But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

#NotaCinta 01

leave a comment »

Image

Drawing by Judith van den Hoek

Agaknya, salah satu hasrat terbesar dalam mencintai adalah hasrat ingin dikenali.

Ya, kita semua cenderung melekatkan perasaan mencintai dengan kehendak memiliki. Itu wajar, alamiah. Tapi, saya berpikir tentang sebuah cerita tentang Tuhan. Sebuah upaya menjawab misteri, tepatnya. Kenapa Tuhan mencipta semesta alam dan, terutama, kita, manusia? Seseorang menjawab: karena Tuhan ingin dikenali.

Dalam mitologi keagamaan yang lazim, Tuhan adalah Sang Maha. Ia bisa hidup sendiri saja. Tapi, kesendirian yang lebih besar dari alam semesta itu akhirnya memunculkan sesuatu –yang dalam keterbatasan akal saya, adalah semacam kehendak, hasrat. Ia mencipta manusia, kita, agar ada yang dapat mengenali-Nya –Sang Maha Sendiri.

Mungkin, itu lebih menggambarkan kita, manusia, yang selalu terlahir sendiri, hidup dalam risiko bersendiri setiap saat, lalu mati sendiri. Kita tumbuh, menjadi sebuah Diri yang unik. Kita menjadi individu, pribadi, seseorang yang bukan yang lain. Tapi, orang lain itu ada. Kita mencoba berjumpa, menyapa, mencoba mencari tempat di antara orang-orang lain.

Kita pun membelah diri. Ada Diri yang ditampilkan untuk orang lain, muncul di permukaan, “panggung depan”. Ada Diri yang diam-diam surut ke belakang, ke ruang privat, bersendiri, menjadi inti Diri. Tapi, siapa yang mengenalinya?

Diri yang di dalam itu, mungkin selalu berdiang dalam hangatnya ruang dalam jiwa, tak ingin dilihat oleh sembarang orang. Harus seseorang yang sangat khusus, seseorang yang istimewa, yang bisa melihatnya. Mengenalinya. Mengenali bahwa ia tak selamanya seperti Diri yang manggung di permukaan. Mengenali, dan menerimanya. Mengenali bahwa Diri yang di dalam itu punya banyak titik rapuh, dan orang lain yang istimewa itu menatap seolah berkata, tak apa, tak ada yang salah denganmu, kau sungguh tak apa.

Ataukah begini: karena sang orang lain itu mampu berkata, kau sungguh tak apa itulah, maka si orang lain menjadi seseorang yang khusus, yang istimewa? Karena ia mengenalimu, ia menjadi seseorang yang kaucintai –begitukah?

Seseorang yang mau menemanimu duduk berdiang dalam ruang dalam jiwa…. ***

Soundtrack:

Himbauan Jiwa – Pahama

Unusual Way – Griffith Frank

Written by hikmatdarmawan

January 7, 2014 at 12:44 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: