But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

ADAM YANG MELUPAKAN NAMA-NAMA

leave a comment »

sketsa, oleh: HD

sketsa, oleh: HD

Radhar Panca Dahana mengumumkan bahwa dunia kita sedang memprosa, tapi tak perlu dipersoalkan: karena toh manusia adalah prosa. (, 27 Juli 2003). Tapi kehadiran tulisan itu sendiri menyorongkan keanehan kecil yang, paling tidak buat saya, cukup mengganggu bak slilit yang tak mau pergi. Saya terganggu bukan karena Radhar memang seorang penulis yang sering terbenam dalam persoalan-persoalan singular yang aneh, asing, menyempal dari persoalan massa atau arus besar, dan kadang profetis (misalnya masalah “homo-theatricus” atau “dusta dalam sastra”).

Saya terganggu karena kabar kematian selalu membuat saya canggung. Lebih buruk dari kabar  kematian adalah kabar bahwa seseorang sedang sekarat. Kematian yang sudah tampak tapi belum tiba sungguh membuat saya tak nyaman. Radhar mengangkat, nyaris seakan memberitakan, keadaan dunia kita yang sedang jadi dunia prosa—artinya sebuah pengabaran tentang sekaratnya puisi dalam dunia kita. Apakah saya harus berdiri di sini, berdiam diri, menyaksikan napas-napas terakhir puisi kita ?

Saya juga terganggu justru oleh sikap Radhar terhadap ke(-akan-)matian puisi dalam tulisan itu: sikap apa boleh buat, begitulah adanya, mari meneruskan hidup. Sebuah kepasrahan yang matang sekaligus ironis, penerimaan sekaligus gerutu dalam hati, dan akhirnya: ces’t la vie, itulah hidup. Tapi benarkah hidup telah membunuh puisi?

*

Tapi apakah puisi?

“…Gertrude Stein, berkata bahwa puisi adalah kata-kata benda, dan prosa adalah kata-kata kerja. Dengan kata lain, kejeniusan yang khas dari puisi adalah menamai, sedangkan prosa adalah menunjukkan gerakan, proses, waktu —masa lampau, kini, dan nanti.” (Sontag, A Poet’s Prose, dalam Where The Stress Falls, 2003)

Puisi adalah menamai yang tak terpermanai, menamai yang abstrak, yang tak terkatakan. Seorang penyair menciptakan hubungan-hubungan penanda-petanda baru. Seorang penyair sama dengan semua orang ketika melihat sebuah kursi: ia tahu benda itu bernama “kursi”. Tapi mungkin ia melihat sesuatu yang lain pada kursi itu, yakni kekosongan yang menduduki si kursi ketika sekian lama si kursi teronggok tak lagi pernah diduduki, berdebu, ditinggalkan. Ia akan terobsesi untuk mencari kata-kata yang tepat untuk mengucapkan, menamai, kekosongan itu.

Penyair mencipta puisi untuk menamai perasaan-perasaan unik yang terbit dari pengalaman jatuh cinta, misalnya. Bukankah ”jatuh cinta sejuta rasanya”? Penyair akan terobsesi menyusun leksikon sejuta rasa itu. Demikian juga untuk berbagai perasaan dalam menghadapi kematian, kehilangan, misteri alam, keagungan Tuhan, kepedihan, kekerasan, kebebasan, dan sebagainya—penyair adalah leksikografer perasaan, ia selalu ingin naming names, menamai, berpuisi.

Puisi juga dicipta dengan menggambarkan, memerangkap, atau membingkai sebuah lanskap atau peristiwa yang tak bernama, seperti dilakukan oleh para penyair imajis yang dipelopori Ezra Pound. Atau, contoh yang lebih baik, seperti yang ada dalam tradisi lukisan/kepenyairan Cina klasik. Dalam tradisi ini, sebuah lukisan Cina (juga Jepang dan Korea) dijuduli oleh puisi: sang pelukis menyair untuk menamai pemadatan rasa di kanvasnya.

Tradisi ini hidup juga dalam pelukis modern Sidik W. Martowidjoyo. Sidik melukis sebagai seorang master lukisan Cina kelas dunia (ia mendapat penghargaan “Lukisan Cina mutu terbaik” dari Beijing, pada 2001). Ia juga menulis kaligrafi di pinggiran kanvasnya juga dengan kapasitas master kelas dunia (ia mendapat penghargaan kaligrafi mutu terbaik dari Nanjing, 2002).

Sidik melukis bunga-bunga peoni dalam berbagai variasi, dengan tinta hitam atau cat air warna-warni. Di satu lukisan hitam putih ia menjuduli: Peony, sehabis hujan, menebar wangi/Awan-awan pun jadi malas pergi. Di lukisan lain, peoni dalam nuansa hitam dan hijau, ia menjuduli: Semua keindahan di musim semi/Diserap habis bunga peony. Kita menatap hasil sabetan-sabetan pit di atas kertas shien tze itu dan, hmm, ya, sebuah hubungan penanda-petanda pun terbentuk dalam kepala.

Kadang goresan Sidik bertenaga, menggentarkan (Dingin salju menyimpan bara/Dari langit senja yang akan sirna). Kadang halus membias, seperti halimun dan ngungun (Deretan panjang hutan-hutan yang senyap/Jarak langit dan bumi seakan lenyap). Ngungun berkembang dalam sunyata, dalam paduan getar dan gentar (Arus deras mengepung batu-batu kali/Aku tunggu surutnya, ditemani kabut pagi). Setelah sunyi sunyata, terantuk kita pada sebuah detail, dua kuntum bunga yang menggoreskan tanya: Bertanya sepasang bunga merah kesumba:/Berapa lamanya usia muda?

*

Sidik bertanya tentang berapa lama usia muda. Saya bertanya-tanya, gara-gara pengabaran Radhar, kapankah puisi berakhir? Benarkah puisi sedang sekarat?

Radhar mencontohkan cuplikan empat karya dari empat penulis (Joko Pinurbo, Barta Ananda, Yanusa Nugroho, Ahmad Syubbanuddin Aluy), terdiri dari 2  puisi dan 2 cerpen, yang tak bisa lagi dibedakan mana puisi mana prosa. Karena prosa rupanya telah merembes ke puisi.

Bagaimana membedakannya? Ketika puisi sudah mendekati, sangat dekat, dan hampir tak berjarak dengan prosa. Ketika puisi tak lagi prosaik, tapi memang prosa yang disembunyikan. Bahkan, sebagian tak lagi berpetak umpet, tapi sengaja dan tak, menghancurkan diktum-diktum yang membolehkannya menyebut dirinya sendiri sebagai puisi. Bukan lari ke satu bentuk puitik baru, tapi melompat ke dunia prosa. (Radhar, 2003)

Tapi bukankah yang sebaliknya pun terjadi, prosa melompat ke puisi? Seperti kata Sontag, “…prosa, sejak Flaubert, telah mencita-citakan sebagian dari intensitas, kecepatan, dan kemestian leksikal dari puisi…” (Sontag, 2003). Jangan-jangan, pernyataan bahwa puisi bukan hanya semakin prosaik tapi bahkan ”memang prosa yang disembunyikan” hanyalah masalah sudut pandang yang dipilihkan Radhar bagi kita, sebuah provokasi. Sebab gejala yang sama jangan-jangan bisa dipandang sebagai: prosa pun semakin puitik.

Ambisi puitik dalam prosa kadang mengambil bentuk formal. Novel pertama Vikram Seth, The Golden Gate, adalah sekumpulan kuplet-kuplet sajak yang membentuk kisah. Kisah modern ini mengambil teladan novel-novel antiquarian–novel dari dunia antik, dari masa ketika sastra tak mengenal bahasa lain selain puisi. Amos Oz malah lebih radikal lagi. Novelnya, The Same Sea, adalah kumpulan puisi bebas yang bentuknya sama persis dengan kumpulan puisi kontemporer yang lazim kita temui (puisi-puisi pendek berjudul khas, yang tak terikat oleh bentuk, majas, atau kuplet gaya klasik).

Dalam dua kasus ini, nyatalah bahwa prosa tak lagi puitik, tapi memang puisi yang telah melompat ke dunia prosa. Lompatan yang juga terjadi dalam banyak esai-esai Goenawan Mohamad, khususnya pada esai-esai Catatan Pinggir periode awal. Suatu ketika malah saya pernah tercekam oleh sebuah Catatan Pinggirnya, kalau tak salah berjudul S.O.S., yang mengambil bentuk formal puisi. (Sayangnya, Catatan Pinggir ini tak terdokumentasikan dalam berbagai kumpulan tulisan Goenawan.)

Begitulah juga dengan esai-esai terbaik Sutardji Calzoum Bachrie dalam mengantar puisi di lembar Bentara Budaya Kompas. Ambisi puitik serupa tampak dalam esai-esai Hasif Amini, Afrizal Malna, cerpen-cerpen AS. Laksana, Nukila Amal, cerpen-cerpen Seno Gumira dalam kumpulan Di Negeri Kabut, karya-karya Gunawan Maryanto, dan—dalam kadar yang kurang berhasil—dalam karya-karya Puthut EA dan Ugoran Prasad serta banyak teman mereka di lingkaran penulis On/Off  dan Block Note. Sastra kita sama sekali tak kekurangan orang yang punya ambisi puitik.

Tapi, tetaplah: apakah puisi kita sedang mati?

*

Kalaulah puisi kita sedang mati, itu bukan terutama karena dunia kita sedang memprosa. Sontag, berdasarkan pengertian puisi sebagai kegiatan penamaan, mengembangkan pemahaman bahwa puisi adalah kebesaran yang dipadatkan (tak diluaskan seperti prosa). Ia menyebut-nyebut definisi klasik (antara lain dari para penyair besar Rusia dan Balkan abad ke-20), yakni puisi sebagai ”tujuan tertinggi dalam sastra, kondisi tertinggi dalam bahasa”. Ketika ia membahas karya Adam Zagajewski, Another Beauty, Sontag menggambarkan karya itu sebagai sebuah ”pembelaan bagi puisi—yakni, sebuah pembelaan terhadap gagasan mengenai keagungan sastrawi.” (Sontag, 2003)

”Keagungan literer”, literary greatness, adalah kata kunci dalam memahami keadaan ”puisi sudah mati”. Puisi mati bukan karena prosa, tapi karena tak ada lagi ambisi puitik yang cukup besar, yang mendorong upaya rigor untuk memenuhi ambisi itu. Puisi mati karena para sastrawan (atau yang mengaku sastrawan) muda kita begitu histeris meneriakkan kematian standar, kematian hirarki, kematian disiplin, kematian sastra besar atau sastra tinggi, kematian sastra kanon, dan sebagainya.

Orang sekarang jadi penyair bukan dengan keinginan menamai yang tak terkatakan, tapi karena merasa sudah pandai bikin kata-kata kabur (bukankah “sastra kabur”, seperti kata Budi Darma, sudah jadi salah satu genre yang populer?). Orang kini jadi penyair karena ia merasa memiliki (meminjam istilah yang selalu membuat saya tersenyum dari Ugoran Prasad dalam pengantar novelnya, Di Etalase) “verbalitas literer”. Sejak akhir 1990-an, apalagi tahun 2000-an ini, saya selalu dilelahkan oleh lanskap sastrawan baru kita yang kini membandang itu: bukan prosaik, bukan puitik, tapi kembang-kembang plastik!

*

Puisi sebagai penamaan keadaan yang tak terkatakan: mau tak mau ini membawa saya pada sebuah parabel dalam Quran. Yakni tentang Adam yang diajari nama-nama sebagai bekal menjadi khalifah Allah di muka bumi. Tapi kini, anak-anak Adam di dunia sastra kita sedang kehilangan kemampuan merengkuh nama-nama. Mungkin bukan salah mereka. Goenawan Mohamad, dalam pengantar yang resah bagi kumpulan cerpen terbaik Kompas, Tengkorak Dua Kepala, menyigi sebabnya pada represi Orde Baru.

Goenawan menamai ketakmampuan itu sebagai “deartikulasi”, yakni ketakmampuan mengartikulasikan perasaan dan pikiran lewat kata-kata. Penyakit deartikulasi ini menjangkiti para cerpenis kita, tapi, menurut hemat saya, lebih akut lagi menjangkiti banyak penyair baru kita. Ditambah jalinan kerunyaman yang sosiologis (pendidikan sastra yang buruk), ekonomis (akses terhadap sumber daya yang semakin sulit), psikologis (mentalitas jalan pintas), dan filosofis (globalisasi sebagai bencana babel baru), kini deartikulasi menjadi ideologi sastra yang baru.

Ah! Anak-anak Adam dalam sastra kita sedang melupakan nama-nama: mereka sedang asyik berpesta di sebuah kerajaan mediokrasi.***

Written by hikmatdarmawan

March 11, 2013 at 12:06 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: