tukang cerita yang hanya bisa menyampaikan ilusi berbisa. Para juru cerita, bangkitlah, ceritakan cerita di balik kuning padi di sawah yang menghampar luas. Ceritakan cerita di balik warna-warni ikan laut di terumbu karang yang hampir hilang. Ceritakan cerita di balik legam kulit nelayan, ceritakan cerita di balik tembok-tembok kusam kota-kota kecil dan tua. Ceritakan cerita di balik bunyi sendu seruling seorang anak angon kebo pada suatu senja, ceritakan cerita di balik bunyi keleneng sepi sebuah andong di sebuah siang yang sepi. Ceritakan juga cerita tentang semangat apa di balik kemauan anak-anak muda berkalang panas di jalanan, menuntut agar tak ada lagi kebohongan. Ceritakan, ceritakan semuanya.

Ceritakan cerita baru tentang Indonesia.

…BERSAMBUNG

Written by hikmatdarmawan

December 7, 2012 at 11:19 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: