But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

MEMORABILIA, KEHILANGAN, DAN IMAM AL-GHAZALY

leave a comment »

fresh Eduardo Paolozzi

drawing by: Eduardo Paolozzi

1.

Ada lebih banyak nomad dari yang mungkin kita sadari, dalam kehidupan modern ini. Hidup dari satu tempat ke tempat lain, tak menetap di satu tempat, kecuali untuk sementara. Bedanya dengan hidup nomaden di masa pramodern, hanyalah pada jenis ruang tempat para nomad modern –atau kaum nomaden di era modernisme-tahap-lanjut (late modernism) masa kini–  beralih-alih tempat tinggal.

Para komuter, boleh jadi menyimpan sifat nomaden modern itu. Apalagi para komuter Jakarta: hidup banyak habis dalam perjalanan, dan seolah tak terlalu mengakar di rumah mereka (jika mereka punya). Tapi, yang jelas memikul sifat nomaden modern itu adalah mereka (kita) yang belum memiliki rumah dan harus hidup mengontrak atau kos.

Para mahasiswa rantau yang harus kos, atau numpang hidup di rumah saudara atau kerabat mereka. Atau para pekerja musiman dari kampung ke kota-kota. Atau para “manusia gerobak”. Semua memikul sifat nomaden modern itu, seakan sebuah kutukan yang telah rutin.

Mereka berada di sela-sela modernitas, menyusup dan mendekam dari satu ruang ke ruang lain di dalam dunia rumit dan serba-tak-perduli ini. Kuliah. Kerja. Nonkrong. Tidur. Diikat oleh kesementaraan demi kesementaraan. Hidup sukar mengakar secara dalam. Hidup seperti mosaik, berjejak pada kenangan-kenangan yang seperti kolase.

Rumah hanya bisa secara resmi menjadi milik selama sebulan demi sebulan, atau paling banter setahun demi setahun. (Ah, lalu, apa artinya memiliki?) Setiap saat, hidup itu bisa tercerabut: induk semang mengusir, atau memang ikatan fungsional selesai (lulus kuliah, atau pindah kerja).

Banyak dari para nomaden modern akhirnya terpaksa mengakarkan diri hanya pada sesuatu yang abstrak: pada perasaan-perasaan betah berada dalam “sesuatu”, atau pada sebuah gagasan bahwa kita memiliki sesuatu yang “bermakna”.

 

2.

Ah, bukannya saya mau pesimis atau sinis. Ini tak saya niatkan jadi tulisan murung. Tapi, demikianlah: kita, manusia modern, memikul kembara ini. Atau itukah kutuk kita? Peter L. Berger, sosiolog penerus Max Weber itu, menulis sebuah buku khusus tentang karakter manusia modern yang memiliki “pikiran kembara”.

Dalam buku itu, Berger tak seperti hendak merayakan karakter kembara itu. Walau, ia juga tak tampak menyesali. Ia hanya menggambarkan keadaan itu: pikiran kembara (homeless mind) sebagai hasil dari proses modernisasi yang membawa pada kebingungan dan kecemasan –proses yang membawa manusia pada teknologi baru, dan dengan demikian membawa kita juga kepada cara baru memandang berbagai hal.

Cara-cara baru untuk hidup yang membuat kita gamang, merasa terkucil, karena berbagai gerak besar di sekeliling kita semakin tak bisa dikendalikan: dunia yang semakin membelah hidup seseorang jadi “wilayah publik” dan “wilayah privat/pribadi”.

Modernisasi –gerak raksasa itu, terjadi juga di tingkat perorangan. Seseorang dalam dunia modern seakan ditakdirkan untuk tumbuh dari seorang warga modern pasif ketika kanak (ketika semua hal tinggal kamu terima saja) menjadi warga modern aktif (ketika kamu harus mengambil keputusan-keputusan penting bagi hidupmu, agar dapat bertahan dalam hidup modern ini).

Kamu merasakan bahwa semakin kamu dewasa, semakin kamu ditinggalkan dunia sekelilingmu untuk semakin sendirian mengurusi hidup kamu. Kamu membelah diri, karena dunia memandatkan peran-peran sosial di wilayah publik.

Menjadi pelajar sekolah yang semakin lama dituntut untuk semakin mandiri. Lalu, jadi mahasiswa, berjalan menuju dewasa –yang seringkali berarti (harus) semakin menguasai keterampilan berperan macam-macam, mengelola harapan-harapan orang lain kepada kita, memasang topeng-topeng agar semua bisa berjalan baik tanpa diganggu terlalu banyak oleh emosi-emosi pribadi. Lalu, kamu bekerja –sebuah dunia yang lebih rumit lagi.

Kamu jadi terlatih untuk membedakan yang mana yang bisa ditampilkan ke publik, yang mana yang musti kamu simpan sendirian atau bersama orang-orang terdekat kamu saja.

Lalu, segala yang ada dalam dunia pribadi menjadi segalanya: setiap kita ingin, dan selalu, menciptakan surga kecil kita sendiri. Surga yang dipenuhi kenangan-kenangan yang menenangkan, mungkin juga lengkap dengan benda-benda pemantik kenangan-kenangan itu.

 

3.

Apakah kenangan bisa disimpan secara fisik? Kita sering percaya itu. Kita sering melakukannya: menyimpan memorabilia, benda-benda kenangan dari kejadian-kejadian yang kita anggap penting dalam hidup kita.

Penting. Apakah arti “penting”? Dalam hal kenangan yang dibendakan, atau tepatnya kenangan yang dilekatkan pada sebuah atau lebih benda, hakikatnya yang kita lakukan tak lain adalah melekatkan makna pada sebuah benda. Sebuah benda menjadi “penting” karena makna yang kita lekatkan padanya. Dan makna tersebut tercipta antara lain ketika kita menghubungkan kenangan dengan benda.

Tapi, semua benda, semua hal, di dunia ini mengemban sebuah sifat yang diam-diam, tanpa suara, sungguh mutlak: benda-benda itu, kita semua, fana.

 

4.

Kesementaraan adalah takdir kita. Tapi kita ingin melupakan itu. Kita selalu berusaha mengabadikan yang kelak retak, yang kelak hilang, yang kelak tiada. Yang fana.

Apalagi dalam hidup nomaden modern: pikiran kembara kita membutuhkan jangkar. Pembelahan hidup publik dan privat semakin tajam. Kita membutuhkan pegangan akan segala kenangan, segala yang telah lalu, itu untuk bertahan hidup: agar kita bisa tetap merasa utuh, dan berfungsi.

 

5.

Tapi, kefanaan, sayangnya, sering hadir tanpa bisa diatur. Kadang kefanaan yang satu hadir lebih cepat dari yang lain. Sebuah benda hilang, atau rusak, lebih cepat dari yang lain. Sebuah kenangan pudar, lebih cepat dari yang lain.

 

6.

Suatu masa, dahulu sekali, seorang muda yang nantinya akan termasyhur, berjalan dari kota ke kota, mencari ilmu, dengan keledai atau onta yang memikul kantung-kantung besar berisi kitab dan buku-buku catatannya. Ia ugahari, hidup bersahaja, tak meminta banyak dari dunia ini, hanya agar bisa bertambah dan bertambah saja ilmu dan pemahamannya akan dunia ini.

Pemuda itu, suatu saat nanti, akan dikenal sebagai Imam al-Ghazaly. Dan di suatu waktu, ia dihadang sekelompok perampok: orang-orang yang degil, kasar, dan hendak mengambil semua yang ia punya.

Al-Ghazaly memohon pada pimpinan perampok, boleh mereka mengambil semua hartanya, tapi jangan, mohon jangan, jangan ambil buku-buku catatannya. “Semua ingatanku ada di situ, semua ilmuku di situ, jangan, jangan ambil itu…,” sang pemuda calon imam itu menghiba.

Sang pimpinan perampok mendengus. “Salah sendiri,” katanya, “kenapa kau mengandalkan ingatan dan ilmumu pada buku-buku ini!” Lalu, mereka mengambil semuanya dari al-Ghazaly.

Sang pemuda terpana. Ya, kehilangan itu menyakitkan. Sangat merugikan. Tapi, sang perampok meninggalkan pelajaran berharga. Sejak itu, al-Ghazaly mengerahkan segala daya otak dan hatinya agar tak pernah lagi kehilangan ilmu secara demikian. Al-Ghazaly tak lagi menyimpan ilmunya di buku-buku, tapi di dalam dirinya –dalam benak, dan hatinya.

 

7.

Ya, itu sebuah cerita nyaris romantis. Kita, yang hidup di dunia penuh distraksi, bisa bertanya-tanya, bisakah kita menyimpan segala kenangan dan kebenaran di dalam diri kita saja? Tak kah boleh kita menyimpan benda-benda, pengikat kenangan dan kebenaran waktu-waktu yang telah lewat?

Manusia nomaden modern selalu mencoba melawan kefanaan. Masing-masing punya cara, mungkin tak ada yang salah. Tapi kefanaan adalah sama mutlaknya dengan hidup dalam setiap nafas yang keluar dan masuk tubuh kita.

Bahkan, kefanaan adalah yang memberi makna pada kehidupan. Setiap kita akan mengalami kehilangan. Tapi, mungkin saatnya kita bertanya: apakah setiap kehilangan akan mengurangi keutuhan diri kita?

Ataukah sebaliknya: setiap kehilangan justru akan melengkapkan diri kita?

Seperti al-Ghazaly, yang mengubah kehilangan buku-bukunya menjadi peluang untuk memperbesar ruang di dalam dirinya agar lebih banyak terisi kebenaran dan kenangan. Kehilangan telah membuatnya tumbuh.

Dan, semoga, suatu saat nanti, sang nomad modern akan tumbuh sedemikian besarnya, sehingga dunia rumit ini akan menjadi rumah yang ramah, dalam segala baik dan buruknya –menjadi surga pribadinya, yang luas dan penuh. ***

 

*Untuk Caca.

Tegal-Jakarta, Idul Adha 2013.

 

Written by hikmatdarmawan

October 15, 2013 at 7:30 pm

Posted in Personal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: