But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

DIAM

leave a comment »

Adegan film Omar Khayam (Sutradara: William Dieterle, 1957)

Adegan film Omar Khayam (Sutradara: William Dieterle, 1957)

Omar Khayam memilih diam. 800 tahun kemudian, di abad ke-19, suaranya terdengar di dunia modern. Perjalanan sebuah suara kadang begitu aneh. Justru di Baratlah suara hati Khayam mulai terdengar lagi. Dan baru kemudian ia masyhur kembali di negerinya sendiri, Persia (Iran).

Seorang penyair Skotlandia yang tak dikenal, Edward J. Fitzgerald (1809-1883), menerjemahkan ruba’iyat Khayam ke bahasa Inggris. Maka masyhurlah Khayam si penyair, setelah sebelumnya ia lebih dikenal sejarah sebagai astronom dan ahli matematika. Terjemahan Fitzgerald didasari keyakinan bahwa Khayam adalah seorang epikurian (aliran filsafat yang menganggap kesenangan duniawi adalah segala). Jadilah Khayam seorang penyair-anggur, yang memberi konfirmasi dan menghidupkan pesona budaya anggur di Barat, yang “ruba’iyat anggur”-nya sering dikutip dalam toast atau film-film romantis Hollywood.

Fitzgerald menganggap lemah argumen yang menyatakan pemujaan Khayam terhadap anggur adalah perlambang mistik. Terjemahan Fitzgerald adalah terjemahan bebas yang mengandung bias Barat; sedang ruba’iyat Khayam sendiri sering dipalsukan oleh para penyair Persia pemuja anggur. Toh Fitzgerald-lah yang pertamakali menyuarakan Khayam setelah 800 tahun Khayam sendiri memilih diam. Kenapa Khayam memilih diam?

Dunia Khayam adalah dunia tempat semua orang merasa benar dan bicara dengan yakin, ngotot, adu kuat, tak kenal kompromi. Dunia Khayam adalah baurnya ilmu dan politik praktis, bergeseknya berbagai agenda, kuatnya mobilisasi opini publik. Sebuah dunia yang, di mata Khayam, terlalu dipenuhi debat keras hampa makna. Sebuah dunia penuh pembersihan, telunjuk dan kepalan serba mengacung, dunia hitam putih yang menolak nuansa, dunia yang penuh dengan para fanatik di setiap aliran yang ada ketika itu.

Maka Khayam memilih diam. Ia bukan takut. Ia agaknya sadar bahwa dalam dunia tegang itu, sebuah suara — betapapun benarnya ia — selalu berisiko menambah berisik, menambah kisruh. Qifti, seorang sejarahwan Islam klasik, mengkritik diamnya Khayam, menganggap itu sebagai sebuah tragedi intelektual: Khayam tak membagi pikiran-pikiran terdalamnya ke sebuah zaman yang amat membutuhkan kedalaman. Tapi mungkin Khayam benar: zamannya tak menghendaki kedalaman —suaranya akan lebih didengar di zaman lain, di zaman kita kini.

Segala rahasia hati yang arif

Harus lebih disembunyikan daripada rahasia Funiks

Sebab tersembunyi lama di kulit kerang di dasar lautan

Tetesan air berubah jadi mutiara pada akhirnya

Juli, 2000

(“Funiks” adalah “phoenix”, yaitu burung mistis dalam tradisi sastra Persia, yang antara lain melambangkan Tuhan. Kutipan dari Ruba’iyat Omar Khayam terjemahan Abdul Hadi WM, terbitan Mizan. Terjemahan Fitzgerald bisa Anda dapatkan gratis di www.grtbooks.com .)

Written by hikmatdarmawan

February 1, 2014 at 1:27 am

Posted in budaya, sastra

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: