But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

TIGA IMPRESI PERNIKAHAN

with 4 comments

[Saya harus rajin mengarsip tulisan-tulisan saya. Sekarang, arsip cerpen juga deh, ya. Ini pernah saya tulis sebagai hadiah untuk pernikahan Beng Rahadian dan Lulu Ratna.]

Gillian Anderson, just because... :P

Gillian Anderson, just because…😛

 

SAAT TERBAIK DALAM PERNIKAHAN

Mimi merasa terlalu muda untuk memberikan dirinya sepenuhnya, hingga akhir usianya nanti, kepada pernikahan itu. Ia tak pernah mengenal lelaki lain, tidak seperti ia mengenal dan dikenal Koko. Ia belum menjalani dunia lain, padahal Mimi masih mendaki usia puncaknya. Ia perlu dunia lain, ia perlu kemungkinan lain itu. Sayangnya, pikiran itu datang terlambat. Mimi sudah kadung menikah dengan Koko. Toh ia coba juga menyampaikan pikirannya kepada Koko. Ia ingin bercerai.

Koko, memahami dan dalam hati membenarkan kebutuhan itu, tapi pada saat yang sama merasa bahwa pernikahan mereka adalah sebuah titik balik hidupnya yang telah kadung dilampaui, dan merasa tahu pasti bahwa untuk bercerai berarti ia menihilkan titik balik itu, sehingga tak bisa melakukan apapun kecuali marah dan menampar Mimi. Koko bilang, aku tahu pernikahan ini tak sempurna, tapi jangan setiap kali kita ketemu masalah lantas kamu kepingin cerai!

Setelah beberapa kali Mimi bertanya hal yang sama, dan setiap kali Koko marah dan menampar Mimi (dan, belakangan, Mimi selalu membalas menendang Koko), akhirnya Koko tak bisa meneruskan ilusi bahwa Mimi tidak serius dan bahwa permintaan Mimi itu tidak sah dan bisa diabaikan. Koko ingin sekali mengabulkan permintaan Mimi, apabila memang itulah yang terbaik yang ia bisa berikan pada Mimi –membiarkan Mimi hidup, bebas, terbang seperti burung liar. Masalahnya, Koko masih berharap bahwa perceraian mereka melahirkan yang terbaik bagi mereka berdua.

“Mi, aku mau saja mengabulkan permintaanmu. Masalahnya, keputusan cerai seharusnya diambil bukan karena kita reaksioner terhadap keburukan yang terjadi dalam pernikahan kita, mengerti? Cerai seharusnya bukan karena kita nggak betah lagi dengan pasangan kita, atau merasa tak enak, atau hal-hal remeh semacam itu. Cengeng amat kita, kalau begitu. Aku ingin kita bercerai pada saat terbaik pernikahan kita. Dengan demikian, keputusan cerai itu menjadi sebuah keputusan yang sehat bagi kita berdua.”

Hm, pikir Mimi, masuk akal juga. Ini demi kebaikan bersama. Sejak itu, Mimi dan Koko rukun menanti saat terbaik untuk perceraian mereka. Mereka bekerja sama sebaik mungkin agar saat itu tiba dan mereka akhirnya bisa bahagia.

Tapi saat itu tak pernah tiba. Pernikahan mereka tak pernah cukup baik sehingga mereka bisa bercerai. Mimi, yang merasa sambil menunggu ia harus melakukan sesuatu, kemudian membangun ruangan sendiri dalam pernikahan itu. Kadang-kadang Koko merasa tersisih jika Mimi sedang memasuki ruangan itu, tapi Koko menelan saja perasaan itu. Mimi berhak sepenuhnya demikian, begitu Koko membatin …aku toh bukan suami yang baik baginya.

Makin lama, makin sering dan makin lama pula Mimi tinggal di ruangan pribadi itu. Koko bisa saja marah-marah setiap kali ia merasa kesepian yang keterlaluan jika Mimi tak di sisinya, tapi ia tak bisa terlalu banyak marah-marah. Akhirnya ia menerima kesepian-kesepian itu sebagai takdir pernikahannya. Lama-lama ia ikut mengharapkan perceraian mereka. Ia penasaran juga, apa tak bisa ia mendapatkan saat terbaik dalam pernikahan mereka. Namun penasaran adalah perasaan yang semu. Setelah ia lebih matang, rasa penasaran diganti rasa kepasrahan. Barangkali saat terbaik itu tak akan pernah tiba, dan Koko tak ingin menyia-nyiakan hidup Mimi lebih jauh.

Ia berunding dengan Mimi, dan mereka bersepakat, ya sudah, kalau memang sekarang saatnya, que sera sera, lebih baik mereka melakukannya segera. Sekarang adalah saat yang sama saja dengan saat lain. Mereka kemudian mengumpulkan seluruh keluarga mereka, mengumumkan perceraian mereka, dan berharap agar ini menjadi sebuah berkah bagi semua, terutama bagi Mimi (kata Koko, menatap mesra istrinya yang punya daya hidup tinggi itu) dan bagi Koko (kata Mimi, dengan sebat, matanya berbinar).

Salah seorang keluarga mereka merasa perlu memberi sambutan. “Mimi dan Koko yang baik, saya tak terlalu mengerti mengapa kalian merasa harus berpisah. Tapi jika itu demi kebahagian kalian berdua, mengapa tidak? Cinta, kebahagiaan, dan pernikahan, memang adalah konsep-konsep yang aneh, abstrak tapi konkret, dan tak selalu saling mendukung. Kalau kalian menganggap kebahagiaan adalah yang utama dibanding yang lain, demi Tuhan, kejarlah kebahagiaan itu! Kami semua mendoakan kalian berdua dalam menjalani perjalanan bahagia kalian,” kata Naufal, cucu sulung mereka yang baru ulang tahun ke-26 minggu lalu. Seluruh keluarga, ketujuh anak Koko dan Mimi serta para pasangan dan anak-anak mereka, membenarkan. Mereka pun berpesta sampai larut malam, merayakan perceraian itu. Koko dan Mimi merasa, itulah saat terbaik pernikahan mereka.

 

========

 

DALAM KABUT, KITA!

 Dalam kabut kita bergerak seperti sebuah slow motion. Kabut nan lembut, dan cinta seperti es krim –seperti kata Sarah McLachlan yang suaranya lezat seperti es krim vanilla. Ada bayang-bayang yang juga bergerak perlahan. Inikah surga? Inikah neraka? Kita berbisik, seperti takut kabut akan pecah. Kita berbisik, berpegangan tangan, ke mana kah angan telah membawa kita? Angan, harapan, begitu berbedakah mereka? Apakah genggaman tangan ini sebuah angan? Kabut, kabut, menyaput arah, tapi kita bergerak dalam ilusi bahwa kita punya arah. Dunia masih seperti slow motion. Kabut adalah pupur untuk sebuah duka. Kita berduka, karena kita telah terlahir dalam takdir sepi –karena itukah kita bergenggaman tangan dalam kabut ini? Dunia masih seperti slow motion, sebuah gerak kamera yang likat, merekam sebuah dunia yang kabur, baur, tanpa arah, seakan ruang tanpa waktu. Dan hanya kita berdua saja. Kabut tak berwaktu: tidak gelap, tidak pula terang.

Akankah terang nanti mengabarkan bahwa kita berdua, sesungguhnya sedang meniti gumpalan awan 20.000 kaki di atas laut?

 

=======

 

TENTANG CINTA DALAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI KUANTUM: SEBUAH KEMUNGKINAN PERADABAN ALTERNATIF

Mr. Abelard, Ph.D., dalam ceramahnya di Aula Hotel Moya Aura, 26 Agustus 2003, melontarkan untuk pertama kali kepada publik Indonesia mengenai langkah-langkah programatis membangun peradaban alternatif dalam naungan pemaknaan antropologi-kuantum. Antropologi-kuantum sendiri adalah sebuah pendekatan yang telah dirintis oleh Mr. Abelard, Ph.D. sejak pertengahan 1960-an, di tengah maraknya gerakan psikedelik di dunia akademis Amerika. Para tokoh ilmuwan psikedelik, yang pada awal 1970-an terkenal dengan gerakan “Konspirasi Gemini”, seperti Dr. Thomas Leary, Dr. Noam Chomsky, Sir John Lennon, dan terutama Mr. Abelard, Ph.D., pernah terkenal dengan tawaran mereka untuk meruntuhkan peradaban kapitalis modern dan menggantinya dengan peradaban Homo Ludens. Gerakan mereka dianggap gagal karena tak mampu menawarkan proposal kongkret untuk masyarakat dan secara de facto dianggap telah bubar pada 1983, ketika Sir John secara terbuka menyatakan bahwa ia telah beralih ke gerakan Mod yang bertujuan meruntuhkan segala manifestasi kekerasan agama di seluruh dunia. Pada 2000, Sir John ditangkap oleh rezim teokrasi George Bush Jr., melalui tangan “algojo dari Selatan” Bill O’ Railley, dan sampai kini dalam detensi di Pulau Guantanamo. Menurut berbagai laporan, kejadian yang menimpa Sir John sempat membuat Mr. Abelard, Ph.D. depresi akut dan mengucilkan diri di salah satu pulau di kepulauan seribu di lepas pantai Jakarta. Baru pada awal 2003 Mr. Abelard, Ph.D. kembali menampakkan diri ke publik. Sebagai rasa terima kasihnya pada bangsa Indonesia, khususnya warga Kepulauan Seribu yang menurutnya, “memberi inspirasi dan penyegaran luar biasa terhadap mekanika kuantum otak saya yang telah lama kehilangan energi string-nya”, Mr. Abelard, Ph.D. menyatakan akan melontarkan proposal terbarunya pada dunia di Jakarta. Inti proposal itu adalah perkembangan logis dari ide-idenya ketika aktif dalam Konspirasi Gemini dulu. Kesalahan utama gerakan terdahulu, kata Mr. Abelard, Ph.D., mereka tak menggunakan logika kuantum untuk sebuah gerakan yang bersifat kuantum. Masalahnya, lanjut Mr. Abelard, Ph.D., gerakan terdahulu belum menemukan partikel kuantum yang dibutuhkan untuk gerakan mereka. Namun perkembangan mutakhir di bidang fisika murni, dan sebuah temuan kecil dari Dr. Kim Im Ho di bidang kosmo-kimia, telah memberi peluang baru bagi Antropologi Kuantum. Dr. Kim Im Ho menghabiskan 20 tahun terakhir menyelidiki peran dari zat kimia ilusif bernama Cinta (XO4H9) dalam evolusi kosmos. Sejak pertama kali ditemukan pada 1908, oleh pasangan Dr. Vincent dan Marie Curie, zat Cinta dianggap zat yang tak jelas gunanya. Sebagian ilmuwan merasa zat ini penting sekali, tapi mayoritas komunitas ilmu belum bisa memastikan gunanya apa. Zat ini dianggap terlalu tak stabil, terlalu tak bisa ditebak. Temuan Dr. Kim Im Ho sederhana saja, yakni adanya fluktuasi yang konsisten dalam medan gravitasi di setiap ruang yang mengandung kadar zat Cinta lebih dari 440 pht. skala Hamzah. Fluktuasi itu mengakibatkan dampak bermacam-macam. Dalam sebuah percobaan, fluktuasi itu menyebabkan halusinasi kelompok pada 20 pria dan 20 wanita berusia 20-35 tahun. Dalam percobaan lain, fluktuasi itu menyebabkan peningkatan adrenalin pada kelompok yang sama. Ketika dosis zat Cinta ditingkatkan hingga 2200 pht., setiap subjek penelitian melaporkan pengalaman yang tak bisa diungkapkan kata-kata, yang secara tak memuaskan hanya bisa digambarkan sebagai sesuatu yang “indah”. Dalam dosis setinggi itu, zat Cinta telah mengubah peristiwa ilmiah menjadi sebuah peristiwa nonilmiah. Persis itulah yang menjadi inti usulan Mr. Abelard, Ph.D. “Masyarakat kita,” kata Mr. Abelard, Ph.D. dengan antusias, “telah terlalu lama terbenam dalam mekanika ilmiah. Kita perlu mengacaukan itu, dan memulai lagi dari awal.” Dalam usulan itu, Cinta adalah elemen Chaos yang diperlukan untuk sebuah revolusi dua langkah: revolusi membuyarkan sifat ilmiah masyarakat kita, dan kemudian revolusi membangun masyarakat Kuantum yang sesungguhnya. Banyak detail usulan yang sangat bersifat praktis dari Mr. Abelard, Ph.D., semua mengacu pada pemanfaatan lebih lanjut zat liar bernama Cinta itu. “Inilah tantangan peradaban kita saat ini,” tegas Mr. Abelard, Ph.D., “yakni men-Cinta, atau musnah.”

 

Written by hikmatdarmawan

April 20, 2014 at 2:37 pm

Posted in cerpen

Tagged with ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kang Hikmat ngikuti serial Crisis? Baru tayang beberapa episod, mbak Gillian main di situ🙂

    Haris

    April 20, 2014 at 4:00 pm

    • iya, gillian main di situ, ya. belum nonton sih. tapi emang pingin ngikutin itu seri, kayaknya seru ya.🙂

      hikmatdarmawan

      April 20, 2014 at 4:46 pm

  2. tanggal pembuatan masing-masing tulisan dicantumkan dong mat..

    menoel

    April 21, 2014 at 5:54 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: