But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

VERTIGO: TIGA GENERASI PLUS (Bagian Dua)

with one comment

Vertigo_Jam_00fc

Fase pertama: menekankan fantasi-horor

(1)

Boleh dibilang, Karen Berger terlahir untuk menjadi editor lini penerbitan Vertigo/DC. Berger adalah sarjana sastra Inggris lulusan Broklynn College dengan pendidikan sarjana muda di bidang seni rupa. Pada 1993, ketika DC Comics memutuskan meluncurkan sebuah lini penerbitan komik fantasi untuk orang dewasa, Berger sudah menjalin hubungan baik dengan beberapa penulis dan seniman gambar yang dianggap cocok untuk menjadi barisan awal para pencipta komik lini tersebut.

Sebutlah Neil Gaiman, Grant Morrison, Peter Milligan, Jamie Delano, Garth Ennis, Dave McKean, Steve Dillon, dan Matt Wagner. Kecuali Wagner, yang lain adalah pengarang komik dan seniman gambar dari Inggris. Berger menyukai mereka, dan merasa cocok dengan kecenderungan mereka untuk menutur kisah yang dewasa bahkan pada komik-komik superhero mereka. Berger pertama kali berjumpa dengan Gaiman, Morrison, dan Milligan, dalam perjalanan mencari bakat baru di Inggris pada 1987.

Menurut Berger, para penulis Inggris itu punya “kepekaan dan sudut pandang mereka sungguh beda dan menyegarkan, lebih tajam dan lebih cerdas dari kebanyakan komikus Amerika.”[1] Dengan bekal itu, ditambah sukses Sandman karya Gaiman yang sedang naik pamor dan jadi pembicaraan publik luas, Berger diberi mandat untuk meneruskan dan mengembangkan Vertigo, dengan misi, menurut Berger, akan “melakukan sesuatu yang berbeda dalam komik, dan membantu medium itu menjadi ‘dewasa’”.

Death: The High Cost of Living, no. 1 (first print). By Neil Gaiman & Chris Bachalo.

Death: The High Cost of Living, no. 1 (first print). By Neil Gaiman & Chris Bachalo.

Cuplikan dari Death: the High Cost of Living.

Cuplikan dari Death: the High Cost of Living.

Seri yang sudah terbit sebelumnya dan beralih ke naungan Vertigo adalah Swamp Thing no. 129, Hellblazer no. 63, Sandman no. 47, Doom Patrol no. 64, Animal Man no. 57, dan Shade, The Changing Man no. 33. Sementara, komik asli pertama yang memakai logo Vertigo adalah Death: The High Cost of Living no. 1, sebuah miniseri tiga nomor karya Gaiman dan Chris Bachalo, yang juga merupakan cabang dari cerita Sandman. Beberapa minggu kemudian, terbit miniseri Enigma (Peter Milligan & Duncan Fegredo), Sebastian O (Grant Morrison & Steve Yeowell), Mercy (J.M. DeMatteis & Paul Johnson), dan Shadow Fall (John Ney Rieber & John Van Fleet).

Enigma no. 1 (Vertigo/DC Comics), w/a: Peter Milligan, Duncan Fegredo

Enigma no. 1 (Vertigo/DC Comics), w/a: Peter Milligan, Duncan Fegredo

 

(1.a.)

Seri Hellblazer yang merupakan spin off atau percabangan dari jagat Swamp Thing rekaan Alan Moore, adalah seri tertua yang masih terbit hingga kini dalam lini Vertigo. Berkisah tentang John Constantine, si master manipulasi dan penyihir yang selalu berjalan dalam sisi gelap manusia, seri ini mulanya ditulis oleh Jamie Delano. Pendekatan Delano adalah horor murni, dengan memetik khasanah horor terutama dari dunia ajaran Yudeo-Kristiani, sambil memetik juga khasanah horor dari Afrika dan Asia.

cuplikan Hellblazer no. 63, Vertigo/DC Comics. w/a: Garth Ennis, Steve Dillon.

cuplikan Hellblazer no. 63, Vertigo/DC Comics. w/a: Garth Ennis, Steve Dillon.

Pada saat seri ini mendapat label Vertigo di sampulnya, pada no. 63, tim penciptanya adalah Garth Ennis (penulis) dan Steve Dillon (penggambar). Keduanya dari Inggris, dan nantinya jadi tim pencipta seri laris Vertigo lainnya, Preacher. Ennis memberi tekanan pada aspek Kristiani dalam cerita ini, yakni aspek dunia iblis dan segala balatentaranya, dan –lebih penting lagi– aspek rasa bersalah dan pengampunan, yang merupakan turunan dari doktrin dosa asal dalam Kristen.

Oleh Ennis, doktrin-doktrin tentang iblis dan dosa itu dijungkirbalik. Tergambar, misalnya, percintaan terlarang antara malaikat lelaki dan demit perempuan. Percintaan itu mengakibatkan si malaikat terusir dari surga, sayapnya dipatahkan, dan hidup di dunia modern ini dengan jiwa yang hancur. Constantine sendiri, yang dalam darahnya mengalir darah demit, jadi agen pengacau neraka dan musuh yang paling dibenci Iblis, sang penguasa neraka. Menariknya, karena kemampuan Constantine memanipulasi bahkan para penguasa neraka, Iblis pun sempat terbuang dari neraka, terpaksa hidup di sela-sela manusia.

Steve Dillon sang penggambar sangat menyukai menggambar ekspresi wajah dengan berbagai rentang emosionalnya. Ini cocok sekali dengan keinginan Ennis mengisahkan aspek batin dan sisi gelap jiwa manusia. Ennis banyak menjelajahi aspek cerita Constantine, sang manipulator ulung, yang selalu kesulitan menjalin hubungan apapun dengan siapapun. Para kekasih, kerabat, dan keluarganya cenderung jadi korban petualangan Constantine. Dan sifat Constantine yang menonjol adalah selalu menciptakan musuh-musuh baru, karena ia selalu bersiap jadi bajingan tengik demi kebaikan lebih besar yang ia perjuangkan.

Hellblazer, no. 73. (Vertigo/DC Comics) w/a: Garth Ennis, Steve Dillon

Hellblazer, no. 73. (Vertigo/DC Comics) w/a: Garth Ennis, Steve Dillon

Dengan perhatian kuat pada ekspresi wajah, Ennis mengolah rasa bersalah Constantine yang selalu bertambah setiap kali jatuh korban orang-orang dekatnya. Juga, Ennis dan Dillon tampak asyik sekali mengolah saat-saat jahat Constantine, ketika ia berhasil menipu lawan-lawannya.

Di samping gemar mengolah emosi, duet Ennis-Dillon juga sangat kreatif mencipta kekerasan dalam komik-komik mereka. Ini terbukti konsisten dalam seri-seri mereka selanjutnya, yakni Preacher dan seri Punisher untuk Marvel Comics. Semakin lama, semakin tampak bahwa (terutama) Ennis memang gandrung memarodikan kekerasan –bahkan lebih “tega” dari Frank Miller dalam seri Sin City yang juga sering menutur kekerasan sedemikian eksplisit sehingga sampai ke tahap parodi.

Setelah ditinggalkan Ennis dan Dillon, Hellblazer disinggahi banyak penulis dan penggambar piawai, dan menciptakan perkembangan menarik terhadap dunia Constantine. Yang sangat patut dicatat, rangkaian kisah hasil kerjasama antara Paul Jenkins (penulis) dan Sean Phillips (penggambar). Keduanya (lagi-lagi) dari Inggris. Cerita-cerita mereka sebetulnya cukup penting dan sangat menarik dalam jagat Constantine, tapi entah kenapa pihak Vertigo/DC tampak tak tertarik mengumpulkannya dalam bundel TPB.

(1.b.)

Dalam periode ini, Vertigo banyak meluncurkan miniseri dan kisah-kisah tunggal (one shots) dengan ragam tema dan gaya senirupa yang bermacam-macam, walau umumnya masih dalam lingkup genre fantasi-horor.

Misalnya, miniseri enam nomor The Last One (J.M. DeMatteis & Dan Sweetman), dengan prosa yang sangat liris dan pendekatan seni lukis-campur-gambar yang sureal. Kisah ini bercerita tentang makhluk pertama di alam semesta, yang mirip gambarannya dengan konsep alam malakut dalam Islam, dan bagaimana ia jadi yang terakhir dari jenisnya serta masih hidup di alam modern ini dengan melalui berbagai periode (termasuk jadi ilham bagi Victor Hugo, menjadi bagian Hollywood yang mistik dan misterius, dan sebagainya).

Cuplikan The Last One, no. 5. Vertigo/DC Comics. w/a: Jim DeMatteis, Dan Sweetman.

Cuplikan The Last One, no. 5. Vertigo/DC Comics. w/a: Jim DeMatteis, Dan Sweetman.

Atau miniseri enam nomor American Freak: a Tale of The Un-Men (Dave Louapre & Vince Locke), tentang seorang remaja yang menemukan dirinya adalah hasil eksperimen genetik, dan perlahan mengalami deformasi tubuh menjadi monster. Atau novel-novel grafis Mystery Play (Grant Morrison dengan lukisan dari Jon J. Muth) yang bercerita tentang pembunuhan pemeran Tuhan dalam sebuah sandiwara di desa Inggris, oleh entah siapa –tersangka utamanya, pemeran iblis! Atau novelgrafis The Eaters (Peter Milligan & Dean Ormston), tentang keluarga kanibal dan nilai-nilai kekeluargaan mereka yang menyempal tapi “manis”.

Dalam periode ini pula, Vertigo banyak menerbitkan miniseri untuk pembaca dewasa yang sebelumnya diterbitkan DC Comics, dikemas ulang menjadi novel grafis sebagaimana agaknya memang dimaksudkan demikian oleh para pencipta komik-komik itu. Misalnya, Tell Me, Dark (John Ray Nieber dengan lukisan dari Kent Williams), sebuah kisah vampir yang sureal. Atau Breathtaker (Mark Whaetley & Marc Hempel), yang seni gambarnya benar-benar breathtaking (mendebarkan), tentang seorang gadis yang menyedot usia setiap orang yang menciumnya.

Vertigo bahkan mengambil sebuah maksiseri (cerita duabelas nomor) yang pernah diterbitkan sebagian oleh saingan DC, Marvel Comics, yakni Moon Shadow (J.M. DeMatteis & lukisan oleh Jon J. Muth). Juga, menerbitkan ulang miniseri empat nomor, Blood: a Tale (J.M. DeMatteis & Kent Williams), yang merupakan salah satu komik fantasi terbaik yang pernah ada menurut hemat saya.

Blood: A Tale, no. 2. Vertigo/DC Comics. w/a: Jim De Matteis, Kent Williams.

Blood: A Tale, no. 2. Vertigo/DC Comics. w/a: Jim De Matteis, Kent Williams.

Tapi, ada sebuah seri yang terbit dalam periode ini, yang semakin menegaskan identitas Vertigo di periode awal ini: seri The Invisibles karya Grant Morrison. Seri ini penuh keanehan khas Morrison, dan temanya pun berputar pada, lagi-lagi, perbenturan antara “yang nyata” dan “yang bukan-nyata”.

(2)

Dari generasi awal  itu, tampak strategi awal Vertigo dalam menghasung komik dewasa itu. Pertama, Berger menekankan keutamaan cerita. Ia lebih mengutamakan penulis, dan baru penggambar. Sejauh para penggambar itu adalah jurucerita visual yang mumpuni, Berger akan memberi keleluasan penuh. Termasuk, membebaskan para seniman gambar itu menggunakan teknik lukisan, yang untuk ukuran komik Amerika saat itu terhitung mahal untuk diproduksi.

Kedua, ia menyanggakan lini Vertigo di masa awal itu pada miniseri. Untuk wahana eksperimentasi komik, modus miniseri memang sebuah pilihan pas. Ia cukup lentur untuk mencapai panjang yang diperlukan bagi terciptanya cerita-cerita utuh dan “novelistik”, tapi juga cukup pendek sehingga risiko kerugian atas sebuah seri panjang yang gagal bisa diminimalisir. Dengan pilihan pada format miniseri ini pula, penerbit bisa menjajaki apakah memang cerita yang diterbitkan itu bakal laris jika diterbitkan dalam format “novel grafis” yang utuh.

Malah, hal terakhir menghasilkan akibat yang menguntungkan –sengaja atau tidak. Salah satu akibat samping dari modus miniseri ala Vertigo itu adalah terciptanya pasar bagi novel grafis terbitan Vertigo. Sebab, dengan format bulanan ala komik arusutama Amerika selazimnya, cerita terpecah-pecah, dan tampilan yang seperti majalah/pamflet itu mengurangi kenikmatan membacanya. Akibatnya, para pembaca yang kadung jatuh hati pada sebuah cerita yang terbit dalam bentuk miniseri itu berpeluang akan membeli format “novel grafis” atau TPB cerita tersebut.

Strategi ketiga, dalam masa awal penerbitan Vertigo itu adalah tekanan pada genre fantasi-horor. Genre fantasi dalam sejarah sastra Barat modern memang cukup mengakar dalam kesadaran populer di Inggris dan Amerika. Salah satu varian penting dari cerita fantasi adalah science fiction, dengan subgenre superhero di dunia komik. Jika semenjak 1959 (mula era silver age di DC Comics), atas arahan editor Julius Schwartz, subgenre superhero di DC ditekankan unsur sains-nya, maka dalam naungan Vertigo, subgenre itu ditekankan unsur fantastiknya.

Dengan contoh dari Swamp Thing-nya Alan Moore dan Sandman-nya Gaiman, unsur fantastik itu diarahkan/dikawinkan pula dengan unsur horor. Dengan tekanan pada unsur horor itu, maka terbuka peluang untuk menjelajahi sisi gelap kejiwaan dan hidup manusia –dengan wahana metafora fantastik genre superhero itu.

Dan, mumpung sedang mengolah subgenre superhero, maka DC Comics juga menemukan jalan lain mendiversifikasi bisnisnya: mendaur-ulang properti lamanya, yakni karakter-karakter superhero dari masa silam DC maupun milik perusahaan komik lainnya yang diakuisisi oleh DC.

Banyak dari karakter lama itu sudah tak punya basis pembaca remaja atau kanak yang sejak 1940-an hingga kini jadi tumpuan utama pasar komik arusutama Amerika. Dengan di-“dewasa”-kan, karakter-karakter itu jadi punya pamor terhormat, mentereng, dan bisa meraih pembaca dewasa. Jenis pembaca dewasa yang dirangkul ada dua macam: (1) para pembaca dewasa yang sewaktu kecil membaca komik, tapi sudah lama meninggalkan komik; (2) pembaca dewasa baru, yang tertarik pada genre fantastik-horor dalam bentuk apapun (novel, film, dan –mengapa tidak?– komik).

Jenis pembaca pertama disentuh dengan unsur nostalgia, sekaligus kejutan bahwa “komik bisa dewasa”; atau, lebih tepat, “komik telah ikut dewasa bersama dewasanya para pembaca itu”. Jenis pembaca dewasa kedua, bisa jadi tersentuh oleh getok tular para pembaca jenis pertama. Bisa juga mereka tersentuh oleh liputan media yang, sejak Swamp Thing, Watchmen, Batman: The Dark Knight Returns, dan kemenangan Mauss meraih penghargaan khusus Pulitzer di bidang sastra, tampak menaruh minat pada perkembangan menarik di dunia komik Amerika itu.[2]

BERSAMBUNG


[1]MEDIA; At House of Comics, a Writer’s Champion” (p. 2), by Dana Jennings, The New York Times, September 15, 2003. Bisa dilihat di: http://www.nytimes.com/2003/09/15/business/media-at-house-of-comics-a-writer-s-champion.html

[2] Identifikasi jenis-jenis pembaca dewasa komik-komik ini bisa diverifikasi dalam rubrik surat pembaca yang pada 1990-an masih banyak disertakan dalam terbitan bulanan komik-komik arusutama Amerika, termasuk terbitan lini Vertigo.

Written by hikmatdarmawan

February 24, 2014 at 10:14 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren mas tulisannya, baru tau ada orang indo yang lumayan bagus juga tulisannya dalam ngejelasin komik

    Diar

    March 31, 2016 at 9:51 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: