But, Seriously…

Daily Diets of an Ephemeral Cultural Stalker

MENEMUKAN “LOCHNESS” DI POSO

with one comment

Catatan: Sebuah arsip lagi, tulisan saya pada 2005. Itu saat saya mulai sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia, untuk kepentingan pelatihan dan ceramah.

=====

Foto diunduh dari pariwisataposo.blogspot.com

Foto diunduh dari pariwisataposo.blogspot.com

Saya benci ketinggian. Saya benci terbang. Dan pada 33.000 kaki di atas laut perjalanan saya ke Palu (untuk kemudian ke Poso), saya menatap keluar jendela pesawat, memaki dalam hati, “kalau bukan gara-gara komik, saya nggak bakal di sini!”

Perasaan itu pulalah yang mengendap di benak saya sepanjang saya di Poso (tepatnya di Siuri, kompleks cottage di Tentena), 6-7 jam dari Palu. Saya di sana pada 15-18 Mei 2005, dan pada 19 Mei 2005 pagi, saya pulang ke Jakarta –lagi-lagi dengan pesawat (arrgh!). Kalau bukan gara-gara komik, saya mungkin tak bakal ke daerah konflik macam Poso, atau ke Madura tahun lalu.

Saya ke Poso diundang oleh Common Ground Indonesia (CGI) untuk menjadi salah satu fasilitator dalam workshop “Media dan Transformasi Konflik”. Sebetulnya workshop ini adalah pembekalan para calon pendamping dalam program komik pendidikan CGI, seri Poso. CGI adalah salah satu LSM yang punya program serius sehubungan dengan komik. Di tengah lesunya produksi komik Indonesia, komik-komik “proyek” pesanan LSM lumayan jadi fenomena menarik.

Selain CGI, paling tidak ada 2 komik “proyekan” yang menurut saya bagus dan fenomenal. Petualangan Wening dkk., Selalu Ada Jalan Pulang (terbitan ICMC), sebuah komik pendidikan/pembekalan untuk para TKW, terutama fenomenal karena jumlah eksemplarnya 100.000 –mungkin cetakan terbanyak untuk komik Indonesia. Semuanya dibagikan gratis kepada para calon TKW. Komiknya, digambar oleh M. Ariv Russanto & Didi Purnomo, sendiri lumayan bagus (gambarnya, maupun ceritanya), dicetak berwarna, dan lumayan tebal.

Yang kedua, komik tentang pengungsi dari LSM Baris Baru, berjudul Mereka Yang Mengungsi. Barangkali, ini salah satu novel-grafis Indonesia mutakhir yang terbaik dari segi gambar (oleh Chedarr). Dalam warna hitam putih, tarikan garisnya sangat kuat dan penggambaran setting serta pengadegannya terhitung luar biasa. Ceritanya pun cukup dramatis dan nyastra –hampir tak terasa sebagai komik “proyekan”. Sayang komik ini tak dijual untuk umum, dan saya belum mendengar komikusnya bikin komik lain.

CGI sendiri terhitung paling serius meluncurkan program komiknya. Yang pertama meluncur adalah seri Gebora, untuk para remaja di Kalimantan dan Madura. Seri ini sudah terbit 12 judul, masing-masing setebal 48 halaman, dicetak berwarna, dengan format seukuran komik Amerika, tapi dengan sampul dan kertas yang lebih tebal. Kalau tak salah, masing-masing terbit 12.000 eksemplar. Sebagian dari komik itu dibagikan sebagai ujicoba di Poso-Tentena.

 

Perang Agama, Damai Etnik

Kita tahu, Poso-Tentena adalah salah satu wilayah konflik agama paling keras di Indonesia pascareformasi. Konflik itu sudah merupakan perang agama. Saya dan rombongan kecil dari Jakarta datang dari Palu tiba di Poso larut malam. Di pos perbatasan Poso-Parigi, kami distop dan diperiksa oleh aparat keamanan yang jaga (dari kesatuan Brimob).

Kira-kira semenit setelah meninggalkan pos, listrik di Poso (di sebagian besar wilayah kabupaten itu) mati. Wah! Rupanya sih ini peristiwa biasa, karena jatah PLN terbatas (kayak Jakarta pada awal 1980-an saja). Tapi buat saya yang terbiasa pada terang Jakarta dan terhantui cerita-cerita perang di Poso, kan mencekam juga menyusuri jalan gelap dan pos demi pos jaga itu.

Toh perjalanan lancar. Rata-rata orang Tentena-Poso yang saya temui selalu meyakinkan saya bahwa Poso telah aman. Kalau dikorek-korek sedikit, beberapa mengakui memang kadang masih terjadi pemboman dan pembunuhan atau aksi massa provokator. Tapi konflik antara Muslim di Poso dan Kristen di Tentena, secara umum, telah mencapai titik damai. “Kami sudah capek, perang terus!” kata Jimi, mantan combatan dan salah satu komandan elite milisi Kristen yang kini aktif di Crisis Centre dan bekerja untuk proses perdamaian.

Tentu saja perdamaian ini masih dalam proses. Saat ini terjadi segregasi atau pemisahan wilayah antara penduduk Muslim (di Poso) dan penduduk Kristen (di Tentena), yang masih sukar dicampurkan. Fadian, seorang aktivis perdamaian dan pegawai pemda, bercerita tentang Taman Anggrek di Tentena yang sebelum konflik selalu ia kunjungi –seringkali bersama rekan-rekan peneliti dari Jawa (ia rupanya berlatar pendidikan biologi). Taman Anggrek itu lahan penelitian botani dan hewani yang luas –di sana, misalnya, ada anggrek hitam yang hanya ada di Indonesia/Sulawesi. Tapi sudah empat tahun ini ia tak pernah lagi ke sana. “Setelah konflik, tak ada muslim berani ke sana,” katanya. Ia tak tahu apakah Taman Anggrek yang merupakan kekayaan dunia itu masih terpelihara atau tidak.

Toh proses itu ada. Sekarang, Jimi dan beberapa mantan combatan Kristen lain duduk bersama Ibrahim, mantan combatan Islam (salah satu komandan juga), tertawa-tawa bertukar cerita tentang perang. Kalau sudah ngobrol begini, mereka bisa begadang semalaman. Dasarnya orang Poso-Tentena rupanya adalah para periang dan pelawak. Mereka alamiah saja melucu, melontar anekdot, dan tertawa terbahak-bahak. Rupanya perang yang mengerikan itu menyimpan banyak juga cerita lucu.

Di antara mereka, tampak Alex, aktivis crisis centre GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah), memakai kaos bertuliskan Arab Laa Ilaha Illallah. Para peserta workshop bercampur antara mereka yang menggunakan kalung salib dan berjilbab. Seperti kata Jimi, mereka (para aktivis perdamaian) kini sudah amat kompak: “Kalau ada aparat sedang mencari Ibrahim, misalnya, ia akan kami sembunyikan. Demikian juga kalau aparat yang mencari saya, Ibrahim akan menyembunyikan saya di daerah muslim.”

Baik para aktivis, para mantan combatan, maupun mantan pengungsi yang kini jadi penduduk biasa yang hidup dalam segregasi itu, rata-rata kini merasa bahwa perang agama itu dibikin oleh pihak ketiga dari luar. Sekarang, berbagai simpul damai sedang diikatkan kembali. “Kami lihat, budaya kami, etnik kami, bisa menyatukan kami lagi,” kata Jimi. Makanya acara-acara seni macam pentas Tari Dero (sejenis tari gaul ajang cari jodoh) dan festival budaya Poso September nanti bakal terus dihidupkan lagi.

 

Monster (semacam) Lochness?

Salah satu milik bersama rakyat Poso adalah Danau Poso. Di tepi danau inilah festival budaya seringkali diadakan. Danau ini memberi sensasi unik bagi rombongan kecil kami dari Jakarta. Di tepi danau, kami menatap debur ombak menghantam pantai dengan keras. Kami datang di saat musim ombak. Ombak? Pantai? Ya, danau ini bak laut saja tampaknya. Tapi begitu angin tenang, ombak reda, dan saya memberanikan diri masuk danau –airnya tawar! Maka percayalah kami, ini memang danau.

Ternyata danau ini menyimpan legenda besar. Orang sekitarnya menyebut itu legenda “lampu danau”. Heh, rasanya culun memang nama ini. Setiap malam, selalu ada cahaya yang hilang timbul sepanjang malam, yang berjalan cepat di beberapa bagian danau. Cahaya itu kecil saja. Saya melihatnya, dan kalau tak diberitahu Jimi, pasti saya mengira itu lampu kapal nelayan. Jimi menerangkan mengapa itu tidak mungkin. Kebetulan memang saat saya menyaksikan itu, ombak sedang besar dan hujan membungkus danau. Gerak-geriknya juga, menurut Jimi, tak serupa dengan gerak-gerik boat. Lagipula kadang cahaya itu berpendar kuning, kadang berpendar biru.

Dalam bahasa awam orang sekitar, “lampu” itu dipercaya bagian tubuh seekor naga. Entah matanya yang menyala, atau mungkin kulit tubuhnya yang barangkali terlapis fosfor. Lho, apa hubungannya cahaya itu dengan naga? Apa ada penampakan? Saya banyak disaran untuk mengobrol dengan orang-orang tua yang tinggal di kampung-kampung sekitar danau. (Sayang saya tak punya waktu banyak di sana!) Penampakan terakhir, kata Jimi, pada 1986.

Waktu itu, penduduk salah satu kampung di tepi danau Poso melihat sesuatu yang berenang melintas danau di siang bolong. Mereka mengira itu kijang, karena kijang dikenal sebagai perenang yang tangguh. Dengan antusias mereka ramai-ramai ke perahu motor mereka, mengejar “kijang” itu. Sekitar 20 m. dari si makhluk (perahu paling depan malah hanya sekitar 10 m. dan awaknya sudah bersiap menombak makhluk itu), terlihatlah oleh mereka bahwa makhluk itu sama sekali bukanlah kijang!

Makhluk itu, kata sebagian orang, berkepala seperti kuda. Tubuhnya menjulur seperti ular raksasa, hilang timbul meliuk-liuk di permukaan danau. Para penduduk kampung itu pun bubar dengan panik, terbirit-birit kembali ke tepi. Untuk beberapa saat, sang makhluk itu berenang dengan gemilang di siang bolong itu.

Saya tentu saja terpana. Apalagi ketika Jimi bilang bahwa salah satu cara untuk memancing “lampu danau” agar menampakkan cahayanya adalah dengan menyalakan lampu motor dan menderamkan mesin motor kita ke arah danau. Saya teringat pada sesuatu yang saya baca sewaktu kecil: monster danau Lochness! Seingat saya, salah satu yang konon memancing keluar si Nessie (panggilan akrab sang monster) adalah memang lampu dan deram mesin motor.

Dari sejumlah karakter danau Poso yang saya dapati saat itu, memang banyak persamaannya dengan danau Lochness. Danau Poso terletak di pulau dengan kontur berbukit-bukit seperti lingkungan Lochness di Skotlandia sana. Luas danau Poso adalah 39 X 12 km. Volume airnya lebih besar daripada danau Toba, karena danau Poso tak punya pulau di tengahnya seperti Toba. Menurut Fadian, ada penelitian yang mencatat bahwa di danau Poso ada palung dengan kedalaman mencapai 1300 m.

Salah satu teori tentang monster Lochness adalah ia/mereka merupakan makhluk yang tinggal di laut dalam, dan sesekali masuk ke danau karena ada semacam terowongan di kedalaman danau itu yang menghubungkan Lochness dan laut. Saya tanya kemungkinan itu kepada Jimi. Ia bilang, mungkin saja. Ia ingat, kakaknya pernah membuat skripsi tentang temuan sejenis ikan purba di danau Poso. Penduduk setempat menyebutnya ikan Bongo, berbentuk seperti ikan gabus.

Kakak Jimi mendapati info tentang ikan Bongo (dan mendapati bahwa ini sejenis ikan purba) dari sumber yang jauh dari Poso: di perpustakaan IPB, dan dari sebuah dokumen penelitian yang dikirim dari Jepang. Menurut dokumen itu, ikan Bongo sama dengan ikan Putri (terjemahan dari nama Jepangnya) yang di Jepang sendiri telah punah. Nah, pernah ketika sebuah gunung di dekat laut meletus, ikan-ikan Bongo di danau Poso tampak bermatian karena panas. Jangan-jangan, kata Jimi, memang ada semacam terowongan di kedalaman danau Poso yang terhubung ke laut.

Wah! Ini sebetulnya bisa jadi bahan penelitian yang menarik. Saya ingat, legenda Lochness ternyata bukan eksklusif milik danau Lochness. Di seluruh penjuru dunia, di danau-danau dengan karakter serupa Lochness, penampakan serupa Nessie memang sering dilaporkan. Saya lupa, apakah dulu danau Poso disebut-sebut juga dalam soal ini. Teman saya serombongan dari Jakarta, Indrajati dari Yayasan ARTI, mengomel akan tiadanya di Indonesia minat meneliti danau sedahsyat Poso ini. Saya mendesah, dan sepakat.

Saya pun melamun: paling tidak, danau ini –juga seluruh Poso dengan segala pengalamannya sebelum, selama, dan sesudah konflik– bisa jadi bahan menarik untuk cerita komik.

 

Komik untuk Poso

Program komik untuk Poso dari CGI masih di tahap penjajagan. Edisi pilot atau no. 0 yang telah dibuat memang bagus, menurut saya, jauh lebih bagus dari seri Gebora. Baik ceritanya, maupun (terutama) gambarnya yang cenderung pada gaya clear line. Tapi itu pendapat saya sebagai pembaca Jakarta, yang punya banyak referensi bacaan komik.

Ternyata di Poso, komik praktis hilang sebagai bacaan umum sejak sekitar 1995. Dulu, akses pada komik didapat dari taman-taman bacaan. Kini taman-taman bacaan itu telah hilang. Kalau mau beli komik, mesti ke Palu dulu, ke toko buku Ramedia (bukan Gramedia). Itupun yang tersedia paling jenis manga. Walhasil, komik kini adalah bacaan elitis. Kebanyakan penduduk Poso tak lagi akrab dengan komik, atau buku secara umum. Bukannya lantas mereka kini miskin info. Satu-satunya akses media mereka kini adalah antene-antene parabola yang bisa menangkap baik siaran TV nasional maupun siaran internasional macam CNN atau Channel 5 dari Prancis.

Dengan kenyataan ini, saya harus mengubah penilaian saya. Walau komik pilot berjudul seri Perjalanan Mencari Sahabat itu memang bagus, tapi ia mengandung banyak konvensi pembacaan komik yang mungkin telah asing bagi para pembaca anak di Poso. Misalnya penyusunan panel dan urutan membacanya, atau idiom-idiom komik macam sound effect, atau penyusunan balon kata dan bagaimana membacanya. Jadilah saya lebih menekankan pada konvensi-konvensi pembacaan itu. Saya juga mempromosikan medium komik mini-fotokopian 8 halaman, yang saya uraikan dalam bentuk komik-mini fotokopian 8 halaman.

Dalam perjalanan pulang, di ketinggian (kali ini) 34.000 kaki di atas laut, saya menatap keluar jendela pesawat. Saya masih benci terbang. Tapi saya semakin mencintai komik, yang telah membuat saya mengalami ini semua.***

Written by hikmatdarmawan

March 24, 2015 at 6:32 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dear Sir
    I am doing a documentary about 20th century culture and would like to use this art that you have the rights to.

    Please indicate how to proceed.
    Thank you
    Zaki Schiff

    Zaki Schiff

    May 1, 2015 at 3:10 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: