But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

MERASA SALAH PUN TIDAK

with 19 comments

Image

Apakah mereka preman, seperti dituduhkan FPI? (Foto: jogja.okezone.com)

Ada tiga kasus dalam beberapa hari ini yang membuat saya berpikir soal rasa bersalah.

#1 Seorang supir metromini yang mengaku tak punya SIM dan sering ditilang, menabrak tiga siswi SMP di Rawamangun sampai cedera parah (salah satu, Bennity (13), akhirnya meninggal). Supir itu bilang, dia tidak mengantuk, “tapi korban itu tiba-tiba muncul.”

#2 Seorang kondektur KRL commuter line Bogor-Jakarta, perempuan, dipukuli oleh lima penumpang. Kelima penumpang itu tidak membayar tiket, dan kondektur perempuan itu memerintahkan kelima penumpang itu turun di stasiun Pasar Minggu. Tidak terima, kelima penumpang itu memukuli kondektur perempuan itu sampai wajahnya kini lebam, dan kabur.

#3 Kasus FPI melakukan sweeping di Kendal, dan dilawan warga. Saat lari, mobil milik FPI menabrak dan menyeret sejauh kira-kira 50 meter sebuah motor yang dikendarai seorang kakek dan istrinya –seorang guru SD, ibu Tri Munarti namanya. Ibu Tri Munarti tewas. FPI Pusat menyalahkan media dan warga Kendal: menurut mereka, bukan penduduk yang menghadang dan mengepung FPI Kendal itu, tapi para preman. Tak ada minta maaf atas tewasnya ibu Tri Munarti dan cedera parahnya sang suami ibu Tri Munarti. Ketika banyak pihak mengecam FPI, mereka malah lebih lantang lagi mengecam para pengecam FPI, termasuk melabel presiden RI sebagai “pecundang” dan “menodai Islam”.

Sebetulnya, masih ada satu kasus lagi: kafe Nazi di Bandung. Dalam wawancara dengan The Jakarta Globe dan perdebatan di sebuah grup FB, misalnya, pemiliknya juga tidak merasa bersalah. Begitu juga ada kasus lain: penggalangan dana masyarakat secara tidak sah oleh Yusuf Mansyur. Keduanya juga tak menunjukkan rasa bersalah. Tapi, sudahlah, saya sudah terlalu marah.

Ya, marah. Lebih tepat, tak paham sama sekali, kenapa bisa para pelanggar hukum itu tak merasa bersalah? (Ah, hukum apa? –begitu mungkin ada yang menyahut. Bagaimana kalau kita sederhanakan saja dulu: hukum kemasyarakatan dan kemanusiaan?) Ketidakpahaman terhadap soal ini membuat saya gamang, dan itu keadaan yang sama sekali tak enak: gamang. Maka, saya, mau tak mau, marah, sebagai tanggapan paling mudah atas kegamangan itu.

Mengapa sukar sekali mereka —yang disebut di atas— merasa salah? Lebih mengganggu lagi, pertanyaan: bagaimana agar mereka merasa bersalah? Ataukah (ini yang mengerikan, buat saya) memang tak bisa, dan jangan-jangan tak perlu (karena sia-sia untuk dicoba?)?

Bayangkan para penumpang KRL yang memukul kondektur perempuan itu, kan mereka tak membayar tiket, kok mereka yang malah marah terhadap kondektur yang menagih tiket dan memberi mereka sanksi? Nilai sudah terjungkir. Benar dan salah sudah nungging. Siapa korban siapa penegak kebenaran rupanya tinggal hanya soal perasaan saja. FPI tak malu-malu merasa jadi korban, dan merasa berhak membalas, dengan akan mengerahkan massa mereka menyerbu desa di Kendal itu. Bagaimana menggetok benak dan akal budi para pelanggar ini –atau memang kini soalnya adalah siapa bicara paling lantang?

Saya bukan orang yang terlalu percaya pada pendidikan nilai yang dibangun dari sekadar rasa bersalah. Terlalu menanamkan dan mengakarkan rasa bersalah sebagai dasar hidup manusia bagi saya tak sehat.

Tapi, manusia selalu melakukan kesalahan. Saya juga. Beberapa kesalahan saya malah terhitung besar dan bajingan. Di titik itu, saya merasa penting untuk punya kemampuan merasa, dan mengakui bersalah, sebelum hidup maju lagi. Ya, bagaimana hidup bisa maju, bagaimana saya bisa belajar, kalau untuk merasa salah atas kesalahan saya saja saya tak mampu? Bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan, yang pasti terjadi?

Merasa bersalah dulu deh, kalau kita memang salah. Apa kemampuan untuk merasa salah itu memang sedang hilang? Kok, bisa?

Tapi, ya, kalau melihat bagaimana Soeharto bisa melenggang masuk kubur dengan tanpa pernah dimintai pertanggungjawaban atas segala pembantaian dan penindasan yang ia bidani sejak 1965 hingga 1998, dan beberapa jenderalnya yang jadi tangan pembantaian dan penindasan itu malah jadi pejabat dan bahkan berani mencalonkan diri jadi presiden 2014, buat apa heran?

Kita mungkin memang lebih terlatih untuk merasa tak bersalah atas kesalahan terbesar sekali pun. Dan anak-anak kita sedang belajar itu juga, saat ini, mungkin. ***

Written by hikmatdarmawan

July 24, 2013 at 5:25 pm

Posted in budaya, Rupa-rupa

Tagged with ,

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. kenapa susah minta maaf?
    yg diperangi FPI selalu urusan dunia/ragawi soalnya. perhatikan sj, yg mereka perangi adalah yg kasat yg kemudian disepakati sebagai melanggar aturan agama. tanpa peduli bahwa pelanggar itu beda syariat dgn mereka. padahal kalau beda syariat kan berarti beda aturan. itu yang harusnya dipahami oleh mereka.

    masalahnya akan beda jika konsep beragama itu sebagai jalan ruhani agar ruh masing2 pengkutnya tersambung ke zat illahi. pasti ga bakalan sibuk ngurusin yg kasat, yg pengggoda yg sejatinya adalah setan.

    jangan2 FPI disini justru dibenci setan karena mengambil peran mereka.. yg bersumpah akan membuat manusia melupakan ruhnya, lalu sibuk dgn urusan jasmani..hehehe.

    kembali ke minta maaf. itu urusan ruhani. FPI blum sampai kesana. perlu pencerahan.
    mungkin harus dibikinin pengajian ruhani. agar mereka sadar, kalau sering bikin sakit hati, akan membuat ruh mereka terhambat mengasup doa2. lalu percumalah amalan2 ibadah mereka🙂

    seblat

    July 24, 2013 at 6:33 pm

    • haha, tanggapan yang asyik, Seblat.
      tapi, soalnya bukan sekadar FPI loh, tapi seperti merajalela kecenderungan tak-etis di masyarakat kita. apakah semua, seperti FPI yang ente tengarai, karena materialisme yang semakin mengakar?

      hikmatdarmawan

      July 24, 2013 at 8:24 pm

      • satu2nya cara “menyadarkan” mereka ya “menyentuh” pemimpinnya. si rizieq sihab. karena dia yg akan diamini oleh semua elemen FPI. memberi pemaknaan ulang tentang agama sebagai gerakan ruhani, bukan pemenuhan hasrat jasmani. agama tak bisa dicampurkan dgn cita2 kekuasaan jasmaniah, meski itu atas nama ingin membangun kekuasaan islam/ daulah islamiyah. urusi dulu ruh masing2 umatnya, kerna itu esensi beragama. (weit beratt.hehehe) tinggal nyari siapa nih yg mau dihadapkan dgn rizieq/ yg pasti bukan Ulil..hehehe

        seblat

        July 24, 2013 at 10:55 pm

  2. Ketika masuk ranah “merasa”, sepertinya kita akan mudah tergelincir ke pembahasan soal mentalitas ya. Etapi disclaimer dikir, “tergelincir” bukan berarti nuansanya negatif ya. Cuma tidak tepat sasaran dengan yang ingin kutanyakan. Aku cuma penasaran aja, kalau soal mentalitas kan biasanya bisa meleset kembali ke “kembali ke masing-masing orang”, padahal itu yang ingin kita hindari. Faktor lingkungan, termasuk di antaranya pendidikan, jelas berperan besar di sini, bukan? Nurture masyarakat kita untuk menyuburkan manusia-manusia kebal rasa salah ini sudah terlalu canggih.

    My point is… menyalahkan mentalitas kayaknya emang sudah sia-sia ya. Yang bisa kita lakukan adalah merekayasa lingkungannya. Cuma karena ya masalahnya lingkungan, masalah nurture, seberapa efektif ya “perlawanan” kita untuk melawan arus pembebalan yang kadung masif begini? Kelompok-kelompok masyarakat yang mencerahkan muncul di banyak tempat, tapi zombie pembebalan arusnya kuat sekali, effortless.

    Apa kita beneran harus terjun ke… politik? :p

    #lagingalorngidul

    Ifan Ismail

    July 24, 2013 at 7:31 pm

    • haha, Ifan, ngalor-ngidul-mu asyik.
      saya sebetulnya tidak membatasi soal ini pada masalah mentalitas.
      ini masalah kepekaan etis. artinya, masalah bagaimana kita mampu memahami dan menjawab berbagai persoalan etis itu. Kemampuan etis itu, atau mungkin keseluruhan pendidikan etika itu sendiri, yang terasa semakin tergerus di dalam masyarakat kita. seolah masyarakat kita semakin tak etis. dan pastilah itu memiliki sebab-sebab strukturalnya sendiri: pendidikan yang buyar? hancurnya ruang komunikasi publik sebagaimana yang dipahami Habermas? kesenjangan sosial yang menyebabkan banyak sekal dislokasi sosial yang menyulitkan penerapan etika dalam kehidupan sehari-hari bangsa ini? Banyak pertanyaan, terlalu tak memuaskan upaya-upaya untuk menjawabnya. tapi, tetap harus dicoba, membangun masyarakat etis itu, Fan, tetap harus diupayakan. antara lain dengan memperbanyak pertanyaan dan percakapan semacam ini. Antara lain loh ya.🙂

      hikmatdarmawan

      July 24, 2013 at 8:31 pm

  3. maybe magneto – and on this case, also cyclops – was right 3:)

    bapakranger

    July 24, 2013 at 9:17 pm

    • “Tak ada minta maaf atas tewasnya ibu Tri Murti dan cedera parahnya sang suami ibu Tri Murti”

      coba cek ini:
      http://www.islamedia.web.id/2013/07/bertemu-suami-korban-insiden-kendal.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=facebook#.Ue-AdpZpaQs.facebook

      lain kali kalo menulis, cari dulu data yang benar. sebab bisa menyesatkan orang yang membaca.

      eko

      July 25, 2013 at 9:56 am

      • Tentu ada perkembangan baru dari kasus FPI di Kendal. (Lihat tanggal tulisan saya –itu bukan soal data yang salah, tapi data yang belum ter-update.) Orang bisa update sendiri, dan catatan saya pun ter-update dengan link Anda (kebetulan Anda duluan saja mengabarkan perkembangan baru itu daripada saya). Tapi Anda salah fokus, saya bicara permasalahan masyarakat yang lebih luas. Kenapa Anda pakai kacamata kuda seolah tulisan ini hanya soal FPI? Sensitif amat kalau nyinggung sedikit saja soal FPI.

        hikmatdarmawan

        July 25, 2013 at 8:09 pm

  4. ngeri !.
    gw jadi inget si adi di act of killing. entah berapa ratus orang dia bantai sampai mati, dia bilang, ga pernah tuh timbul perasaan bersalah.

    Rieza Fitramuliawan

    July 25, 2013 at 7:51 am

  5. Tambah lagi, Pak:
    – Warga waduk Jakarta yang menempati tanah negara bertahun-tahun, sudah tidak bayar pajak, menyebabkan banjir, ketika diminta pindah, malah minta ganti rugi.
    – Penerima BLSM tapi memiliki BB dan motor, kenapa tidak?

    Menurut saya, alasan yang dikemukan adalah, “saya wong susah, rakyat kecil” makanya dengan alasan itu tindakan apa pun akan dimaafkan dan dimaklumi. Kondisi kita sudah dipupuk bahwa kalau kita hidup susah, yang lain seharusnya mempermudah kita (bukankah hidup kita sudah sulit, yang hidupnya lebih mudah seharusnya mampu menolong, bukankah begitu?) dan akhirnya menjadi manja. Udah keenakan dan tidak mau mandiri, maunya disuapin. “Saya rakyat kecil, saya tidak mungkin salah”. Mobil menabrak sepeda, pasti sepeda yang salah, toh orangnya mampu beli mobil, bukankah begitu?

    Ketergantungan dan ketidakmandirian ini juga memicu hal lainnya: berlindung di balik nama kelompok dan ikut-ikutan. Kalau bergerombol, pasti benar. Kalau punya massa, saya aman. Bukankah suara terbanyak adalah suara yang benar?

    Semenjak sekolah, kita diajarkan untuk mengikuti perintah. Di dunia kerja, kita mengikuti perintah, pilihan lainnya kelaparan. Di rumah, kita mengikuti perintah orang tua tanpa bertanya. Kita terbiasa mengikuti perintah dan bukan berpikir untuk diri sendiri. Orang yang tidak mengikuti kebiasaan itu salah, Orang yang berbeda itu harus dilawan. “Kalau saya salah karena mengikut perintah, salahkan pemimpinnya. Saya tidak bersalah.”

    Di lain pihak, kita makhluk sosial. Mengikuti aturan masyarakat juga tertanam dalam diri kita. Dan kalau sisi sosial terlalu dominan sementara norma masyarakat tidaklah mendukung hati nurani, mungkin itu yang terjadi sekarang. Mungkin.

    anonymous

    July 25, 2013 at 9:33 am

    • Contoh-contoh Anda yang menyalahkan rakyat kecil terlalu menyederhanakan masalah dan berprasangka. Pikiran bahwa orang miskin adalah manja sungguh rawan terhadap kebutaan akan persoalan keadilan. Tentu saja orang tidak jadi suci hanya karena miskin. Tapi, kita harus selalu hati-hati memahami kemiskinan, apalagi kesenjangan, dan segala yang terjadi di dalam konteks kemiskinan itu, termasuk kejahatan-kejahatan yang terjadi di dalamnya. Kalaulah Anda tak belajar ilmu sosial untuk lebih memahami itu, minimal perbesar dulu lah empati Anda terhadap golongan yang di pinggir dan tersingkir. Saya tak tahu latar belakang SSE (sosial-ekonomi, yang diukur dari pendapatan dan belanja) Anda, apa Anda termasuk kelas menengah kota, kelas atas, atau justru kelas bawah yang tak puas akan keadaan orang kelas bawah di sekeliling Anda. Tapi, bahasa Anda di sini baik, runut, tertata. Anda juga bisa mengakses internet. Dari segi keterdidikan, Anda saya kategorikan kelas menengah. Di kota, atau desa? Entah. Tapi, sebagai kelas menengah, saya menyarankan gunakan akses Anda terhadap pengetahuan untuk memperbesar empati pada golongan terbesar masyarakat negeri ini, masyarakat kelas menengah-bawah ke bawah: mereka bukan orang suci, banyak melakukan kesalahan, tapi mereka memiliki hayat hidup yang harus kita jaga, dan mari kita sama-sama memperjuangkan agar kesenjangan bisa kita perkecil. Prasangka-prasangka terhadap golongan miskin hanya akan menambah lebar kesenjangan itu –dari kesenjangan ekonomi, menyebar jadi kesenjangan persepsi dan pikiran.

      hikmatdarmawan

      July 25, 2013 at 8:24 pm

  6. Coba kita lihat, siapa duluan yang melanggar peraturan? Jika lokalisasinya tidak buka apakah kejadian?

    abang

    July 25, 2013 at 3:10 pm

    • Tanggapan Anda ini cuma akan membawa pada debat kusir, mana telur mana ayam. Saran saya, Anda belajar berempatilah sedikit pada korban tewas itu.

      hikmatdarmawan

      July 25, 2013 at 8:04 pm

      • Apa pun yang sudah dilakukan FPI dengan yang berduka cita pasti anda akan tetap mencibir. Jadi gak perlu saya jelaskan apa yang telah dilakukan Habib Rizieq terhadap keluarga yang berduka cita. Kalau anda belum shalat 5 waktu di awal waktu dan di tempat adzan dikumandangkan plus istiqamah shalat tahajud dan dhuha saya maklum kalo anda membela preman kafir daripada penegakan amar ma’ruf nahi munkar. Agama apa yang membolehkan pelacuran? Itu melanggar aturan paling hakiki. Yang ribut-ribut belain preman lokalisasi, saya tanya apakah mau keluarga anda jadi pelanggan atau penghuni lokalisasi. Mau omong HAM, malah yang bela preman malah melanggar HAM istri dan keluarga karena nyeleweng.

        abang

        July 27, 2013 at 7:21 am

      • Saya approve komentar ini untuk jadi contoh, betapa orang yang memakai agama sebagai argumen bisa jatuh ke dalam sikap congkak, penuh prasangka, dan merendahkan orang lain. “Kalau anda belum shalat 5 waktu di awal waktu dan di tempat adzan dikumandangkan plus istiqamah shalat tahajud dan dhuha saya maklum kalo anda membela preman kafir daripada penegakan amar ma’ruf nahi munkar.” –betapa congkaknya. Dan ndableg. Sudah dibilang tulisan ini tentang soal yang lebih besar dari FPI, kok ngeyel dan malah nyinggung-nyinggung shalat orang lain. “Preman kafir”? Umar bin Khattab itu mantan preman yang pernah membunuh anaknya sendiri. Beliau tidak dapat hidayah karena sweeping atau dilabel2 dan dihina2 soal keberagamaannya. Akhir hidup orang siapa yang tahu, kok enak banget nge-label orang lain seolah dirinya sendiri sudah pasti masuk sorga.

        Semoga Allah memberi hidayah pada orang-orang yang congkak dan merasa sudah beres agama mereka sampai-sampai merasa berhak merendahkan orang lain.

        hikmatdarmawan

        July 27, 2013 at 4:07 pm

  7. Waduh siapa yang bilang saya masuk sorga. Point tanggapan saya terhadap berita ini adalah kenapa lebih pro pada kemaksiatan?

    abang

    July 27, 2013 at 11:45 pm

    • apakah anda pro kekerasan?
      FPI kan bisa mengambil jalur yang lebih damai, mereka bisa “jihad” dengan memberi tausiah soal jeleknya prostitusi, mereka bisa memberi alternatif pekerjaan yang lebih baik, itu juga kalau memang FPI berniat menghapuskan kemaksiatan dengan baik dan sesuai hukum…

      Geddy

      August 1, 2013 at 2:12 am

  8. istilah jawa-nya itu ‘mburog’. mungkin dalam hati dia merasa bersalah, tapi dia juga merasa dia harus menang, dan untuk menang itu nggak bisa ditempuh dengan menunjukkan rasa bersalah.
    dalam masyarakat, orang-orang kayak gini lebih gampang ditemui (dibanding kemungkinan bertemu orang yang berani ngaku salah, tahu kesalahannya, dan mau menerima konsekuensi dr kesalahan tsb).
    kenapa ya? mungkin karena lebih sulit untuk mengajarkan orang untuk menjadi seperti yg dalam tanda kurung di atas itu. lebih gampang lagi untuk nggak mengajarkan apa-apa.
    dan lebih gampang lagi untuk menelan omongan semacam motivator, bahwa ‘kamu istimewa’, ‘kamu pasti bisa’, ‘kalau punya kemauan, pasti ada jalan’.
    lha jalan yg kayak apa dulu? punya kemauan utk menang dan bebas dari kasus, tapi jalannya dengan membunuh rasa bersalah dalam diri.

    nafasdunia

    July 29, 2013 at 3:09 pm

  9. “Kalau anda belum shalat 5 waktu di awal waktu dan di tempat adzan dikumandangkan plus istiqamah shalat tahajud dan dhuha saya maklum kalo anda membela preman kafir daripada penegakan amar ma’ruf nahi munkar.”

    komentar diatas itu hebat, apakah agama itu sebatas ritual ritual saja? inti dari beragama itu apa? kalau tidak salah dengar, bukankah Islam itu adalah agama yang rahmatan nilallamin? ilmu agama saya masih jauh dari sempurna, tapi, kalau rahmatan nilallmin itu diartikan boleh mencaci, menyeret pengendara motor, memukul menggunakan pentungan, dan angkuh; saya pikir sudah terlalu dangkal pengertiannya…

    Indonesia (dulu) dikenal sebagai negara yang damai dan harmonis, sekarang? nasionalisme tergantikan oleh fanatisme agama yang dangkal…

    Geddy

    August 1, 2013 at 2:09 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: